* Tulisan
ini dibuat sebagai tugas pada kuliah umum One Asia Foundation 2013-2014
Oleh
:
MUHAMMAD
IRFAN ILMY_1206179
ILMU
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
![]() |
| Sumber gambar disini |
Kesejahteraan
bumi adalah dambaan kita bersama. Bagaimana tidak ? untuk beberapa saat lamanya
kita ada di dalamnya. Minum dari airnya. Makan dari sesuatu yang tumbuh di permukaan
atau di dalam tanahnya. Menghirup udara yang silih berganti bersirkulasi di
atasnya. Mana mungkin kita abai dalam menjaganya. Layaknya kacang yang lupa
akan kulitnya. Tak tahu balas jasa tak berperasaan. Jelas tak ingin kita
seperti demikian.
Pada
kenyatanya penduduk bumi bukan hanya kita saja yang diam diatas benua Asia. Ada
banyak jutaan bahkan milyaran manusia lain di belahan bumi lainnya. Belum pernah kita menginjakan kaki disana,
namun kemashyurannya sedikit banyak membuat kita tahu sekilas mengenai mereka. Kejayaannya
dalam percaturan menguasai dunia tak dapat dielakkan lagi. Sebut saja Jerman
dan Inggris perwakilan dari benua biru hingga negara adikuasa, siapa lagi kalau
bukan Amerika Serikat.
Semua
hidup berdampingan meski ada banyak jurang pemisah yang menjadi pembedanya. Namun,
apalah arti beda jika ia diciptakan padahal untuk saling melengkapi dan
menutupi kekurangan yang ada. Toh tak pernah ada yang sempurna memiliki
segalanya kalau hal ini disematkan pada manusia. Dan jurang perbedaan itu
tercipta untuk menyempurnakan potongan mozaik kehidupan. Beda ada untuk saling
melengkapi bukan untuk jadi bahan olokan dan cemoohan.
Eksistensi
diri adalah wujud fitrah dari pribadi manusia. Ini dapat ditunjukan melalui beragam
ekspresi. Baik atau buruk. Hebat atau bejat. Semua kembali pada pilihan
masing-masing. Dan cara memilih dan pilihan itulah yang dapat dijadikan tolok
ukur kepribadiannya.
Tak hanya
diri yang berambisi menginginkan adanya pengakuan. Kelompok sekalipun mendambakan
hal ini. Baik kelompok dalam lingkup mikro hingga kelompok makro atau dalam hal
ini negara bahkan benua sekalipun.
Bumi
terhampar begitu luas dengan segala apa yang dikandungnya. Keberhasilan mengambil
alih peran menjadi leader di bumi ini merupakan kebanggaan bagi
segelintir pihak. Tak heran jika akhirnya segala cara ditempuh demi tercapainya
misi besar menjadi negara “Super Power” di bumi ini. Kedudukan yang tentunya
diidam-idamkan banyak negara. Posisi yang strategis dan sangat bergengsi
tinggi.
Roda
terus berputar sering waktu yang kian memudar. Tak selamanya sesuatu berada di
posisi puncak. Ada kalanya jatuh terperosok ke jurang yang begitu dalam. Begitupun
yang berada di posisi bawah. Posisinya tak akan pernah abadi. Setelahnya pasti
ia akan merasakan posisi diatas. Begitulah hidup, terus bertransformasi. Hanya
yang mampu menyesuaikan diri dengan baiklah yang mampu terus bertengger di
posisi teratas di singgasana yang demikian nyaman. Negara adikuasa. Negara yang
memimpin dunia. Negara yang disegani negara lainnya.
Tentang Asia
Benua
Asia merupakan benua dengan luas terbesar ketimbang benua lainnya seperti
Afrika dan Amerika. Luas benua Asia sendiri adalah 43.998.920 km2. Jauh bila dibandingkan dengan
benua Eropa yang hanya memiliki luas 9,699,550 km2. Apalagi benua
Australia yang hanya memiliki luas 7.687.120 km2. Hal ini
memungkinkan banyaknya jumlah Negara yang tergabung di dalamnya.
Selain
memiliki luas wilayah yang besar Asia pun terkenal sebagai benua dengan
penduduk terpadat. Lebih dari setengah penduduk dunia menghuni benua ini.
Berdasarkan statistik yang dilansir pada web ptkpt.net jumlah penduduk
benua Asia mencapai 4.219.786.020 jiwa. Sementara sisanya tersebar di empat
benua lainnya dari total penduduk dunia sebanyak 7.010.424.289 jiwa.
Prestasi
lain ditorehkan oleh benua ini. Sekitar enam dari sepuluh Negara yang memiliki
penduduk terpadat ada di benua Asia. Keenam Negara tersebut yakni China, India ,
Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Jepang. Cina berada di posisi
pertama, disusul India, selanjutnya Indonesia.
Selama
beberapa tahun kebelakang hingga kini, Amerika serta beberapa negara maju di
Eropa memegang peranan yang kuat di jagat ini. Dalam berbagai bidang mereka
unggul dan berada di garda terdepan melampai negara-negara lainnya. Mereka
mendapatkan title sebagai negara maju yang berarti sukses memajukan
bidang-bidang strategis dalam negaranya baik itu segi ekonomi, politik,
pendidikan, IPTEK, hingga sosial budaya serta pertahanan dan keamanan (HANKAM).
Raihan
bergengsi tersebut tidak didapatkan dengan leha-leha sembari duduk manis
menunggu sukses datang. Predikat negara maju ditebus dengan kerja keras dan
kesungguhan serta mentalitas untuk menjadi sang juara. Dengan harapan mampu
selangkah lebih maju ketimbang negara-negara lainnya.
Kita
sebagai penduduk di negara berkembang tak perlu malu belajar dari mereka. Menimba
ilmu sukses darinya. Tak perlu alergi dengan barat jika itu dinilai positif. Namun,
jangan pula terwarnai oleh coraknya. Kita punya kekhasan dan nilai-nilai yang
harus tetap dijunjung tinggi. Tentu haruslah ada proses filterisasi jangan
asal adopsi. Timur terkenal dengan keramah tamahan dan etika yang baik dalam
bergaul. Dan itu tak boleh menguap lalu lantas hilang dari kepribadian kita.
Gagasan Komunitas Asia
Dewasa
ini dunia mulai melirik Asia yang terlihat makin kinclong dan
menyilaukan. Kemilaunya bak permata yang memancarkan sinar dari tiap sudutnya. Negara-negara
asal Asia dengan segala potensinya diprediksi akan mampu mengungguli negara
adidaya saat ini. Sebut saja China yang dengan gagah berani mulai menunjukkan
taringnya di dunia. Bidang ekonomi menjadi incaran yang paling diprioritaskan.
Selain
itu, India dan Indonesia pun adalah dua dari sekian negara Asia yang berpeluang
menjadi sumber kekuatan dunia. Kedua negara ini kita ketahui merupakan negara
berkembang yang sedang berupaya menjajaki perannya menuju negara maju. Perbaikan
di semua lini tengah dilakukan agar keberadaannya di kancah dunia
diperhitungkan. Kemungkinan ini didukung oleh banyak fakta yang mengarah pada
tercapainya India dan Indonesia menjadi poros kekuatan dunia.
Dari segi
wilayah, kedua negara ini memiliki wilayah yang luas ketimbang negara di benua Asia
lainnya. Hal ini diiringi pula dengan pertumbuhan populasi penduduk yang sangat
pesat. Data statistik pada ptkp.net menunjukan bahwa penduduk India
hingga kini sudah mencapai 1,2 milyar jiwa. Sementara Indonesia berdasarkan pendataan
penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduknya terhitung 31
Desember 2010 mencapai 259 juta jiwa (Kompas, 19/09/2011). Kenyataan tersebut
merupakan sebuah keuntungan tersendiri bagi kedua negara ini. Ledakan jumlah
penduduk ini kelak akan menjadi sumber daya manusia yang demikian potensial. Namun,
keberadaannya harus diarahkan pada upaya melebihkan kualitasnya. Percuma saja
lebih secara kuantitas namun miskin kualitas.
Selain
dari segi sumber daya manusia dan wilayah, negara-negara di benua Asia memiliki
warisan kebudayaan yang sangat tinggi dan beragam. Mulai dari tarian, nyanyian,
bahasa, hingga tempat-tempat eksotis lainnya berupa peninggalan sejarah seperti
candi-candi, mesjid berasitektur mutakhir hingga istana-istana yang dimasa
lampau berdiri dengan gagah dan megah. Sebut saja Candi Borobudur di Indonesia,
Taj Mahal di India, hingga tembok raksasa di China, atau Piramida di Mesir yang
semuanya termasuk keajaiban dunia. Hal ini menunjukkan bahwa semenjak dulu
kawasan Asia telah memiliki peradaban yang tinggi. Kita bisa berkaca dari
kegemilangan Asia di masa lampau dan berambisi mengulanginya di masa kini
maupun masa mendatang.
Disamping
peluang-peluang dan keunggulan yang dimiliki Asia, ada pula beberapa hal yang
bisa menjadi batu sandungan dalam mewujudkan kejayaan Asia di kancah dunia. Negara-negara
di benua Asia mayoritas adalah negara berkembang. Banyak permasalahan yang
melanda negara-negara tersebut. Tengok saja negara-negara di Timur Tengah yang
berada pada kondisi kacau di bidang keamanan dan politiknya. Konflik Palestina
dengan seterunya Israel yang hingga kini terus berkecamuk. Negara Mesir yang
belakangan terjadi goncangan politik. Hingga krisis yang terjadi di Suriah. Banyak
korban berjatuhan akibat dari kekacauan politik yang kini kian tidak kondusif. Itu
baru problem yang terjadi di Asia bagian Barat. Belum lagi masalah yang
menyeruak di bagian benua Asia lainnya. Semua itu perlu penanganan yang ekstra
supaya beragam konflik dan permasalahan tidak makin meluas dan mengganas.
Salah
satu upaya yang bisa ditempuh adalah membentuk sebuah komunitas Asia. Ini
adalah gagasan untuk mewadahi kepentingan negara-negara di benua Asia. Kurang
lebih 50 negara berada di dalamnya. Bayangkan saja jika kelima puluh negara
tersebut bergaul dengan baik dalam satu naungan komunitas dapat dipastikan akan
kita dapati berbagai kemudahan. Selain itu, kebanyakan negara berkembang dapat
dengan mudah belajar kepada negara yang sudah lebih dulu maju ; Jepang dan
Singapura misalnya.
Pembentukan
komunitas Asia ini pun dikuatkan oleh kenyataan bahwa tak ada negara yang 100%
mandiri. Tiap negara membutuhkan uluran tangan negara lain dalam memenuhi
kebutuhan dalam negerinya. Sekelas negara maju sekalipun seperti Jepang, negara
ini miskin sumber daya alam. Negara yang hanya memiliki luas 377.923,14 km²
(Wikipedia, 2014) ini akan kelimpungan jika pasokan pangan dan energinya
dihentikan. Atau jika para tenaga kerja non-Jepang enggan untuk bekerja di
sana, maka dapat dipastikan Jepang akan kewalahan. Kita tahu, Jepang saat ini
tengah dilanda wabah untuk tak mau memiliki banyak keturunan. Entah apa
pertimbangannya. Dengar-dengar katanya karena orang Jepang sangat gandrung dan
gila kerja. Anggapannya dengan banyak anak, akses untuk bekerja akan terhambat.
Otomatis jika hal ini tidak ditindak lanjuti, Jepang hanya akan tinggal nama
saja. Karena tak ada generasi yang meneruskan estafet kepemimpinannya.
Langkah
Awal
Membentuk
sebuah komunitas Asia bukan tanpa resiko. Dari sekian banyak negara yang
tergabung dalam benua Asia pasti berselisih pendapat mengenai terbentuknya
komunitas ini. Akan ada pro dan kontra yang mengiringi digulirkannya gagasan
ini. Salah satu alternatif solusi untuk memulai mengkampanyekan komunitas Asia
adalah melalui jalur pendidikan. Jalur ini dinilai sangat strategis dalam
menularkan virus demam One Asia Community. Terlebih lagi pada pendidikan
di perguruan tinggi. Ide-ide brilian biasanya berseliweran di benak para
mahasiswa yang notabene berjiwa muda. Daya kreatif dan inovatifnya patut
diarahkan pada hal-hal positif, termasuk sumbangsih gagasan terhadap konsep One
Asia itu sendiri.
Seperti
diungkap oleh Prof. Dr. H. Nanang Fatah, M.Pd. dalam kuliahnya (17/01/2014)
disebutkan bahwa pendidikan harus memenuhi 3 H, Head, Hand dan Heart.
Head dapat dipahami bahwa ada ilmu pengetahuan yang bisa diserap dari
bangku pendidikan. Hand bermakna output pendidikan harus memiliki skill
yang nantinya akan berguna ketika tengah terjun langsung di masyarakat. Dan Heart,
yakni pendidikan harus berlandaskan pada cinta kasih. Proses mendidik harus
timbul dari dalam hati sanubari sehingga apa yang disampaikan akan sampai pula
ke hati. Ketika pendidikan kita (Indonesia) mendapat predikat baik, kita pun
bisa dengan mudah menularkannya kepada negara-negara di lingkup Asia, syukur
kalau bisa diterima oleh dunia.
Akhirnya,
mimpi mewujudkan sebuah komunitas Asia bukan hanya isapan jempol belaka.
Peluang-peluang yang ada sewajarnya mampu dijadikan alat untuk membangun
komunitas ini. Terbentuknya komunitas Asia diharapkan mampu menjembatani
kepentingan masing-masing negara di dalamnya. Tak ada dominasi dari negara
tertentu, yang ada hanyalah fokus demi kepentingan bersama. Masyarakat Asia
Raya.
REFERENSI
_____.(2014).
Geografi Jepang [online]
Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Geografi_Jepang
[24 Januari 2013].
_____.(2014). Jumlah Penduduk di Seluruh Dunia
(2013/2014) - diurutkan sesuai Jumlah
Penduduk. [online]
Tersedia
: http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=area&info1=6
[23 Januari 2014].
_____.(2011). Jumlah Penduduk Indonesia 259 juta.
[online]
Tersedia
: http://nasional.kompas.com/read/2011/09/19/10594911/Jumlah.-Penduduk.Indonesia.259.Juta
[24 Januari 2014].





