Sunday, 5 May 2013

JANGAN ADA KASTA DI ANTARA KITA



Oleh : Muhammad Irfan Ilmy (1206179)
Ilmu Pendidikan Agama Islam, FPIPS, UPI Bandung



Sumber : http://flipmagz.blogspot.com/2011/10/ipa-vs-ips-milih-yang-mana-coy.html

Sumber : http://ira1204.wordpress.com/2011/12/17/ipa-dan-ips-adalah-sama/

Sumber : http://hanajournals.blogspot.com/2012/11/ipa-vs-ips.html


Apakah mungkin IPA dan IPS bisa sejajar dalam tingkatan kasta di mata khalayak ? Menjadi setara disini bukan memaksakan jati dirinya menjadi yang lain. Bukan maksud menjadikan IPA yang mutlak menjadi relatif layaknya IPS. Namun,  memosisikan keduanya berimbang di mata masyarakat. Sederhana sebenarnya namun tak bisa dibilang gampang. Mungkin mimpi ini sama halnya dengan wacana kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan yang dewasa ini makin mencuat. Bisa sebenarnya, namun buat apa ? Bukankah masing- masing dari keduanya memiliki kemuliaan tersendiri.  Bukankah dalam perannya IPS telah berhasil berkontribusi banyak kepada Negara ? Lalu mau apa lagi ? Mungkin itu sepenggal komentar ketika ada sebuah keinginan menjadikan IPS naik kasta ke tingkat pertama.

Masalah dilapangan tentang IPS
Memasuki kelas XI SMA hal yang menarik adalah ketika pemilihan jurusan. Pilihannya masuk IPA atau IPS ? Ini merupakan proses memilih yang tidak bisa dibilang mudah. Pasalnya sedikit banyak keputusan yang kita ambil mempengaruhi masa depan nantinya. Perlu ada semacam perenungan mendalam agar tak salah pilih. Jangan ibarat beli kucing dalam karung. Istikharah bisa menjadi alternatif paling pertama. Konsultasi kepada orang tua pun mesti dicoba karena mereka lebih tahu potensi kita. Selain itu, curhat ke guru BK pun menjadi solusi yang dianggap jitu. Sang guru pastinya memiliki berbagai jurus untuk mengorek informasi tentang kecenderungan potensi kita. Setelah melakukan analisis, hasil yang diperoleh bisa menjadi bahan pertimbangan penentuan jurusan. 
Namun, animo para siswa untuk masuk ke jurusan IPA biasanya lebih tinggi ketimbang jurusan IPS. Mengapa ? Saya tidak bisa memastikan jawaban ini akurat atau tidak. Tapi, ini hanya pandangan subjektif saya terhadap fenomena yang nampaknya sudah turun temurun dan entah sejak kapan.
Tak perlu jauh- jauh mencari contoh kongkrit. Saya mencontohkan sekolah saya saja. Tapi mohon maaf saya tidak bisa menuliskan nama sekolahnya. Sebut saja sekolah “X”. Dulu saya memilih program IPA ketika penjurusan. Alasan pengambilan keputusan itu berdasarkan beberapa pertimbangan. Masa depan tentunya menjadi pertimbangan utama karena saya ingin kuliah di jurusan Ilmu Komputer. Jadi, mau tidak mau saya harus masuk jurusan IPA. Namun, sebenarnya saya sadar diri kalau kemampuan Matematika saya jelek. Sama halnya dengan Biologi yang hafalannya sungguh membuat pusing. Pun kimia dengan seabreg rumus dan praktikumnya. Apalagi Fisika yang ketika itu saya sejujurnya belum pernah bisa mengerjakan satu soal pun. Miris. Anehnya, saya terdaftar menjadi siswa di program IPA. Tepatnya IPA 6. Ini anugrah atau musibah?. Entahlah.
Nah, coba lihat jumlah kelas program IPA yang bisa sampai 6 kelas ! Bisa dibayangkan berapa jumlah kelas Program IPS. Hanya 2 kelas saja. Ini menunjukan betapa program IPA menjadi primadona para siswa. 
Sebenarnya kalaupun saat itu saya dinyatakan tidak diterima di program IPA aya akan mencoba untuk berlapang dada. Karena, itu memang bukan ranah kapasitas saya. Namun, karena keberbaik hatian pihak sekolah menerima saya, tidak bisa dipungkiri kalau akhirnya saya menerimanya dengan senang hati, meskipun saya harus siap dengan segala konsekuensinya.
Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah karena saya terpengaruh dengan opini banyak orang. Kelas IPS itu tempatnya anak- anak nakal dan brutal begitu opini tersirat yang dapat saya tangkap. Lalu yang lebih membuat saya takut adalah bahwa program IPS adalah tempat pelarian karena tidak diterima di program IPA. Selain itu, anak- anak IPS juga dikatakan lemah di urusan hitung menghitung. Ah, sampai saat ini saya masih mempertanyakan apakah itu fakta atau mitos belaka. Dan masih banyak lagi alasan kenapa saya tidak memilih program IPS waktu itu.
Sekarang saya baru menyadari bahwa semua persepsi buruk tentang hal yang berbau IPS itu adalah keliru. “Barangkali kebetulan saja banyak anak IPS yang nakal. Kebetulan saja banyak anak IPS yang tidak mampu menguasai Ilmu Pasti. Kebetulan juga anak IPA itu pada pintar dan rajin” begitu komentar Dosen Bahasa Inggris saya. Dan rasanya tidak adil jika kita memandang IPS itu rendah dan nomor dua. IPS sebenarnya tidak salah. Dan memang tidak pernah salah. Sumber daya manusianya saja yang belum berkualitas. Mungkin saja mereka belum memahami hakikat, tujuan, dan manfaat mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial. Itu saja.
Menjadi baik itu pilihan. Begitupun halnya dengan menjadi tidak baik. Pun sama halnya menjadi anak IPA atau IPS, itu merupakan sebuah pilihan. Jadi, ketika ada anak cerdas yang ingin masuk program IPS tidak boleh ada seorangpun yang mengintervensi karena itu haknya untuk memilih. Termasuk di dalamnya guru maupun orang tua. Mestinya mereka mendukung minat siswa yang datang dari lubuk hatinya tersebut.  
Peluang Ilmu Pengetahuan Sosial dewasa ini bisa dikatakan potensial. Alasannya karena cakupan Ilmu ini sangatlah luas. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh Cheppy (t.t.) bahwa “ruang lingkup IPS hampir tidak ada batasnya.” Masuk akal, karena selama manusia masih ada di dunia ini selama itu pula masalah- masalah sosial akan terus tumbuh layaknya jamur di musim penghujan. Masalah yang ada pun kian kompleks karena kebutuhan manusia yang terus berdinamika.

IPS dan daya tariknya.
Daya jangkau Ilmu Pengetahuan Sosial amat luas. Bahkan nampaknya lebih luas ketimbang Ilmu Pengetahuan Alam. Namun, ini tidak untuk kita perdebatkan. Saya sebagai mahasiswa di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial tentunya harus mulai akrab dengan yang namanya Sosial. Baik itu ilmunya sendiri atau masalah- masalah sosial. Dan bukankah selain kita makhluk yang memiliki sisi individualis juga merupakan sosok makhluk Sosial ? Lalu mengapa ada kesan kalau IPS itu tak penting. Rasa- rasanya pemikiran primitif itu perlu direduksi ulang. 
Suatu hari saya pernah berdiskusi dengan senior yang kebetulan ia adalah mahasiswa FPEB jurusan pendidikan Ekonomi. Sebut saja Kang Robi. Beliau berujar bahwa sebenarnya permasalahan di bidang Sosial itu lebih kompleks dan menimbulkan impact yang sangat besar ketimbang bidang Exact. Beliau mencontohkan tentang seorang dokter gigi dan ahli ekonomi. Kalau dokter gigi ketika salah diagnosis maka hanya satu orang saja yang celaka. Namun bayangkan jika seorang ahli ekonomi salah menganalisis dan menerapkan sebuah kebijakan ekonomi, misalnya saja dalam lingkup Negara. Maka imbasnya akan dirasakan oleh sebuah warga negara. Dan ini merupakan kelebihan dari Ilmu Pengetahuan Sosial. Jadi, tak ada alasan bagi kita untuk memandang sebelah mata terhadap ilmu ini.   
Untuk menyukai sesuatu tentunya kita harus mengenal lebih dekat, memahami dan mengetahui tujuan dan manfaat kita menyukainya. Pun apabila kita ingin menyenangi IPS maka kita mesti mengetahui apa itu IPS dan manfaat mempelajarinya. Adapun pengertian IPS adalah ilmu-ilmu yang bahasannya berkaitan dengan bidang sosial serta diajarkan di tiap jenjang pendidikan mulai tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Ini sejalan dengan Ali Amran Udin (dalam Ahmadi,dkk., 2003)  yang menyebutkan bahwa  “Social Studies atau IPS adalah Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan- tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah (elementary and secondary school).”
Menurut Daljoeni (1981) disepanjang sejarahnya IPS selama ini memiliki 5 tujuan utama. Dan sini saya hanya mengutip 4 tujuan saja, yaitu : (1) IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut di bidang social sciences jika ia nantinya masuk ke perguruan tinggi. (2) IPS yang bertujuan mendidik kewargaan negara yang baik. (3) IPS yang hakikatnya adalah suatu kompromi antara poin no 1 dan 2 tersebut di atas. Maskudnya adalah penyederhanaan dari ilmu- ilmu sosial yang pengajarannya disesuaikan dengan siswa maupun guru. (4) IPS yang mempelajari closed areas yaitu masalah- masalah sosial yang pantang untuk dibicarakan di muka umum. Terlihat jelas bahwasannya Ilmu Pengetahuan Sosial bukan ilmu yang ecek-ecek alias rendahan. Tapi punya tujuan yang besar sebesar cakupan bahasannya.

Jalan keluar
Ilmu Pengetahuan Sosial suatu saat nanti disinyalir akan mampu bersaing dengan Ilmu Pengetahuan Alam dalam hal merebut perhatian publik. Namun, ini tidak akan serta merta terjadi jika tidak ada upaya keras untuk bermetamorfosis ke arah lebih baik. Upaya ini tentunya perlu kerjasama banyak pihak. Guru, Orang Tua, Siswa, Lembaga terkait perlu bahu membahu untuk mengubah citra publik terhadap IPS yang terlanjur dianggap jelek (baca: kurang baik).
Upaya kongkrit yang bisa dilakukan untuk mengubah citra negatif terhadap IPS adalah : Pertama, sistem seleksi penentuan diterima atau tidaknya siswa di masing- masing jurusan (baca: IPA dan IPS) mestinya diperketat. Percuma ada seleksi kalau yang tidak potensial tetap bisa lolos. Misalnya saja anak yang memiliki nilai IPA jelek maka jangan dipaksakan untuk masuk IPA karena nantinya akan berdampak buruk baik pada individu yang bersangkutan maupun sistem yang akan kita coba rubah. Kedua, Guru atau pejabat sekolah (baca : Wakasek atau Kepala Sekolah) dianjurkan secara simultan memberikan motivasi sedini mungkin kepada siswa kelas X bahwa kelas IPS tidak seburuk yang dibayangkan. Selain itu, untuk menekan banyaknya siswa IPS yang katakanlah nakal adalah melakukan pendekatan secara emosional dan psikologi yang bisa dilakukan oleh guru BK. Ketiga, pemerintah dalam hal ini lembaga yang memiliki kewenangan mengurusi bidang Pendidikan harusnya lebih menggencarkan kompetisi- kompetisi di bidang IPS. Misalnya saja lomba Karya Tulis semacam ini.  Olimpiade bidang science saja banyak, mengapa social tidak? Dengan begini, diharapkan siswa program IPS terstimulus untuk mampu berkarya dan mengembangkan potensinya. Selain itu, ini bertujuan agar siswa IPS mampu menuangkan gagasan briliannya melalui pena dan kertas. Keempat,  Harus dibuat sebuah sekolah yang menjadi model bagi sekolah lain. Dalam hal ini maksudnya sekolah yang benar- benar tidak mendiskriminasikan salah satu jurusan. Siswa dibiasakan untuk menghargai pilihan jurusan temannya yang lain. Di sana mesti diciptkan iklim toleransi antar siswa IPA dan IPS sehingga tidak ada konflik baik lahir maupun batin. Kelima, siswa IPS harus mampu mengukir prestasi dibidangnya. Menciptakan karya nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Sehingga mematahkan paradigma bahwa siswa IPS nihil prestasi dan kontribusi sekaligus memublikasikan bahwa jurusan IPS itu ada. Jangan sampai adanya itu seolah tiada atau dalam bahasa arabnya disebut “wujudu ka adamihi”.
Semoga kelak perseteruan antara pendukung IPA dan IPS akan berakhir. Sekat gaib yang terbentang di antara keduanya diharapkan segera sirna.  Dan kita berharap supaya tidak pernah ada lagi istilah saling ejek antar kelas IPA dan IPS di tingkat Sekolah Menengah Atas. Lulusan IPA mampu berkontribusi di bidangnya. Pun sama halnya dengan lulusan IPS. Berkontribusi dalam mengangkat derajat bangsa Indonesia melalui karya nyata.   

*Tulisan ini diikutkan pada lomba karya tulis ilmiah populer FPIPS UPI 2013

Referensi :
Ahmadi , Abu,dkk. (2003). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Cheppy. (t.t.). Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya : Usana Offset.
Daldjoeni, N. (1981). Dasar- dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung : Penerbit Alumni. 

Filed Under :

0 komentar for "JANGAN ADA KASTA DI ANTARA KITA"

Post a Comment

background