Oleh : Muhammad Irfan Ilmy (1206179)
Ilmu Pendidikan Agama Islam, FPIPS, UPI Bandung
![]() |
| Sumber : http://flipmagz.blogspot.com/2011/10/ipa-vs-ips-milih-yang-mana-coy.html |
![]() |
| Sumber : http://ira1204.wordpress.com/2011/12/17/ipa-dan-ips-adalah-sama/ |
![]() |
| Sumber : http://hanajournals.blogspot.com/2012/11/ipa-vs-ips.html |
Apakah mungkin
IPA dan IPS bisa sejajar dalam tingkatan kasta di mata khalayak ? Menjadi
setara disini bukan memaksakan jati dirinya menjadi yang lain. Bukan maksud
menjadikan IPA yang mutlak menjadi relatif layaknya IPS. Namun, memosisikan keduanya berimbang di mata
masyarakat. Sederhana sebenarnya namun tak bisa dibilang gampang. Mungkin mimpi
ini sama halnya dengan wacana kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan
yang dewasa ini makin mencuat. Bisa sebenarnya, namun buat apa ? Bukankah masing-
masing dari keduanya memiliki kemuliaan tersendiri. Bukankah dalam perannya IPS telah berhasil
berkontribusi banyak kepada Negara ? Lalu mau apa lagi ? Mungkin itu sepenggal
komentar ketika ada sebuah keinginan menjadikan IPS naik kasta ke tingkat
pertama.
Masalah
dilapangan tentang IPS
Memasuki kelas
XI SMA hal yang menarik adalah ketika pemilihan jurusan. Pilihannya masuk IPA
atau IPS ? Ini merupakan proses memilih yang tidak bisa dibilang mudah.
Pasalnya sedikit banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi masa depan
nantinya. Perlu ada semacam perenungan mendalam agar tak salah pilih. Jangan
ibarat beli kucing dalam karung. Istikharah bisa menjadi alternatif paling
pertama. Konsultasi kepada orang tua pun mesti dicoba karena mereka lebih tahu
potensi kita. Selain itu, curhat ke guru BK pun menjadi solusi yang dianggap
jitu. Sang guru pastinya memiliki berbagai jurus untuk mengorek informasi
tentang kecenderungan potensi kita. Setelah melakukan analisis, hasil yang
diperoleh bisa menjadi bahan pertimbangan penentuan jurusan.
Namun, animo
para siswa untuk masuk ke jurusan IPA biasanya lebih tinggi ketimbang jurusan
IPS. Mengapa ? Saya tidak bisa memastikan jawaban ini akurat atau tidak. Tapi,
ini hanya pandangan subjektif saya terhadap fenomena yang nampaknya sudah turun
temurun dan entah sejak kapan.
Tak perlu jauh-
jauh mencari contoh kongkrit. Saya mencontohkan sekolah saya saja. Tapi mohon
maaf saya tidak bisa menuliskan nama sekolahnya. Sebut saja sekolah “X”. Dulu
saya memilih program IPA ketika penjurusan. Alasan pengambilan keputusan itu berdasarkan
beberapa pertimbangan. Masa depan tentunya menjadi pertimbangan utama karena
saya ingin kuliah di jurusan Ilmu Komputer. Jadi, mau tidak mau saya harus
masuk jurusan IPA. Namun, sebenarnya saya sadar diri kalau kemampuan Matematika
saya jelek. Sama halnya dengan Biologi yang hafalannya sungguh membuat pusing.
Pun kimia dengan seabreg rumus dan praktikumnya. Apalagi Fisika yang ketika itu
saya sejujurnya belum pernah bisa mengerjakan satu soal pun. Miris. Anehnya,
saya terdaftar menjadi siswa di program IPA. Tepatnya IPA 6. Ini anugrah atau
musibah?. Entahlah.
Nah, coba lihat
jumlah kelas program IPA yang bisa sampai 6 kelas ! Bisa dibayangkan berapa
jumlah kelas Program IPS. Hanya 2 kelas saja. Ini menunjukan betapa program IPA
menjadi primadona para siswa.
Sebenarnya
kalaupun saat itu saya dinyatakan tidak diterima di program IPA aya akan
mencoba untuk berlapang dada. Karena, itu memang bukan ranah kapasitas saya.
Namun, karena keberbaik hatian pihak sekolah menerima saya, tidak bisa
dipungkiri kalau akhirnya saya menerimanya dengan senang hati, meskipun saya
harus siap dengan segala konsekuensinya.
Hal lain yang
menjadi pertimbangan adalah karena saya terpengaruh dengan opini banyak orang. Kelas
IPS itu tempatnya anak- anak nakal dan brutal begitu opini tersirat yang dapat
saya tangkap. Lalu yang lebih membuat saya takut adalah bahwa program IPS
adalah tempat pelarian karena tidak diterima di program IPA. Selain itu, anak-
anak IPS juga dikatakan lemah di urusan hitung menghitung. Ah, sampai saat ini
saya masih mempertanyakan apakah itu fakta atau mitos belaka. Dan masih banyak
lagi alasan kenapa saya tidak memilih program IPS waktu itu.
Sekarang saya
baru menyadari bahwa semua persepsi buruk tentang hal yang berbau IPS itu adalah
keliru. “Barangkali kebetulan saja banyak anak IPS yang nakal. Kebetulan saja
banyak anak IPS yang tidak mampu menguasai Ilmu Pasti. Kebetulan juga anak IPA
itu pada pintar dan rajin” begitu komentar Dosen Bahasa Inggris saya. Dan
rasanya tidak adil jika kita memandang IPS itu rendah dan nomor dua. IPS
sebenarnya tidak salah. Dan memang tidak pernah salah. Sumber daya manusianya
saja yang belum berkualitas. Mungkin saja mereka belum memahami hakikat,
tujuan, dan manfaat mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial. Itu saja.
Menjadi baik
itu pilihan. Begitupun halnya dengan menjadi tidak baik. Pun sama halnya
menjadi anak IPA atau IPS, itu merupakan sebuah pilihan. Jadi, ketika ada anak
cerdas yang ingin masuk program IPS tidak boleh ada seorangpun yang
mengintervensi karena itu haknya untuk memilih. Termasuk di dalamnya guru
maupun orang tua. Mestinya mereka mendukung minat siswa yang datang dari lubuk
hatinya tersebut.
Peluang Ilmu
Pengetahuan Sosial dewasa ini bisa dikatakan potensial. Alasannya karena
cakupan Ilmu ini sangatlah luas. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh
Cheppy (t.t.) bahwa “ruang lingkup IPS hampir tidak ada batasnya.” Masuk akal,
karena selama manusia masih ada di dunia ini selama itu pula masalah- masalah
sosial akan terus tumbuh layaknya jamur di musim penghujan. Masalah yang ada
pun kian kompleks karena kebutuhan manusia yang terus berdinamika.
IPS dan daya
tariknya.
Daya jangkau
Ilmu Pengetahuan Sosial amat luas. Bahkan nampaknya lebih luas ketimbang Ilmu
Pengetahuan Alam. Namun, ini tidak untuk kita perdebatkan. Saya sebagai
mahasiswa di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial tentunya harus mulai
akrab dengan yang namanya Sosial. Baik itu ilmunya sendiri atau masalah-
masalah sosial. Dan bukankah selain kita makhluk yang memiliki sisi
individualis juga merupakan sosok makhluk Sosial ? Lalu mengapa ada kesan kalau
IPS itu tak penting. Rasa- rasanya pemikiran primitif itu perlu direduksi
ulang.
Suatu hari saya
pernah berdiskusi dengan senior yang kebetulan ia adalah mahasiswa FPEB jurusan
pendidikan Ekonomi. Sebut saja Kang Robi. Beliau berujar bahwa
sebenarnya permasalahan di bidang Sosial itu lebih kompleks dan menimbulkan impact
yang sangat besar ketimbang bidang Exact. Beliau mencontohkan tentang
seorang dokter gigi dan ahli ekonomi. Kalau dokter gigi ketika salah diagnosis
maka hanya satu orang saja yang celaka. Namun bayangkan jika seorang ahli
ekonomi salah menganalisis dan menerapkan sebuah kebijakan ekonomi, misalnya saja
dalam lingkup Negara. Maka imbasnya akan dirasakan oleh sebuah warga negara. Dan
ini merupakan kelebihan dari Ilmu Pengetahuan Sosial. Jadi, tak ada alasan bagi
kita untuk memandang sebelah mata terhadap ilmu ini.
Untuk menyukai
sesuatu tentunya kita harus mengenal lebih dekat, memahami dan mengetahui tujuan
dan manfaat kita menyukainya. Pun apabila kita ingin menyenangi IPS maka kita
mesti mengetahui apa itu IPS dan manfaat mempelajarinya. Adapun pengertian IPS
adalah ilmu-ilmu yang bahasannya berkaitan dengan bidang sosial serta diajarkan
di tiap jenjang pendidikan mulai tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Ini
sejalan dengan Ali Amran Udin (dalam Ahmadi,dkk., 2003) yang menyebutkan bahwa “Social Studies atau IPS adalah
Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan- tujuan pendidikan dan pengajaran di
sekolah dasar dan menengah (elementary and secondary school).”
Menurut
Daljoeni (1981) disepanjang sejarahnya IPS selama ini memiliki 5 tujuan utama.
Dan sini saya hanya mengutip 4 tujuan saja, yaitu : (1) IPS mempersiapkan siswa
untuk studi lanjut di bidang social sciences jika ia nantinya masuk ke
perguruan tinggi. (2) IPS yang bertujuan mendidik kewargaan negara yang baik.
(3) IPS yang hakikatnya adalah suatu kompromi antara poin no 1 dan 2 tersebut
di atas. Maskudnya adalah penyederhanaan dari ilmu- ilmu sosial yang pengajarannya
disesuaikan dengan siswa maupun guru. (4) IPS yang mempelajari closed areas
yaitu masalah- masalah sosial yang pantang untuk dibicarakan di muka umum. Terlihat
jelas bahwasannya Ilmu Pengetahuan Sosial bukan ilmu yang ecek-ecek alias
rendahan. Tapi punya tujuan yang besar sebesar cakupan bahasannya.
Jalan keluar
Ilmu Pengetahuan
Sosial suatu saat nanti disinyalir akan mampu bersaing dengan Ilmu Pengetahuan Alam
dalam hal merebut perhatian publik. Namun, ini tidak akan serta merta terjadi
jika tidak ada upaya keras untuk bermetamorfosis ke arah lebih baik. Upaya ini
tentunya perlu kerjasama banyak pihak. Guru, Orang Tua, Siswa, Lembaga terkait
perlu bahu membahu untuk mengubah citra publik terhadap IPS yang terlanjur
dianggap jelek (baca: kurang baik).
Upaya kongkrit
yang bisa dilakukan untuk mengubah citra negatif terhadap IPS adalah : Pertama,
sistem seleksi penentuan diterima atau tidaknya siswa di masing- masing jurusan
(baca: IPA dan IPS) mestinya diperketat. Percuma ada seleksi kalau yang tidak
potensial tetap bisa lolos. Misalnya saja anak yang memiliki nilai IPA jelek
maka jangan dipaksakan untuk masuk IPA karena nantinya akan berdampak buruk
baik pada individu yang bersangkutan maupun sistem yang akan kita coba rubah. Kedua,
Guru atau pejabat sekolah (baca : Wakasek atau Kepala Sekolah) dianjurkan secara
simultan memberikan motivasi sedini mungkin kepada siswa kelas X bahwa kelas IPS
tidak seburuk yang dibayangkan. Selain itu, untuk menekan banyaknya siswa IPS
yang katakanlah nakal adalah melakukan pendekatan secara emosional dan
psikologi yang bisa dilakukan oleh guru BK. Ketiga, pemerintah dalam hal
ini lembaga yang memiliki kewenangan mengurusi bidang Pendidikan harusnya lebih
menggencarkan kompetisi- kompetisi di bidang IPS. Misalnya saja lomba Karya
Tulis semacam ini. Olimpiade bidang science
saja banyak, mengapa social tidak? Dengan begini, diharapkan siswa
program IPS terstimulus untuk mampu berkarya dan mengembangkan potensinya. Selain
itu, ini bertujuan agar siswa IPS mampu menuangkan gagasan briliannya melalui
pena dan kertas. Keempat, Harus
dibuat sebuah sekolah yang menjadi model bagi sekolah lain. Dalam hal ini maksudnya
sekolah yang benar- benar tidak mendiskriminasikan salah satu jurusan. Siswa
dibiasakan untuk menghargai pilihan jurusan temannya yang lain. Di sana mesti
diciptkan iklim toleransi antar siswa IPA dan IPS sehingga tidak ada konflik
baik lahir maupun batin. Kelima, siswa IPS harus mampu mengukir prestasi
dibidangnya. Menciptakan karya nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Sehingga
mematahkan paradigma bahwa siswa IPS nihil prestasi dan kontribusi sekaligus
memublikasikan bahwa jurusan IPS itu ada. Jangan sampai adanya itu seolah tiada
atau dalam bahasa arabnya disebut “wujudu ka adamihi”.
Semoga kelak
perseteruan antara pendukung IPA dan IPS akan berakhir. Sekat gaib yang
terbentang di antara keduanya diharapkan segera sirna. Dan kita berharap supaya tidak pernah ada lagi
istilah saling ejek antar kelas IPA dan IPS di tingkat Sekolah Menengah Atas. Lulusan
IPA mampu berkontribusi di bidangnya. Pun sama halnya dengan lulusan IPS. Berkontribusi
dalam mengangkat derajat bangsa Indonesia melalui karya nyata.
*Tulisan ini diikutkan pada lomba karya tulis ilmiah populer FPIPS UPI 2013
Referensi :
Ahmadi , Abu,dkk. (2003). Ilmu Sosial Dasar.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Cheppy. (t.t.).
Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya : Usana Offset.
Daldjoeni, N. (1981).
Dasar- dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung : Penerbit Alumni.




0 komentar for "JANGAN ADA KASTA DI ANTARA KITA"
Post a Comment