Sebuah Keterpaksaan
oleh : Muhammad Irfan
Ilmy
Suatu saat
Rani merengek kepada ayahnya, Pak Gani.
“Bapak,
kenapa Rani terlahir dalam keadaan seperti ini ? Miskin , melarat, sengsara ? “
Pak Gani
mengernyitkan keningnya. Ia terkejut mendengar pertanyaan dari putrinya itu.
Tak pernah
terbersit dalam benaknya kalau Rani akan bertanya seperti itu.
“Ah, nak,
ini memang nasib kita. Tak perlu kamu bertanya seperti itu lagi. Terima saja
keadaan ini. Toh dengan mengeluh juga kita tak akan berubah jadi konglomerat. “
ia menjawabnya dengan raut muka yang sedikit marah dan suara yang meninggi.
Sebuah
jawaban yang tidak diharapkan pula oleh Rani. Sebenarnya ia berharap jawaban
yang sedikit menggembirakan hatinya. Barangkali pertanyaan itu awalnya ia
lontarkan agar bapaknya berfikir dan mau bekerja lebih keras lagi. Tapi..... ah dasar orang malas. Mungkin itu kata
hati liar yang meronta- ronta dibenak Rani, seorang anak gadis yang umurnya
menginjak 15 tahun.
***
Setelah Pak
Gani melontarkan pernyataan itu kepada
putrinya ia menyesal. Ia membenci dirinya sendiri yang tidak mampu bijak dalam
menjawab pertanyaan dari putrinya itu.
“Andai saja
saya memberikan pengertian kepadanya lebih halus lagi, mungkin ia tidak akan
tersakiti hatinya. Ah...bodohnya aku” lirihnya.
“ Pak, ini
singkong rebusnya. “ suara Rani agak parau.
Sapaan itu
mengegetkannya. Ia buru- buru memasang mimik muka yang ceria, padahal
sebenarnya ia sedang marah terhadap dirinya sendiri atas tindakannya yang salah
pada Rani.
“Oh, terima
kasih nak,, taruh saja di atas tikar itu. Bapak belum lapar.“
Rani
menuruti permintaan bapaknya itu. Ia kembali ke ruangan kecil seukuran 2x2 yang
mereka sebut itu dapur. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya menanak nasi
dan menggoreng terasi untuk teman makan ia dan ayahnya. Hanya terasi. Paling
mewah dengan ikan asin. Itupun hanya 4 hari sekali.
***
Malam harinya,
Pak Gani hanya sendiri di kontrakannya itu. Rani entah pergi kemana, yang jelas ia tak berpamitan
kepadanya. Tak seperti biasanya.
“Mungkinkah
ia benar- benar marah kepadaku ? “
Pak Gani
tiba- tiba melihat sebuah kertas merah jambu yang nampaknya kusut dan dipenuhi
noda- noda hitam. Ia langsung mengambil kertas itu yang terletak di bawah
tumpukkan baju- baju Rani. Ternyata itu sebuah amplop bekas. Sepertinya itu
salah satu barang yang kemarin Rani ambil di tempat sampah dekat rumah orang
kaya. Dengan penasaran, Pak Gani pun membukanya. Dengan hati- hati ia
mengangkat sepucuk surat yang ada di dalam amplop itu. Amplop itu sedikit basah,
sehingga warna amlop merah jambu itu memudar dan sedikit memutih. Nampaknya
hujan semalam itu merembes lewat genting yang bocor dan membasahi amplop itu.
Aku benci
sama Bapak,,,, ia tak mengerti perasaanku sedikitpun. Aku hanya ingim seperti
mereka. Aku ingin makan 3x sehari dengan lauk yang enak pula. Aku ingin punya
handphone yang mewah seperti anak orang kaya itu. Aku ingin sekolah dan bersama
dengan anak- anak orang kaya. Tapi.....ia malah berkata demikian. Tak
berperasaan sama sekali.
Andai
saja aku hidup di tengah- tengah keluarga kaya, maka aku tidak akan menderita
seperti ini. Andai saja aku seperti mereka. Tapi sepertinya tidak mungkin. Aku
dan bapakku hanya keluarga pemulung. Buat makan aja susah. Apalagi buat beli
baju, beli HP, dan sekolah; rasa- rasanya mustahil.
Ya
Tuhan,,.,,,, kuatkan aku, semoga suatu saat aku bisa hidup lebih baik dari
sekarang. Semoga suatu saat nanti kami bisa hidup lebih layak. Dan aku percaya
itu.
Air mata
perlahan menetes dari kedua mata sayu pak Gani. Ia seperti tersengat setrum
yang membuatnya terpukul seperti ini. Ternyata dugaannya benar, Rani marah dan
tidak terima dengan perlakuannya itu.
“ Aku jahat,
benar- benar tidak berperasaan sama sekali. “ ia memaki dirinya sendiri.
***
Keesokan
harinya, Pa Gani pergi pagi- pagi sekali. Jam 5 pagi ia sudah menghilang dari
kontrakannya. Tak seperti biasanya. Rani pun heran karena bapaknya itu tidak
memberi tahu sebelumnya kemana ia akan pergi.
Sementara itu,
di tempat lain pak Gani Berdebar- debar jantungnya. Ia akan mengambil sebuah
tindakan yang sebelumnya ia benci. Tindakan yang tak pernah terbersit
sebelumnya untuk ia lakukan. Tindakan yang lebih hina daripada hanya sekedar memulung.
Tapi ini terpaksa ia lakukan semata-
mata agar anaknya Rani bahagia. Ia sudah tidak berpikir sehat lagi. Pikirannya
telah dirasuki oleh syaitan sehingga ia bertindak di bawah kendali akal
sehatnya.
“Maling,,,,,,
maling.......maling ...”
Teriakan
salah seorang bapak- bapak tua mengagetkan warga yang ada di kampung
Sukamiskin. Hitungan menit kemudian para
warga telah berkerumun di arah sumber suara. Bapak- bapak tua itu
kemudian memberitahukan bahwa kotak perhiasan isterinya raib, dan ia melihat
seseorang yang mukanya di tutupi sarung dan dengan cepat meloncat lari ke arah
belakang.
Tanpa pikir
panjang para pemuda dan bapak- bapak di kerumunan itu langsung berlari mengejar
sang maling yang tak lain adalah Pak Gani.
Malang nasib
Pak Gani,,,,, ia berlari ke arah yang salah. Jalan yang ia ambil itu adalah
jalan buntu. Maklum saja, ia tak terlalu paham jalan di daerah itu dan ini
pengalaman pertamanya maling. Jadi, ia hanya melakukan sebuah tindakan konyol
yang akan membahayakan dirinya sendiri.
Dengan sigap,
Mang Amir yang tak lain hansip di kampung itu langsung meraih sarung yang
menutupi muka Pak Gani. Ia seketika menariknya sekuat tenaga, dan Pak Gani
kalah kuat dengannya. Ia terpental ke belakang dan jatuh seketika.
Malang nasib
lelaki 40 tahunan itu. Ia dihakimi warga yang kesal dengan tindakan yang ia
lakukan. Ia pun tak selamat. Meninggal dalam sebuah kesia- siaan. Meninggal
dengan tujuan mulia tapi memilih cara yang salah. Bukan kebahagiaan anaknya
yang telah ia berikan, namun tindakannya hanya menambah kesedihan bagi Rani,
karena Rani sekarang akan menjadi sebatang kara. Rani akan benar- benar sendiri
sekarang.
0 komentar for " "
Post a Comment