Wednesday, 29 January 2014




* Tulisan ini dibuat sebagai tugas pada kuliah umum One Asia Foundation 2013-2014

Oleh :
MUHAMMAD IRFAN ILMY_1206179
ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Sumber gambar disini 

Kesejahteraan bumi adalah dambaan kita bersama. Bagaimana tidak ? untuk beberapa saat lamanya kita ada di dalamnya. Minum dari airnya. Makan dari sesuatu yang tumbuh di permukaan atau di dalam tanahnya. Menghirup udara yang silih berganti bersirkulasi di atasnya. Mana mungkin kita abai dalam menjaganya. Layaknya kacang yang lupa akan kulitnya. Tak tahu balas jasa tak berperasaan. Jelas tak ingin kita seperti demikian.
Pada kenyatanya penduduk bumi bukan hanya kita saja yang diam diatas benua Asia. Ada banyak jutaan bahkan milyaran manusia lain di belahan bumi lainnya.  Belum pernah kita menginjakan kaki disana, namun kemashyurannya sedikit banyak membuat kita tahu sekilas mengenai mereka. Kejayaannya dalam percaturan menguasai dunia tak dapat dielakkan lagi. Sebut saja Jerman dan Inggris perwakilan dari benua biru hingga negara adikuasa, siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat.
Semua hidup berdampingan meski ada banyak jurang pemisah yang menjadi pembedanya. Namun, apalah arti beda jika ia diciptakan padahal untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan yang ada. Toh tak pernah ada yang sempurna memiliki segalanya kalau hal ini disematkan pada manusia. Dan jurang perbedaan itu tercipta untuk menyempurnakan potongan mozaik kehidupan. Beda ada untuk saling melengkapi bukan untuk jadi bahan olokan dan cemoohan.
Eksistensi diri adalah wujud fitrah dari pribadi manusia. Ini dapat ditunjukan melalui beragam ekspresi. Baik atau buruk. Hebat atau bejat. Semua kembali pada pilihan masing-masing. Dan cara memilih dan pilihan itulah yang dapat dijadikan tolok ukur kepribadiannya.
Tak hanya diri yang berambisi menginginkan adanya pengakuan. Kelompok sekalipun mendambakan hal ini. Baik kelompok dalam lingkup mikro hingga kelompok makro atau dalam hal ini negara bahkan benua sekalipun.  
Bumi terhampar begitu luas dengan segala apa yang dikandungnya. Keberhasilan mengambil alih peran menjadi leader di bumi ini merupakan kebanggaan bagi segelintir pihak. Tak heran jika akhirnya segala cara ditempuh demi tercapainya misi besar menjadi negara “Super Power” di bumi ini. Kedudukan yang tentunya diidam-idamkan banyak negara. Posisi yang strategis dan sangat bergengsi tinggi.
Roda terus berputar sering waktu yang kian memudar. Tak selamanya sesuatu berada di posisi puncak. Ada kalanya jatuh terperosok ke jurang yang begitu dalam. Begitupun yang berada di posisi bawah. Posisinya tak akan pernah abadi. Setelahnya pasti ia akan merasakan posisi diatas. Begitulah hidup, terus bertransformasi. Hanya yang mampu menyesuaikan diri dengan baiklah yang mampu terus bertengger di posisi teratas di singgasana yang demikian nyaman. Negara adikuasa. Negara yang memimpin dunia. Negara yang disegani negara lainnya.

Tentang Asia

Benua Asia merupakan benua dengan luas terbesar ketimbang benua lainnya seperti Afrika dan Amerika. Luas benua Asia sendiri adalah 43.998.920  km2. Jauh bila dibandingkan dengan benua Eropa yang hanya memiliki luas 9,699,550 km2. Apalagi benua Australia yang hanya memiliki luas 7.687.120 km2. Hal ini memungkinkan banyaknya jumlah Negara yang tergabung di dalamnya.
Selain memiliki luas wilayah yang besar Asia pun terkenal sebagai benua dengan penduduk terpadat. Lebih dari setengah penduduk dunia menghuni benua ini. Berdasarkan statistik yang dilansir pada web ptkpt.net jumlah penduduk benua Asia mencapai 4.219.786.020 jiwa. Sementara sisanya tersebar di empat benua lainnya dari total penduduk dunia sebanyak 7.010.424.289 jiwa.
Prestasi lain ditorehkan oleh benua ini. Sekitar enam dari sepuluh Negara yang memiliki penduduk terpadat ada di benua Asia. Keenam Negara tersebut yakni China, India , Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Jepang. Cina berada di posisi pertama, disusul India, selanjutnya Indonesia.
Selama beberapa tahun kebelakang hingga kini, Amerika serta beberapa negara maju di Eropa memegang peranan yang kuat di jagat ini. Dalam berbagai bidang mereka unggul dan berada di garda terdepan melampai negara-negara lainnya. Mereka mendapatkan title sebagai negara maju yang berarti sukses memajukan bidang-bidang strategis dalam negaranya baik itu segi ekonomi, politik, pendidikan, IPTEK, hingga sosial budaya serta pertahanan dan keamanan (HANKAM).
Raihan bergengsi tersebut tidak didapatkan dengan leha-leha sembari duduk manis menunggu sukses datang. Predikat negara maju ditebus dengan kerja keras dan kesungguhan serta mentalitas untuk menjadi sang juara. Dengan harapan mampu selangkah lebih maju ketimbang negara-negara lainnya.
Kita sebagai penduduk di negara berkembang tak perlu malu belajar dari mereka. Menimba ilmu sukses darinya. Tak perlu alergi dengan barat jika itu dinilai positif. Namun, jangan pula terwarnai oleh coraknya. Kita punya kekhasan dan nilai-nilai yang harus tetap dijunjung tinggi. Tentu haruslah ada proses filterisasi jangan asal adopsi. Timur terkenal dengan keramah tamahan dan etika yang baik dalam bergaul. Dan itu tak boleh menguap lalu lantas hilang dari kepribadian kita.

Gagasan Komunitas Asia

Dewasa ini dunia mulai melirik Asia yang terlihat makin kinclong dan menyilaukan. Kemilaunya bak permata yang memancarkan sinar dari tiap sudutnya. Negara-negara asal Asia dengan segala potensinya diprediksi akan mampu mengungguli negara adidaya saat ini. Sebut saja China yang dengan gagah berani mulai menunjukkan taringnya di dunia. Bidang ekonomi menjadi incaran yang paling diprioritaskan.
Selain itu, India dan Indonesia pun adalah dua dari sekian negara Asia yang berpeluang menjadi sumber kekuatan dunia. Kedua negara ini kita ketahui merupakan negara berkembang yang sedang berupaya menjajaki perannya menuju negara maju. Perbaikan di semua lini tengah dilakukan agar keberadaannya di kancah dunia diperhitungkan. Kemungkinan ini didukung oleh banyak fakta yang mengarah pada tercapainya India dan Indonesia menjadi poros kekuatan dunia.
Dari segi wilayah, kedua negara ini memiliki wilayah yang luas ketimbang negara di benua Asia lainnya. Hal ini diiringi pula dengan pertumbuhan populasi penduduk yang sangat pesat. Data statistik pada ptkp.net menunjukan bahwa penduduk India hingga kini sudah mencapai 1,2 milyar jiwa. Sementara Indonesia berdasarkan pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduknya terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259 juta jiwa (Kompas, 19/09/2011). Kenyataan tersebut merupakan sebuah keuntungan tersendiri bagi kedua negara ini. Ledakan jumlah penduduk ini kelak akan menjadi sumber daya manusia yang demikian potensial. Namun, keberadaannya harus diarahkan pada upaya melebihkan kualitasnya. Percuma saja lebih secara kuantitas namun miskin kualitas.
Selain dari segi sumber daya manusia dan wilayah, negara-negara di benua Asia memiliki warisan kebudayaan yang sangat tinggi dan beragam. Mulai dari tarian, nyanyian, bahasa, hingga tempat-tempat eksotis lainnya berupa peninggalan sejarah seperti candi-candi, mesjid berasitektur mutakhir hingga istana-istana yang dimasa lampau berdiri dengan gagah dan megah. Sebut saja Candi Borobudur di Indonesia, Taj Mahal di India, hingga tembok raksasa di China, atau Piramida di Mesir yang semuanya termasuk keajaiban dunia. Hal ini menunjukkan bahwa semenjak dulu kawasan Asia telah memiliki peradaban yang tinggi. Kita bisa berkaca dari kegemilangan Asia di masa lampau dan berambisi mengulanginya di masa kini maupun masa mendatang.
Disamping peluang-peluang dan keunggulan yang dimiliki Asia, ada pula beberapa hal yang bisa menjadi batu sandungan dalam mewujudkan kejayaan Asia di kancah dunia. Negara-negara di benua Asia mayoritas adalah negara berkembang. Banyak permasalahan yang melanda negara-negara tersebut. Tengok saja negara-negara di Timur Tengah yang berada pada kondisi kacau di bidang keamanan dan politiknya. Konflik Palestina dengan seterunya Israel yang hingga kini terus berkecamuk. Negara Mesir yang belakangan terjadi goncangan politik. Hingga krisis yang terjadi di Suriah. Banyak korban berjatuhan akibat dari kekacauan politik yang kini kian tidak kondusif. Itu baru problem yang terjadi di Asia bagian Barat. Belum lagi masalah yang menyeruak di bagian benua Asia lainnya. Semua itu perlu penanganan yang ekstra supaya beragam konflik dan permasalahan tidak makin meluas dan mengganas.
Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah membentuk sebuah komunitas Asia. Ini adalah gagasan untuk mewadahi kepentingan negara-negara di benua Asia. Kurang lebih 50 negara berada di dalamnya. Bayangkan saja jika kelima puluh negara tersebut bergaul dengan baik dalam satu naungan komunitas dapat dipastikan akan kita dapati berbagai kemudahan. Selain itu, kebanyakan negara berkembang dapat dengan mudah belajar kepada negara yang sudah lebih dulu maju ; Jepang dan Singapura misalnya.
Pembentukan komunitas Asia ini pun dikuatkan oleh kenyataan bahwa tak ada negara yang 100% mandiri. Tiap negara membutuhkan uluran tangan negara lain dalam memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Sekelas negara maju sekalipun seperti Jepang, negara ini miskin sumber daya alam. Negara yang hanya memiliki luas 377.923,14 km² (Wikipedia, 2014) ini akan kelimpungan jika pasokan pangan dan energinya dihentikan. Atau jika para tenaga kerja non-Jepang enggan untuk bekerja di sana, maka dapat dipastikan Jepang akan kewalahan. Kita tahu, Jepang saat ini tengah dilanda wabah untuk tak mau memiliki banyak keturunan. Entah apa pertimbangannya. Dengar-dengar katanya karena orang Jepang sangat gandrung dan gila kerja. Anggapannya dengan banyak anak, akses untuk bekerja akan terhambat. Otomatis jika hal ini tidak ditindak lanjuti, Jepang hanya akan tinggal nama saja. Karena tak ada generasi yang meneruskan estafet kepemimpinannya.

Langkah Awal
Membentuk sebuah komunitas Asia bukan tanpa resiko. Dari sekian banyak negara yang tergabung dalam benua Asia pasti berselisih pendapat mengenai terbentuknya komunitas ini. Akan ada pro dan kontra yang mengiringi digulirkannya gagasan ini. Salah satu alternatif solusi untuk memulai mengkampanyekan komunitas Asia adalah melalui jalur pendidikan. Jalur ini dinilai sangat strategis dalam menularkan virus demam One Asia Community. Terlebih lagi pada pendidikan di perguruan tinggi. Ide-ide brilian biasanya berseliweran di benak para mahasiswa yang notabene berjiwa muda. Daya kreatif dan inovatifnya patut diarahkan pada hal-hal positif, termasuk sumbangsih gagasan terhadap konsep One Asia itu sendiri.
Seperti diungkap oleh Prof. Dr. H. Nanang Fatah, M.Pd. dalam kuliahnya (17/01/2014) disebutkan bahwa pendidikan harus memenuhi 3 H, Head, Hand dan Heart. Head dapat dipahami bahwa ada ilmu pengetahuan yang bisa diserap dari bangku pendidikan. Hand bermakna output pendidikan harus memiliki skill yang nantinya akan berguna ketika tengah terjun langsung di masyarakat. Dan Heart, yakni pendidikan harus berlandaskan pada cinta kasih. Proses mendidik harus timbul dari dalam hati sanubari sehingga apa yang disampaikan akan sampai pula ke hati. Ketika pendidikan kita (Indonesia) mendapat predikat baik, kita pun bisa dengan mudah menularkannya kepada negara-negara di lingkup Asia, syukur kalau bisa diterima oleh dunia.

Akhirnya, mimpi mewujudkan sebuah komunitas Asia bukan hanya isapan jempol belaka. Peluang-peluang yang ada sewajarnya mampu dijadikan alat untuk membangun komunitas ini. Terbentuknya komunitas Asia diharapkan mampu menjembatani kepentingan masing-masing negara di dalamnya. Tak ada dominasi dari negara tertentu, yang ada hanyalah fokus demi kepentingan bersama. Masyarakat Asia Raya.   


REFERENSI
_____.(2014). Geografi Jepang [online]
_____.(2014). Jumlah Penduduk di Seluruh Dunia (2013/2014) - diurutkan sesuai Jumlah Penduduk. [online]
_____.(2011). Jumlah Penduduk Indonesia 259 juta. [online]






Oleh :
Muhammad Irfan Ilmy

Sumber gambar disini 

Setiap yang bernafas pasti akan mengalami saat dimana kematian menjemput. Manusia, hewan bahkan tumbuhan pun akan mengalami hal ini. Terlebih manusia, yang notabene berbeda dengan hewan. Hewan sesudah mati hanya akan bersatu dengan tanah. Tidak ada kelanjutan dan perhitungan bagi hewan dan sejenisnya. Berbeda halnya dengan manusia, kematian yang dialami oleh manusia merupakan awal dari pertanggung jawaban terhadap perilakunya selama di dunia. Pada hakikatnya kehidupan yang diamanahkan oleh Allah kepada manusia menuntut sebuah tanggung jawab, untuk apa waktu hidupnya dihabiskan selama berada di alam dunia, untuk kebaikan atau malah sebaliknya ?
Sangat keliru jika manusia menganggap kehidupannya di dunia akan kekal abadi. Padahal sangat gamblang Allah menjelaskan baik dalam Alquran dan Sunnah Rasul bahwa alam dunia ini akan mengalami kebinasaan yang biasa disebut hari akhir (hari kiamat). Setelah itu pun manusia mendapat ganjaran tergantung amal perbuatannya selama di dunia. Tidak ada pahala atau dosa sedikitpun yang terlepas dari pengadilan Allah. Allah swt. menyediakan surga bagi para hambanya yang diridhai dan menjalankan setiap ketentuan berupa perintah dari-Nya. Sementara, bagi para pelaku maksiat dan yang masa-masa di dunianya diisi dengan kedzaliman baik terhadap diri terlebih kepada orang lain maka tempat kembalinya adalah neraka yang merupakan adzab yang sangat pedih.
Namun, pada kenyataannya banyak diantara kita yang melupakan saat-saat kematian yang mencekam. Kesenangan dunia menutupi pandangan terhadap kehidupan sesudahnya. Manusia lalai dan terbuai dengan hingar bingar dunia. Dalam istilah arabnya kita mengenal Wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.
Bagi sebagian orang yang senantiasa melakukan amal yang buruk kematian merupakan momok menyeramkan yang sebisa mungkin dihindarinya. Mereka sangat ketakutan dengan kematian ini. Karena pada hati kecilnya mereka pun merasa bahwa perbuatan yang senantiasa dilakukannya merupakan kesia-siaan belaka. Namun, disebabkan iman di dalam hati yang lemah, ia terlarut semakin dalam dengan kebiasaan buruknya tersebut.
Lain halnya dengan para hamba Allah yang taat dan sangat yakin dengan kehidupan setelah mati. Mereka rindu dengan kematian. Mereka ingin secepatnya menuai hasil dari amal perbuatan baiknya selama di dunia. Balasan dari Allah berupa kesenangan telah menantinya. Dan mati merupakan gerbang menuju kebahagiaan yang telah jauh-jauh hari dijanjikan oleh-Nya.
Berbicara mengenai kematian, entah mengapa saya begitu tertarik walaupun terkadang agak merinding juga. Akan tetapi, jika kita memiliki spirit bahwa hari ini kita merasa sebagai hari terkahir dalam hidup dapat dipastikan motivasi untuk beramal akan sangat tinggi. Dan secara otomatis perbuatan yang dianggap tidak mendatangkan kemanfaatan akan dihindari sejauh mungkin.
Pernah suatu saat di sebuah kelas perkuliahan ada seorang Dosen yang berbicara mengenai kematian. Beliau menceritakan bahwa pada akhir-akhir ini beliau selalu mencium aroma wangi yang entah sumbernya dari mana. Beliau tiba-tiba meminta maaf jika memiliki banyak kesalahan selama mengajari kami. Beliau mengatakan bahwa ini secara spontan ingin dia katakan tanpa ada motif apapun. Sejak saat itu, saya pun ingin mengalami hal serupa seperti yang dialami beliau (Dosen saya). Saya ingin mendapatkan spirit lebih dalam menjalani kehidupan ini. Dan saya rasa selalu ingat pada kematian merupakan motivasi internal yang daya tahannya akan permanen jika bisa diinternalisasikan pada diri kita.
Setiap manusia tak pernah tahu kapan ia akan dijemput pulang oleh malaikat maut. Kenapa Allah merahasiakannya ? mungkin salah satu hikmahnya agar kita senantiasa waspada dan melakukan kebaikan dimanapun dan kapanpun. Dari beberapa bacaan dijelaskan bahwa sakaratul maut itu sungguh mengerikan. Dan sudah sepatutnya kita berlindung kepada Allah dari dahsyatnya tatkala nyawa dicabut dari tubuh kita tersebut.
Wallahu A’lam,
Tidak ada niat untuk menakut-nakuti, hanya ingin berbagi apa yang ada di pikiran saya saja. Mohon koreksiannya jika ada kekeliruan. 






Oleh : 
MUHAMMAD IRFAN ILMY 



Berawal dari sebuah coba-coba, 3 mahasiswa prodi IPAI akhirnya berhasil lolos seleksi tahap akhir Program Mahasiswa Wirausaha Periode 2013. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Acep Suwarna (IPAI 2012) selaku ketua kelompok, Bustanul Aripin N. (IPAI 2011) sebagai anggota pertama, dan Muhammad Irfan Ilmy (IPAI 2012) selaku anggota kedua.
Proses seleksi Program Mahasiswa Wirausaha ini melalui dua tahap yakni proses seleksi administrasi berupa proposal bisnis plan, dan seleksi presentasi. Proposal bisnis plan sendiri dibuat kurang lebih  2 hari satu malam. Itupun sebenarnya merupakan perpanjangan waktu dari pihak panitia penyelenggara. Kami pun berkumpul di rumah kontrakan anggota kelompok untuk menyusun proposal. Bermula dari pembicaraan-pembicaraan liar akhirnya sebuah bisnis plan sederhana berhasil rampung dengan judul produk “Singkong Brondong”. Nama brondong tersebut sebenarnya tidak ada makna filosofi tersendiri. Ini hanya spontan terlontar dari pembicaraan kami. Ternyata the power of kepepet benar-benar terjadi pada kami. Energinya sangat luar biasa.
Beberapa hari kemudian akhirnya kami pun mendapatkan panggilan untuk mempresentasikan proposal yang kami buat. Peserta yang lolos seleksi administrasi dan berkesempatan melakukan presentasi sekitar 186 mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa UPI Bumi Siliwangi dan kampus daerah. Kami sempat grogi dalam mempresentasikan proposal kami, namun akhirnya hal tersebut bisa kami atasi. Sekitar 30 menit lamanya, kami bertiga mempresentasikan proposal tersebut. Usaha insya Allah sudah kami maksimal dilakukan, masalah hasil itu terserah Allah swt.
Hampir sebulan lamanya kami menunggu pengumuman selesi tahap 2. Alhamdulillah kami bertiga lolos seleksi dan menjadi 40 mahasiswa calon penerima Dana PMW 2013. Kami berada pada posisi antara percaya dan tidak dengan hasil seleksi tersebut, karena selain kami, banyak kompetitor lain terlihat lebih kompeten.
Pesan bagi mahasiswa lain yang berminat mengikuti program ini di tahun mendatang adalah harus percaya diri dan ikuti mekanisme yang ada. Kerahkan seluruh kemampuan yang ada secara maksimal, dan urusan hasil serahkan semuanya pada Allah semata.
Muhammad Irfan ilmy (IPAI 2012)



Oleh : 
MUHAMMAD IRFAN ILMY

Sumber gambar disini 

Dewasa ini segala hal menjadi serba bebas dan tanpa arah. Aturan ada tapi layaknya tidak ada. Istilah arab menyebutkanya “Wujudu ka Adamihi” , ada tapi seolah-olah tiada. Aturan hanya dijadikan pemanis dalam kehidupan ini. Bukan maksud aturan itu tak penting lagi, melainkan karakter manusianya sendiri yang menganggap tak penting. Aturan kerap dianggap menghalangi keinginan dan nafsu. Aturan hanya menyebabkan terkekangnya jiwa sehingga tidak bisa menikmati dunia yang gemerlap ini.
Indonesia, dahulu dikenal dengan bangsa yang berkarakter. Karakter bangsa Indonesia itu ramah, sopan, murah senyum dan yang paling terkenal adalah memiliki karakter suka bergotong royong. Apakah karakter ini masih ada di saat sekarang ? Perlu kita renungkan, kalau perlu kita duduk diam di tengah malam dan berfikir mendalam, apakah karakter-karakter khas ini masih melekat dalam kepribadian bangsa Indonesia. Jika jawabnya masih, patut kita bersyukur, namun jika jawabnya tidak, patut kita berintrospeksi diri. Karakter-karakter tersebut sejatinya merupakan pembeda antara kita dengan bangsa lain. Apabila hal yang membedakan kita dengan yang lain sudah tak ada, lalu apa bedanya kita dengan mereka (baca : bangsa-bangsa lain di dunia) ? Kita adalah bangsa Indonesia, sejatinya sigap menyadari lalu tak berdiam diri melainkan beraksi dan mengambil kembali karakter yang menjadi ciri pribadi.
Media informasi mulai media cetak sampai elektronik tiap harinya tak pernah kehabisan bahan untuk pemberitaan. Kriminal dan kejahatan tak ubahnya air, terus mengalir tanpa henti. Belum usai satu kasus kriminal, datang lagi kasus lain. Karena seringnya, rasa-rasanya kita muak mendengar pemberitaan semacam itu.
Berdasarkan data dari Litbang Kompas (dalam http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam-dunia-pendidikan/) disebutkan beberapa data yang mencengangkan terkait korupsi sebagai berikut :
158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Hal ini sangat miris sekali mengingat Indonesia dahulu seperti diceritakan sebelumnya adalah bangsa dengan segudang karakter yang baik, namun sekarang kenyataannya terbalik. Ada yang salah tentunya disini. Entah apa dan siapa yang patut dipersilahkan. Akan tetapi, siapapun tentu tak ingin dijadikan tersangka atas semua hal ini. Tak ada jalan terbaik kecuali kita semua bersama-sama mulai dari hal yang kerap dianggap remeh untuk melakukan perbaikan terhadap karakter bangsa ini. Bila dibiarkan lebih jauh bukan tidak mungkin kita akan kehilangan jati diri kita sebagai bangsa yang berkarakter.
Salah satu solusi atas kekhawatiran kita terhadap kondisi bangsa ini adalah menggalakan pendidikan karakter. Sebuah upaya yang bisa kita lakukan untuk mengurangi degradasi moral yang kini tengah melanda.
Dari awal kita berbicara tentang karakter bangsa yang mulai terkikis. Namun, sudahkan kita memahami apa karakter itu ? jangan-jangan kita berkoar-koar tentang karakter bangsa ini padahal tidak mengerti sama sekali batasan-batasannya.
Kertajaya sebagaimana dikutip Majid dan Andayani (2012:11) mendefinisikan bahwa karakter adalah ”ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah ”asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan ”mesin” pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, dan merespon sesuatu.
Berdasarkan pengertian karakter ini dapat dipahami secara gamblang bahwa karakter itu sama halnya dengan akhlak di dalam Islam. Karakter dapat dikatakan sebagai tindakan refleks yang dilakukan seseorang tanpa butuh perenungan dan pemikiran terlebih dahulu yang merupakan buah dari kebiasaan-kebiasaan terdahulu, baik itu kebiasaan baik maupun buruk. Kebiasaan tersebut berakumulasi hingga menjadi karakter. Dengan memahami batasan karakter tentu kita akan mudah memahami pengertian pendidikan karakter.
Pendidikan karakter dapat dipahami sebagai sebuah proses penginternalisasian nilai-nilai karakter agar dipahami oleh objek pendidikan karakter tersebut sehingga mampu tercermin dalam prilakunya sehari-hari. Pendidikan karakter tidak terbatas hanya teori saja melainkan yang diharapkan adalah tindakan nyata berupa pembiasan-pembiasan yang ujungnya mengkristal di dalam dirinya berupa karakter-karakter baik.
Penerapan pendidikan karakter dalam rangka mewujudkan moral bangsa yang baik perlu dukungan dari berbagai pihak. Pihak yang paling central tentu pemerintah terkait. Namun, kita semua dengan latar belakang profesi yang berbeda pun bisa ikut berkontribusi dalam hal ini. Guru memang menempati posisi paling strategis sebagai aktor yang bisa menularkan virus-virus pendidikan karakter ini kepada para siswanya. Dalam penyampaian bahan pembelajaran apabila guru sadar dan memiliki rasa tanggung jawab tinggi bisa diselipkan pendidikan karakter. Mengajak siswa berlaku jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain ini tanpa disadari merupakan upaya nyata menerapkan pendidikan karakter.
Akhirnya, semoga makin banyak orang yang menyadari pentingnya pendidikan karakter diterapkan di semua bidang terutama pendidikan. Dan kita berharap Indonesia bisa menjadi negara unggul dengan tetap memiliki karakter-karakter terpuji yang merupakan pembeda dengan negara-negara lainnya.



Sumber gambar disini 

Oleh : 
MUHAMMAD IRFAN ILMY 

Anak pada hakikatnya merupakan amanah dari Allah SWT. Setiap amanah tentunya akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di mahkamah tertinggi. Orang Tua memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya agar mampu sejalan dengan kebenaran yang hakiki. Salah sedikit saja orang tua dalam mendidik, maka akan berdampak fatal pada perkembangan anak. Anak itu ibarat pohon kecil yang mudah untuk dibentuk. Jika sedari kecil di didik dalam lingkungan yang baik maka ketika dewasa pun akan menuai hasilnya, berupa pribadi yang soleh dan berkarakter islami. Namun, sebaliknya apabila semenjak dini jauh dari didikan agama yang semestinya, maka dipastikan sang anak akan menjadi pribadi yang jauh dari nilai- nilai keislaman dan tidak mustahil bisa menjadi manusia dengan sosok yang menyeramkan..
Di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan sebagai sumber pokok ajaran Agama Islam ini telah diterangkan mengenai hal-hal apa saja yang menjadi tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Apabila semua orang tua memahaminya maka tidak akan sulit untuk mendidik anak dengan benar. Namun, kita lihat fenomena sekarang ini banyak orang tua yang lebih bangga dengan cara mendidik barat yang pragmatis dan hedonis daripada memakai konsep Islam. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman mereka terhadap konsep Islam tersebut. Penyebabnya banyak sekali dan kita tidak boleh menyudutkan salah satu pihak yang kita anggap salah. Kita seharusnya mengoreksi diri sendiri dalam hal ini.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali begitulah kata pepatah. Begitupun bagi orang tua yang terlanjur terjebak dalam kondisi ketidak tahuan, maka janganlah berputus asa. Mari mulai saat ini sama- sama belajar untuk mendidik dan menanamkan nilai- nilai keislaman kepada anak agar kelak terwujud generasi yang kuat baik secara keimanan, financial, kesehatan, atau dari segi ilmu pengetahuan.





Oleh : 
MUHAMMAD IRFAN ILMY

Sumber gambar disini 

 Hidup ini terus bergulir seiring angka-angka di almanak yang kian  menua. Tak pernah sedikitpun terlintas dipikirannya akan menjadi seperti ini. Menjadi dosen di fakultas Psikologi UI. Dulu, ia hanya membayangkan bahwa hidupnya haruslah menginspirasi. Hanya itu. Tidak lebih.
Buku lusuh itu menjadi saksi bisu bahwa dia pernah curhat kepadanya. Warnanya biru tua. Tertulis di depannya “Buku Ajaib”. Ditulisnya tentang masa depannya. Tentang apa yang diinginkannya suatu hati nanti. Dia bukanlah orang yang beruntung seperti kebanyakan orang. Ardi layaknya buah yang jatuh dari pohon dan tak punya siapa- siapa lagi. Hanya kepada Allah lah ia mengadu dan curhat tentang kesepiannya.
Kedua orang tuanya telah bahagia disana. Di alam yang pernah dikunjungi. Mereka dipanggil kehadirat-Nya 8 tahun lalu. Setelahnya, pemuda malang itu harus bertahan untuk membuktikan bahwa mereka berdua telah mendidiknya dengan benar. Suatu saat nanti, dia ingin nama kedua orang tuanya harum karena anaknya telah jadi orang. Meski terbatas . Walau sekilas terasa mustahil.
***

Detak jarum jam terasa begitu nyaring ditelinganya. Angin semilir mengantarkannya kepada masa lalu yang telah dilaluinya. Hari Sabtu tanggal 20 November 2011. Di tempat santai rumah Ardi. Ia melamun sambil melihat- lihat bunga- bunga yang mekar di kebun kesayangannya
“Eh,,,Akang, kenapa bengong ?” Sarah datang dan membuatnya kaget.
“Tak ada apa-apa sayang, aku hanya teringat masa- masa sulit dulu. Saat dimana aku berjuang agar bisa terbebas dari kehinaan. Terbebas dari kesedihan dan kebodohan.” ungkap Ardi.
“Aku belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Cerita tentang perjalanmu sehingga kau jadi seperti sekarang ini. Kita kan tidak pernah pacaran Kang. Jadi, aku tak pernah tahu segala hal tentangmu. Aku penasaran Kang,,,,,.” Rona wajahnya menyiratkan bahwa isterinya itu sangat penasaran.
***

Ardi pun bercerita dengan penuh penghayatan pada isterinya, Sarah.
“Kuliah adalah keinginan yang sempat jadi mustahil di benak Akang, dulu. Tidak ada keluarga atau seseorang yang akan membiayai kuliah. Akang hanya tinggal dengan kakek dan nenek. Mereka sudah sepuh. Mungkin tak akan sanggup mengirimi uang tiap bulan. Tapi, Akang ingin sekali berkuliah. Membuktikan pada orang lain bahwaAkang bisa bersaing dengan mereka. Itu keputusan berat. Dengan hanya modal nekat, pergi ke rantau hanya dengan bekal Rp. 100 rb. Namun, kalau tidak saat itu, mau kapan lagi. Menunggu tua, baru ngambil resiko ? jelas tidak. Akang mu ini pun akhirnya berangkat ke kota yang mempunyai julukan kota kembang. “Bandung”.
“Sebelumnya, Akang dinyatakan lulus seleksi masuk ke Perguruan Tinggi. UNPAD nama kampusnya. Salah satu kampus yang bergengsi di kota Bandung, bahkan Indonesia.  Akang dinyatakan diterima di jurusan Psikologi. Meski sehari- hari hanya makan nasi dengan krupuk atau paling mewah ikan asin, tapi kemampuan Akangdalam berpikir cukup brillian. Berani deh kalau di tandingkan sama anak orang kaya, tapi malas mah. “
“Hari itu, Jum’at tanggal 4 Agustus 2004 adalah hari terakhir daftar ulang mahasiswa baru. Ketika itu, Akang bingung bagaimana caranya agar bisa membayar uang masuk kuliah. Akang benar- benar tak punya uang. Hanya selembar uang Rp.100 ribu itu, dan itupun buat biaya hidup. Padahal uang masuk waktu itu sekitar 6 jutaan. Jumlah uang yang sangat besar bagi Akang”
“Tiba- tiba…” Permisi de, dari tadi saya lihat ade kebingungan dan sepertinya sedang menghadapi masalah yang besar. Kalau boleh saya tahu, ada apa ya de ? ” Sosok laki-laki 50 tahunan tiba-tiba menyapa Akang.”
“ “Ah, begini Pak…saya sebenarnya malu ngomongin ini, yang jelas saya butuh uang untuk bayar biaya masuk kuliah saya disini” Akang mencoba berterus terang.
“Hmmm. Kebetulan sekali. Saya sedang cari orang untuk saya beri bantuan. “
“Maksudnya, pak ? ” Tanya Akang dengan nada penasaran.
“Jadi, begini ceritanya. Saya ini sudah tua, mungkin sebentar lagi akan pulang. Diakhir hidup saya ini saya ingin bermanfaat bagi orang lain. Kebetulan saya punya kelebihan uang. Kemarin saya dengar ceramah salah seorang ustadz katanya salah satu amal yang tidak ada putus- putusnya dan terus ngalir meskipun udag meninggal adalah melakukan sodaqoh jariyah. Setelah mendengar itu saya jadi ingin melakukan hal tersebut. Ter…..”
“Maaf pak, saya motong pembicaraan Bapak, tadi Bapak menyebutkan mungkin sebentar lagi akan pulang, maksudnya ? ” Akang jadi makin penasaran.
“Jadi, saya itu kata dokter divonis hanya akan bertahan sekitar 3 bulan lagi. Saya mengidap penyakit Ginjal. Sudah sering saya menjalani perawatan di rumah sakit. Operasi pun pernah. Dan, terakhir sampai cuci darah. Capek rasanya. Dari dulu yang saya lakukan hanya bagaimana saya nyari uang buat keluarga. Shalat, zakat, puasa rasa-rasanya asing bagi saya. Bagi saya, perbuatan itu hanya mengambat kerja saya. Sekarang saya baru sadar kalau uang dan harta tidak akan bisa di bawa mati.” “
Akang pun mengangguk, Akang paham apa yang dikatakan oleh Bapak tua itu, namanya pak Jamal. Setelah Pak Jamal berdiskusi dan mendengarkan cerita tentang hidup Akang, ia semakin yakin kalau Akang mu ini adalah orang yang tepat untuk diberikan bantuan olehnya. Sebenarnya sempat Akang tolak tawarannya itu dengan halus. Namun, Pak Jamal meyakinkan kalau ia tulus ikhlas memberikannya. Akhirnya, Hati Akang  pun luluh. Akang tak bisa berkutik, dan diterimalah niat baik Pak Jamal untuk membantu Akang.
“Ini, mungkin pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh. Terima kasih Ya Robb. Ini janji yang tak pernah diingkari-Nya.” Pikir Akang saat itu.
“Terima kasih Pak, semoga amal baik bapak diterima sebagai Amal shaleh di sisi Allah.Akang pun mencium tangan pak Jamal.”
“Pak Jamal pun terlihat senang telah memberikan uang nya pada Akang. Dia bilang bahwa mungkin ini jalan dari Allah mempertemukan Akang dengannya.”
“Beliau bertanya nama ke Akang dan Akang perkenalkan bahwa nama Akang adalah Ardi Mahardika padanya.”
“Pertemuan yang telah dirancang oleh-Nya. Sebuah pertemuan yang menjawab kegalauan di hati pada saat itu. Setelah pertemuan dengan pak Jamal, akhirnya Akang bisa bernafas lega. Hanya tinggal memikirkan uang semesteran saja. Akang pun yakin kalau rejeki untuk itu sudah di atur oleh Allah.” Tutur Ardi. Ia sedikit menghela nafas sambil menerawang mengingat kembali masa lalunya.
“Terus gimana lanjutannya Kang ? “ Tanya Sarah nggak sabar.
“Bentar atuh, Akang mau minum dulu. Haus banget nih.” Ardi mengambil gelas berisi kopi di atas meja.
 “Ah,,,nikmatnya kopi buatan isteriku ini.“
“Udah ah,,,,,Kang, lanjutin ceritanya !” pinta Sarah pada Ardi.
“Lanjutin nih ya……?”
 Ardi kembali melanjutkan ceritanya.
Akang ini bisa digolongkan sebagai sosok muslim yang taat, yang (baca : sayang).Punten ya bukan maksud Akang sombong,, he he. Itu adalah salah satu keberhasilan orang tua Akang dalam mendidik Akang. Bapak, dulunya adalah guru ngaji, sehinggaAkang tumbuh dalam lingkungan Agama yang kental. Keyakinan pada Allah sudah dipelajari teorinya sejak dulu. Dan, saat beliau sudah tiada adalah saat untuk membuktikan teori itu. Dulu, keyakinan kepada-Nya diuji dengan kenyataan-kenyataan pahit dan tentunya kurang menyenangkan jika hanya dilihat dari mata lahir yang kotor. Padahal, itu adalah cara Allah untuk menjadikan seseorang semakin tinggi derajatnya di sisi-Nya. “
“Dalam keseharian di Bandung itu, Akang mu ini hidup disiplin. Dalam hal apa saja. Ibadah, belajar, kerja, semuanya dibingkai dalam manajemen waktu yang tepat. Karena dengan disiplin maka seseorang akan sukses. Akang yakin kalau esensi shalat selain mencegah perbuatan keji dan munkar juga melatih seseorang untuk disiplin menjalani hidup. Kalau hidupnya tanpa aturan dan disiplin, maka patut dipertanyakan shalatnya itu. Mungkin saja shalat nya hanya sebatas gerak-gerak yang tanpa makna. “ Ardi bercerita dengan penuh makna.
***

“Bandung adalah kota yang asing bagi Akang. Maklum saja Akang kan hanya orang kampung. Jauh dari kota. Akang asli orang Tasikmalaya, tapi berada di ujung selatan sana. Sangat jauh. Ke Bandung aja hanya sekali, ya, waktu berumur sekitar 10 tahunan. Hanya ke kebun binatang itu juga. Ditambah lagi lalu lintasnya rentan macet. Apa- apa mahal. Pergaulan, ngga usah ditanya. Kalau kita tidak punya basic agama yang kuat pastinya akan mudah terjerumus ke hal- hal yang negatif. Ah, lengkap sudah semuanya. Ditambah lagi Akang harus berjuang untuk tidak dikeluarkan dari kampus karena kesulitan biaya. Yang jelas Akang akan tinggal di Bandung kurang lebih 4 tahun. Atau kalau Akang bisa gigih berjuang, perkiraan Akang akan lulus 3,5 tahun saja. “
“Dulu Akang tinggal di sebuah mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus. Mushola Al-Furqan namanya. Ketika itu, ada pengurus mushola yang berbaik hati menawari untuk tinggal disana. Asalkan Akang sanggup mengurus mushola itu dengan baik, sekaligus jadi muadzin disana. Akang senang sekali karena bisa menghemat uang kost dan menggunakannya untuk keperluan lain. Hari-hari dilalui dengan optimisme tinggi. Kesungguhan yang membara dan tentunya disertai dengan doa kepada-Nya.”
“Yang namanya hidup pada hakikatnya adalah perjuangan. Ada kalanya senang, sedih, semuanya itu yang akan membuat hidup terasa lebih manis. Begitu pun halnya denganAkang. Tidak mudah menjalani hidup di sana. Terkadang Akang harus bermental baja untuk mendengar ocehan dari tetangga dekat mushola yang tidak suka pada kehadiran Akang disana. Pernah suatu hari,,,,“Wei,, orang kampung, kira- kira dong kalau pupujian[1] tēh jangan sampai ganggu orang. Ini waktu enak-enaknya buat tidur. “ ucap Kang Deni sambil mengepalkan tinju. Untungnya itu hanya sebagai peringatan saja.”
Akang hanya tersenyum dan menghadapinya dengan penuh ketenangan. lalu bilang ke kang Deni. “Punten, Kang. Bukannya ini sudah jam 4 pagi. Saya hanya berusaha membangunkan warga saja biar tidak kesiangan shalat subuh. Ditambah lagi siapa tahu ada yang mau shalat tahajud atau sekedar persiapan shalat. Ini tugas saya. Sekali lagi bukan maksud saya mengganggu Akang Akang membela diri. Akang lalu menjulurkan kedua tangan sebagai tanda minta maaf. Tapi, ……Ia malah bilang “Ah,,,,halik maneh tong loba bacot[2].”. Kang Deni sewot sambil berlalu begitu saja.”
Ardi melanjutkan kembali ceritanya dengan antusias. “Tidak sekali itu saja. SeringAkang di ejek karena jarang beli buku ketika ada tugas dari dosen. Bukannya Akangtidak mau. Tapi, Akang harus berpikir berulang kali untuk sekedar membeli buku. Uangnya terbatas. Ketika orang lain tinggal minta ke orang tuanya untuk segala keperluan kuliah. Akang harus menunggu sekitar seminggu lamanya untuk ngumpulin uang sekitar Rp. 200 ribu saja. Akang dapat upah mengajar TK memang seminggu sekali. Ditambah Akang pun buka jasa penerjemahan bahasa asing. Baik itu bahasa inggris atau bahasa jepang. Namun, tak hanya itu. Ketika awal-awal tinggal di BandungAkang pun sempat pula jualan es cendol yang resepnya didapat dari Almarhum Bapak. Tapi, itu terlalu berat bagi Akang sekaligus menyita banyak waktu. Akang berhenti karena tidak ingin kuliah jadi terganggu. Akang yakin kalau ada pekerjaan yang lebih baik dan bisa dijalani bersamaan dengan kuliah. Dan, salah satunya menjual jasa sebagai seorang translator.”
***

20 September 2008
Ardi pun melanjutkan cerita tentang kehilangan barang yang sangat penting baginya. Ia mencoba menirukan gayanya ketika dulu kejadian itu terjadi.
“Ya Allah gimana ini ? data skripsiku hilang. Mana data cadangannya belum sempat saya kopi ke laptop. Ya Robb, maafkan atas kecerobohanku. “
Akang keluarkan semua barang- barang yang ada di tas eiger yang sudah belel milikAkang. Tak ada. Nihil. Akang mencoba meraba- raba semua pakaian yang tergantung di kapstock di kamarnya. Sama. Tak ada juga. Akang sangat panik waktu itu. Akang tertunduk di teras mushola.
“Kang Ardi,,,,aya naon[3] nih ? keliaatannya antum sedang ada masalah. Tak biasanya antum seperti ini.” Tanya Diki yang tak diketahui kedatangannya olehAkang.
“Hmmmm…kasih tahu nggak ya ?. nggak apa-apa kok Dik. Tapi…..”
“Tapi apa Akang ? “ Diki langsung saja menyerobot.
“Begini Akhi, Flask disk Ane hilang kemarin. Dan, gawatnya data skripsi dan proyek buku Ane ada disana semua. Cerobohnya, belum sempat dikopikan ke laptop.”
“Innalillahi Akh,,,,Sabar ya. Meski ini bukan cobaan yang bisa dibilang berat, tapi Antum harus minta ke Allah dengan sabar dan shalat.”
“Makasih sahabat,,,,,nasehatmu sungguh menentramkan. Wah,,,kemajuan pesat euy, sekarang mah omongannya udah pake dalil. Canggih. “
“Ah, ente ….kang ..kan Akang gurunya. ”
“He…he…” Akang tersenyum simpul.
Hayu ah Dik, saya duluan,  mau shalat duha dulu. Ngadu ke yang nyiptain orang yang buat flasdisk ”
***

Flash disk itu hilang. Semua data skripsinya ada disana. Sementara Akang belum sempat mengopikan filenya ke laptop. Terus….Akang dengan terpaksa harus mengulanginya dari awal. Dengan keyakinan kepada Allah bahwa hambanya-Nya yang sabar akan ditolongnya, Akang pun mencoba kembali menulis. Selembar, 2 lembar,,,sampai total 180 lembar. Untungnya waktu untuk sidang masih ada. JadiAkang tak mesti mengontrak lagi di semester depan.
“Alhamdulillah berkat pertolongan dari-Nya.”
 “Perjuangan Akang selama ini berbuah hasil yang ranum. Suamimu dulu dinobatkan sebagai lulusan terbaik seangkatan 2004. Mimpi untuk bicara di depan teman- teman seangkatan akhirnya terwujud juga. IPK nya 4,00. Menakjubkan. Dengan usaha maksimal dan doa yang konsisten dilantunkan, akhirnya semua yang dianggap mustahil oleh teman- temannya bisa juga jadi nyata. Sempat teman- teman Akangmenertawakan. Tapi, itu dijadikanya sebagai motivasi. Ejekan itu Akang rubah jadi bahan bakar untuk membakar semangat supaya berprestasi.”
“Akan kubuktikan kalau aku bisa. Oke, kalian unggul dalam hal financial, tapi akan kubuktikan bahwa aku unggul dalam hal ini, sambil akang nunjuk ke arah kepala. Maksudnya akal dan keilmuan. Dan, memang itu ampuh menjadikan Akangberprestasi”
***.

“Ternyata kehilangan Flash Disk dulu adalah cara Allah untuk meningkatkan kualitas diri Akang, Yang. Dengan kehilangan itu, menjadikan saya lebih teliti dan tidak ceroboh. Buku yang sedang saya rancang pun nampakanya tidak akan seperti sekarang ini kalau ceritanya dulu flash disk ngga hilang…… ”
“Bentar Kang, tadi Akang bilang kalau dulu sempat kehilangan flash disk. Kingston warna putih. Ada gantungan bertuliskan huruf “A”. Terus ada ……”
“Ada tulisan tanggal lahir saya. 23 November di tengah-tengahnya.” potong Ardi.
“Jadi,,,itu milik Akang?….”
“Iya,,,itu ibaratnya harta karun saya, waktu dulu. Lantas kok Neng  seakan- akan tahu flash disk itu ?”
“Bentar Kang,,,saya mau ke dalam dulu “ Kata Sarah sambil beralari menuju kamarnya.
Diambilnya flash disk yang dimaksud dari dalam kotak kecil di dalam lemari pakaiannya. Sudah diselimuti debu rupanya. Kusam. Wajar saja karena flask disk itu sudah disimpan selama sekitar 4 tahun.
“Ini bukan Kang, flash disk nya ?”
Ardi dengan penasaran,
“Subhanallah wal hamdulillah. Benar Neng ini flash disk Akang yang dulu hilang itu.”
“Saya minta maaf Kang,,,,dulu saya sempat buka isi flask disk itu. Tapi, bukan dengan maksud buat lancang melainkan hanya ingin tahu identitas pemiliknya saja. Tapi nihil. Saya tidak mendapatkan identitas pemiliknya. Eh, malah ada puisi romantis didalamnya. Dulu, saya sempat kagum sama orang yang punya flash disk itu. Sepertinya akan bahagia sekali orang yang bisa menjadi isterinya. Sebenarnya ada file dengan nama Skripsi. Tapi pas dibuka, eh malah dikunci dengan password. Ya, sudahdeh saya simpan saja. Dulu sempat juga saya titipin ke satpam mesjid. Tapi malah kelupaan. Sampai sekarang deh saya simpan. “
“Subhanallah, ini ternyata skenario Allah untuk mempertemukan kita. Sangat indah. Dulu saya sebenarnya sempat berdo’a semoga dipertemukan dan disatukan dengan wanita shalehah, penghafal Qur’an, cantik lagi ,,he he. Dan, ternyata Allah menjawab do’a Akang. Puisi yang ada di flash disk itu sebenarnya terinspirasi dari mimpi Akang.Akang sering sekali berimpi tentang seorang wanita yang kerudungnya panjang. Tapi, ia selalu menghadap ke belakang. Akang pun sangat penasaran bagaimana wajahnya. Ternyata eh ternyata, cantik banget. Ya, wanita impian saya itu ternyata isteri akangyang cantik ini. Alhamdulillah ”
“Ah, Akang bisa aja ngerayu nya. Saya jadi malu nih.” balas Sarah dengan muka yang memerah.
Tak terasa dua jam mereka berbincang dengan mesra. Maklumlah mereka masih pengantin baru. Ya, meskipun sudah setahun menikah. Tapi, dengan sebuah pernikahan yang dilandasi karena cinta kepada-Nya keluarga mereka terlihat begitu harmonis. Keluarga kecil itu jarang mengalami pertengkaran yang hebat. Kalaupun Ada,  itu hanya sesekali saja, tapi itu mampu mereka lewatinya.
“Udah ah Kang  bicaranya. Tuh liat udah jam setengah 6. Bentar lagi Maghrib!. Kita persiapan buat shalat maghrib berjama’ah di Mesjid. “
“Ok, Sayangku, manisku, cintaku….” ucap Ardi sambil mencubit gemas pipi istrinya.
***
Sebuah perjalanan kehidupan yang terlihat mudah, namun perlu kerja ekstra keras untuk mewujudkannya. Janji Allah tak pernah diingkarinya. Orang yang baik untuk orang yang baik begitupun sebaliknya. Orang yang gigih memantaskan diri akan mendapatkan orang yang pantas untuk dirinya. Dengan kekuatan cinta kepada-Nya, apapun bisa dilalui, tentunya dengan perjuangan yang maksimal.


Catatan :
Akang = Panggilan buat lelaki yang agak diatas kita (sunda)
Neng = Panggilan buat perempuan

[1] Bisa shalawatan atau melagukan syair- syair yang mengajak kepada kebaikan. Biasanya dibacakan ketika menunggu waktu shalat.

[2] Maksudnya, “Awas kamu jangan banyak omong  !  (Sunda)

[3] Ada apa ?


background