Patah hati
diwaktu muda senang hati
ketika Mahasiswa
Patah hati adalah sebuah kata
yang mengerikan untuk kemudian terulang kembali. Mengingatnya akan membuat
perasaan yang sedang tentram menjadi luluh seketika. oh Patah hati, semoga aku
tidak merasakan bertemu kembali dengan engkau, aku muak, dan cukuplah dulu saja
kau hadir di hidupku lalu kau hilang dari pandanganku untuk selamanya.
Perihal tema cerita ini memang menarik untuk kemudian
di share kepada orang lain bukan sebagai bahan tertawaan namun ini hanya
memberi tahukan bahwasanya bila kita patah hati itu rasanya amat
tidak mengenakan hati. Yang pernah merasakannya pasti akan berdampak pada
turunnya nafsu makan secara drastic, mengurung diri di kamar dengan semangat
yang loyo, rasanya dunia ini sudah berakhir aja gitu, padahal kan masih banyak
cewe/ cowo di luaran sana yang sudah layak untuk kita jemput. Namun, Patah hati juga, entah itu karena ditolak cinta atau diputuskan
oleh seseorang atau boleh jadi di duain ( parah banget ) banyak pula manfaatnya
buat kita. Mari kita kupas apa poin terpenting yang bila diambil hikmahnya Oleh
kita. Pertama, boleh jadi dia memang bukan yang terbaik bagi kita dan Tuhan
telah menyiapkan sosok sempurna yang layak dan memang pantas bersanding dengan
kita ( namun terkadang kita kurang teliti menemukan mutiara hikmah tersebut ).
Yang kedua, boleh jadi ketika kita bersama dengannya lalu kemudian berpisah itu
adalah salah satu jalan agar kita semakin dewasa dalam bertindak dan
mengajarkan kita tentang arti pasangan itu sendiri. Karena jalan terbaik untuk
membina hubungan adalah dengan menempelkan label halal pada hubungan tersebut. Selanjutnya
patah hati akan menguji tingkat keimanan kita,
bahwasannya kita jangan terlalu bergantung dan berharap kepada makhluk karena
yang namanya makhluk tentunya banyak sekali kekurangannya.
Cinta,,,, ha ha ha…. indah sekali kata ini. Singkat,
Padat dan berisi. kita patut acungi jempol lah untuk satu kata ini. Dia bisa
masuk ke seluruh karakter orang yang notabenenya berbeda- beda, mulai dari anak
kecil, remaja, orang dewasa bahkan sekaliber kakek- nenek pun bisa ia masuki,,
hebat bukan.? Nah gara- gara cinta ini juga tidak jarang orang menjadi patah
hati. Cinta kadang bisa membuat seorang menjadi bersemangat, bergembira, dan
bisa juga membuat orang hatinya patah. Ketika seseorang mengalami patah hati,
duh sakitnya katanya susah untuk disembuhkan dan sulit mencari penawarnya. Jadi
kita harus berhati- hati untuk menjaga hati supaya tidak terjangkit yang namanya patah hati. Ada
satu formula agar kita terhindar dari virus mematikan ini, yaitu jangan pernah
kita bermain- main dengan hati orang lain. Itulah
solusi ampuhnya. Maka dijamin tuh ga bakalan kita ngerasain patah hati.
Eh malah berkhotbah,, dicukupkan sekian dulu ya
ceramah hari ini, he he, kita cekidot ke pengalaman saya tentang patah hati. Lets
go kawan.
Cerita ini bermula ketika saya duduk di bangku SLTP. Memang
jiwa anak setingkat SLTP tuh labil banget serta punya daya ingin mencoba yang
luar biasa entah itu hal baik ataupun hal buruk sekalipun. pun denga saya yang
termasuk golongan orang yang terhipnotis dengan gemerlapnya masa remaja yang sungguh
ajaib tersebut. KEtika teman- teman saya yang lain punya pacar, hati saya semakin panas kawan, kenapa? karena saya juga
kepengen tuh punya pacar, rasa- rasanya dan jika diamati sepertinya seru juga
punya seorang kekasih, serasa gagah aja kita tuh ( Padahal kenyataannya biasa-
biasa aja tuh tidak ada yang istimewa).
***
Hem….Jadi teringat masa kecil dulu. Ketika itu saya
masih kelas 2 SLTP, tubuh pendek, kecil, masih cupu- cupunya dan polos
ibaratnya kain mukena Ibu yang baru dicucinya, alias putih bersih. Saat itu
mulai ada seorang wanita yang hinggap di hati saya ( cia elah
udah kayak burung aja) maksudnya membuat saya kepincut gituh. Kebetulan dia
adalalah adik kelas saya sendiri. Orangnya itu ramah, murah senyum, dan baik hati lagi. Hal yang unik dan menggelitik saya untuk mulai
ada rasa yang lebih pada dia adalah dia itu ketika bertemu suka cium tangan,
entah apa maksudnya.Hari demi hari semakin bergulir dengan cepatnya. Perasaan
ini makin aneh, tapi disisi lain saya juga tidak mampu untuk ngomong langsung
ke dia bahwa selama ini aku tuh sering merhatiin
dia dari jauh. Aku ingin berterus terang padnya tentang perasaan ini, tapi apa
mau dikata nyali ku ciut saat itu. Apalagi kalau teman- temanku pada tahu kalau
aku tuh lagi suka ama ade kelas sendiri, wah bisa berabe urusannya.
Memang kesempatan itu datangnya hanya seklai saja, makanya
kalau ada langsung saja manfaatkan. Hal yang sama menimpaku, waktu itu karena
ketidak beranian untuk langsung ngomong terus terang akhirnya dia malah
ditembak oleh kaka kelasku sendiri yang akhirnya ia pun menerimanya.
Nasib,,,nasib...
Waktu itu memang bisa dikatakan saya patah hati. Bagaimana tidak orang yang selalu saya perhatikan malah menjadi milik orang lain. Hari- hari
pun dilalui dengan semangat yang tidak seperti biasanya. Karena itulah salah
satu dampak patah hati. Makanya kalau gak
mau ngalamin yang namanya patah hati, jangan
sekali mendekati hal- hal yang berhubungan dengannya.
***
Hidup itu tidak statis alias dinamis. Jangan sampai
karena patah hati kita menjadi putus asa
mengarungi kehidupan ini. Patah hati jangan
dijadikan sumber alasan untuk membuat kita tidak semangat menjalani hidup. Justru
jadikanlah ini sebagai pengalaman berharga suatu saat nanti.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tibalah suatu
waktu dimana saya menjadi panitia Kemah bersama teman- teman di Dewan
Penggalang. Acara yang diselenggarakan merupakan acara kemah dengan peserta
adik- adik SD dan MI yang bertujuan untuk ajang promosi sekolah saya pada saat
itu.
Ketika itu terjadi interaksi yang intens antara sesama
panitia, termasuk saya.
Ada hal yang membuat saya tertarik pada seorang
panitia yan tidak lain adalah adik kelas saya sendiri. Dia orangnya baik hati, ramah dan enak diajak ngobrol. Sebenarnya
tidak ada pendekatan yang cukup berarti saat itu. Setelah sekitar 2 hari
menjalani kegiatan tersebut, entah kenapa rasa itu menjadi semakin tumbuh
layaknya rumput- rumput liar.
Hal yang sama terulang kembali, yaitu merasakan jatuh
cinta kembali kepada seorang wanita. Dan untungnya patah hati terdahulu tidak menjadikan saya trauma.
Tidak ada yang istimewa sebenarnya pada dirinya
tersebut. Namun yang namanya perasaan cinta terkadang bisa tumbuh kapanpun dan
dimanapun. Entah bagaimana proses ceritanya, tiba- tiba perasaan itu datang
dengan sendirinya.
Waktu semakin bergulir, dan perasaan semakin
berakumulasi menjadi aneh, dan selalu wajahnya yang terbayang.
Wah ini gawat pikir saya. Apa yang mesti dilakukan?
memendalamnya dalam- dalam atau berterus terang dengan resiko bisa diterima
atau ditolak. Sebenarnya diterima Yes tapi ditolak No.
Tapi akhirnya disuatu malam saya sulit untuk tidur,
entah kenapa, dan yang pasti bayangannya selalu teringat. Hingga akhirnya
kuputuskan untuk membuat sebuah puisi untuknya. Sebenarnya jujur, saat itu saya
tidak punya kemampuan untuk menulis sebuah puisi, namun berbekal tekad yang
kuat serta teori dasar pembuatan puisi ketika di kelas Bahasa Indonesia
akhirnya puisi itu rampung juga.
***
Pagi menjelang, dengan sinar mentari yang cerah
secerah hatiku yang siap untuk memberikan
sebuah puisi untuknya.
Sudah tidak sabar lagi rasanya untuk memberikan puisi
ini padanya. Puisi itu diketik pada komputer, dengan alasan tulisan saya jelek.
Didalamnya saya iseng memasukan foto
yang menandakan bahwa saya itu menganggapnya bukan hanya sekedar teman
biasa, namun lebih dari itu.
Sekitar jam setengah Sembilan pagi akhirnya pucuk
dicinta ulam pun tiba. Ia yang kunanti- nanti semenjak malam akhirnya bisa
kutemui, meskipun sebenarnya kami tidak janjian sebelumnya. Kebetulan di hari
itu ( hari tepatnya saya lupa) dia ada acara latihan voli bersama, dan letak
lapangannya sangat dekat dengan rumah saya. Dia bersama temannya duduk dikursi
dibawah pohon mangga di depan rumah saya. Dan dengan semangat yang menggebu-
gebu akhirnya kuberanikan diri untuk memanggilnya.
“eh,, Ran ( Rani bukan nama sebenarnya ) bisa kesini
sebentar gak ?” panggil saya padanya. “Oh ada apa kang ? “ jawabnya dengan
penuh kelembutan . “Kesini saja Ran,” sambil tangan saya mengarah kearah teras depan
rumah.
Lalu ia pun menghampiri saya dan berdiri tepat sekitar
2 meter didepan saya. Tanpa berbasa- basi lagi amplop berisi puisi kuberikan
padanya. “ Ran, ini saya semalam buatin kamu puisi, tolong dibaca ya, tapi
jangan ditertawakan kalau ternyata isinya jelek !” pintaku pada Rani.
Setelah itu rasanya hati
terasa lega. Beban pikiran di otak rasanya hilang seketika. Lalu ia pun
melanjutkan latihannya bersama teman- temannya. Dan saya pun tidak tahu apa reaksi
teman- temannya ketika itu, apakah mereka curiga atau hanya acuh saja melihat
saya memanggil Rani. “ ah, tapi itu tak penting” pikirku.
***
RUANG OSIS
Keesokan harinya saya pergi ke sekolah seperti hari
biasa. Suasana ketika itu sangat ceria sekali karena tepat pada jam istirahat
rencana utama akan segera dieksekusi, yaitu menyatakan cinta langsung
kepadanya.
Menunggu bel istirahat rasanya seperti menunggu lama
di stasion untuk menanti datangnya kereta, karena suasana nya kala itu membuat
saya tidak sabar ingin secepatnya bertemu dengan dia.
Dan…tet tet tet…suara bel pun berbunyi.
Akhirnya jam istirahat pun dateng juga. Seketika itu
pikiranku langsung terkoneksi untuk mencarinya. “Dia ada dimana ya ?” pikirku.
Sepasang mata mencari- cari sosok wanita itu, mencari
barangkali ia sedang jajan di kantin, atau sedang shalat duha di mesjid atau
barangkali sedang baca buku di perpustakaan, dan ternyata ia tidak ada
dibeberapa tempat yang saya kunjungi. Ketika itu sempat putus asa juga, dan
berpikir untuk membatakan rencana itu untuk kemudian di pending hingga esok
hari. Namun, akhirnya aku menemukannya. Ternyata ia sedang ngumpul bareng
teman- teman sekelasnya di depan ruang OSIS.
“Aduh gimana nih?” tanyaku dalam hati.
Ia sudah ada didepan mata, tapi ada teman- temannya dan tidak mungkin untuk
menyatakan cinta di depan mereka.
Akhirnya tindakan spontan pun saya lakukan, saya mengajaknya
untuk masuk ke ruang OSIS dengan isyarat khusus agar teman- temannya tidak
curiga.
Di ruang OSIS itu tidak ada siapapun kecuali kami
berdua. Sebenarnya saya deg- degan sekali kala itu. Memikirkan kata- kata apa
yang seharusnya saya ucapkan pada dia, karena ini merupakan kali pertama aku
menyatakan cinta pada seorang wanita.
Bel masuk 5 menit lagi akan segera
berbunyi, dan kebetulan jam pelajaran selanjutnya ada Ulangan Matematika. Jadi,
harus segera saya katakana itu kepadanya atau tidak sama sekali. Karena kalau
sudah seperti itu dan di pending, mau ditaruh dimana muka saya.
Dengan mengumpulkan keberanian diri
akhirnya saya pun mengeluarkan beberapa kalimat padanya. “ Sebenarnya dari dulu
Ran, saya memerhatikanmu, sejak acara kemah
dulu saya mulai menaruh simpati pada kamu, tapi baru kali ini saya berani
menyatakan rasa yang sebenarnya padamu. Gimana kamu mau gak jadi pacar saya ?
kuucapkan itu dengan terbata- bata saking groginya.
Beberapa saat suasana menjadi hening tanpa
suara sedikitpun kecuali teriakan para murid diluar sana.
“Maaf kang, sebenarnya saya juga punya rasa
yang sama seperti apa yang akang rasakan pada saya, Tapi……” dia menghentikan
omongannya sambil tertunduk. “ Tapi apa Ran ?” Tanya saya dengan nada
penasaran. “ Saya sudah punya pacar kang, dan dia adalah
teman akang sendiri. “ Ketika itu sontak perasaan saya pecah berkeping- keping
menjadi serpihan- serpihan serupa pasir. Ternyata apa yang ditakutkan kembali
terjadi, patah hati untuk yang kedua
kalinya.
Dengan efek patah hati
tersebut saya menjadi tidak fokus dengan ulangan matematika saya. Rumus yang
semalaman saya hafal tiba- tiba hilang seketika dan yang ada hanya wajah dia,
yang telah menolak saya.
Dan seminggu kemudian, hasil ulangan
matematika pun keluar. Nilai pun dipampang oleh guru saya di sterofoam yang ada
di depan kelas. Saya penasaran berapa nilai saya. Lalu dengan sigapnya kulihat
deretan nama- nama siswa di daftar nilai tersebut. Dan apa yang terjadi….. Ilmy
Raditya dengan nilai 30. Aduh ini apa- apaan dapet nilai segini, padahal selama
ini nilai saya tidak pernah kurang dari 90 tapi sekarang…….jelek sekali. Dan
saya pun harus mengikuti remedial ulangan matematika untuk menambah kekurangan
nilai. Ketika itu saya mengambil hikmah bahwa kita tidak boleh terlalu cinta
kepada seseorang karena siapa tahu suatu saat ia akan menjadi musuh kita dan
jangan pula terlalu membecinya karena siapa tahu ia menjadi kekasih kita.
Patah hati……
aku bertemu kau kembali.
***
Setelah kejadian tersebut berlalu sekitar
beberapa bulan. Akhirnya tibalah saatnya saya untuk mengikuti Ujian Nasional. Segala
persiapan terkait materi ujian telah dipersiapkan jauh- jauh hari. Jadi ketika
itu saya enjoy aja dan santai untuk menghadapinya. Begitu pula dengan patah hati kedua, saya mulai bisa melupakannya meskipun
belum total hilang dari ingatan.
Dalam Ujian Nasional selalu ada seorang
pengawas Indevendent dari kalangan mahasiswa. dan kebetulan beliau menginap di
rumah saya, karena ayah saya adalah kepala sekolah di sekolah saya. Selama 4
hari ke depan mahasiswa itu akan menginap di rumah saya.
Pada suatu malam, tepatnya malam kedua dari
pelaksanaan UN yaitu malam rabu. Ayah dan Ibu saya sedang menghadiri pengajian
mingguan di mesjid begitu pun dengan adik saya. Jadi di rumah hanya ada saya
dan Mas Danu ( mahasiswa tersebut ). Saat
itu dia mengajak saya untuk menemaninya membeli baterai HP, karena
baterai HP nya nge-drop.Sebenarnya males juga buat nganterin dia, tapi
karena malu padanya akhirnya saya pun bersedia mengantarnya.
Perjalanan ke konter sekitar 20 menit.
Setelah beberapa saat memilih mana baterai
yang cocok dan membayarnya, akhirnya kami pun langsung pulang kembali tanpa
maen terlebih dahulu karena besoknya saya masih ada Ujian Nasional.
Namun, ketika di tengah perjalan pulang,
saya tiba- tiba kepikiran untuk nyatain perasaan ke adik kelas saya. Dia itu
sebenarnya adalah temannya wanita yang saya kasih puisi, jadi bisa dibilang dia
adalah perantara saya dengan Rani ( CEES ). Tapi setelah beberapa saat,
perasaan yang semula untuk Rani tiba- tiba berubah menjadi rasa suka kepada
adik kelas saya yang satu ini, namanya Rahma. Dia orangnya cantik, kulitnya
putih dan tutur katanya sopan. Setelah beberapa kali pendekatan akhirnya kami
semakin dekat. Dan saya pikir saat inilah waktu yang tepat untuk jujur
kepadanya perihal perasaan di hati saya.
Saya pun bilang ke Mas Danu untuk mampir
sebentar ke rumah teman saya ini. Dan beliaupun menuruti permintaan saya dengan
senyum- senyum karena dia sudah mengerti apa yang ada dipikiran saya waktu itu.
***
Setibanya di rumah Rahma, saya langsung bisa
bertemu dengannya karena ia sedang ada di teras depan rumahnya. Namun yang saya
kaget ternyata disana ada seorang lelaki seumuran SMA kelas 1. Entah siapa dia,
mungkin kakaknya atau tetangganya yang pasti dia sedang duduk diujung teras
sebelah kanan. Sayapun langsung menemui Rahma, dan duduk bersebelahan dengan
dia. Dia bertanya “ A, ngapain malam- malam kesini?” “ Saya ingin jujur
kepadamu ma,,,saya mendekati kamu akhir- akhir ini karena ada maksud tertentu,
itu adalah proses agar saya semakin dekat dengan kamu. Kamu ngerti kan? kamu
mau gak jadi pacar saya?” Ucap saya dengan spontan. “ A, aa telat ngomong ini,
kenapa baru sekarang ?” Dia menjawab dengan agak terisak, sepertinya ia
menangis waktu itu. “ A, tahu ga sebenarnya saya lebih dulu suka sama Aa, tapi
saya hanya bisa diam dan menutup mulut saya rapat- rapat, karena saya tahu saya
itu siapa, jelek, pendiam. Sementara Aa malah mempunyai perasaan itu pada Rani.
Maaf A, sekarang saya sudah tidak sendiri lagi, saya sudah punya pacar dan dia
adalah lelaki itu “ sambil menujuk ke arah lelaki yang tadi.
***
Ini yang ketiga kalinya, saya mengalami
patah hati. Dan sejak saat itu saya bertekad
untuk tidak bermain- main lagi dengan yang namanya perasaan, karena saya trauma
dengan semua itu. Lebih baik suatu saat kelak saya langsung menikah saja dengan
seseorang tanpa harus pacaran terlebih dahulu.
Semasa SMA pun, saya tidak punya perasaan
aneh seperti masa SMP dulu, karena saya menutup diri untuk katakan tidak pada
yang namanya bermain-main dengan perasaan.
Dan sekarang pun saya adalah mahasiswa tingkat satu
disalah satu Universitas Negeri di Kota Kembang, dan tidak ada niat pun untuk
kemudian berpacaran, karena takut mengalami patah hati
untuk yang keempat kalinya. Saya memilih untuk tidak patah hati untuk yang
keempat kalinya.Lebih baik menikah. Menikah lebih baik kalau sudah tiba
waktunya.
*Cerita ini diilhami dari kisah nyata,
dengan beberapa penambahan dan pengurangan pada bagian- bagian tertentu.
0 komentar for "Patah hati diwaktu muda senang hati ketika Mahasiswa"
Post a Comment