Monday, 15 April 2013


 

Sebuah Keterpaksaan
oleh : Muhammad Irfan Ilmy



 Malang benar nasib keduanya, bersahabat dengan ketiadaan. Berteman dengan bau-bau busuk yang menusuk- nusuk setiap hidung yang menciumnya. Saking tak beradanya mereka, pakaian pun hanya yang mereka kenakan dan dua sampai tiga potong yang ada di lemari bututnya. Beginilah realitanya. Entah karena salah pemerintah atau ini adalah murni kesalahan Pak Gani sendiri yang dulu ketika ia masih muda berleha- leha dalam bekerja. Beruntung ia tak sendiri bertahan hidup di dunia ini. Ada Rani, putrinya yang selalu setia menemani dan membantunya.
Suatu saat Rani merengek kepada ayahnya, Pak Gani.
“Bapak, kenapa Rani terlahir dalam keadaan seperti ini ? Miskin , melarat, sengsara ? “
Pak Gani mengernyitkan keningnya. Ia terkejut mendengar pertanyaan dari putrinya itu.
Tak pernah terbersit dalam benaknya kalau Rani akan bertanya seperti itu.
“Ah, nak, ini memang nasib kita. Tak perlu kamu bertanya seperti itu lagi. Terima saja keadaan ini. Toh dengan mengeluh juga kita tak akan berubah jadi konglomerat. “ ia menjawabnya dengan raut muka yang sedikit marah dan suara yang meninggi.
Sebuah jawaban yang tidak diharapkan pula oleh Rani. Sebenarnya ia berharap jawaban yang sedikit menggembirakan hatinya. Barangkali pertanyaan itu awalnya ia lontarkan agar bapaknya berfikir dan mau bekerja lebih keras lagi.  Tapi..... ah dasar orang malas. Mungkin itu kata hati liar yang meronta- ronta dibenak Rani, seorang anak gadis yang umurnya menginjak 15 tahun.

***
Setelah Pak Gani melontarkan pernyataan  itu kepada putrinya ia menyesal. Ia membenci dirinya sendiri yang tidak mampu bijak dalam menjawab pertanyaan dari putrinya itu.
“Andai saja saya memberikan pengertian kepadanya lebih halus lagi, mungkin ia tidak akan tersakiti hatinya. Ah...bodohnya aku” lirihnya.

“ Pak, ini singkong rebusnya. “ suara Rani agak parau.
Sapaan itu mengegetkannya. Ia buru- buru memasang mimik muka yang ceria, padahal sebenarnya ia sedang marah terhadap dirinya sendiri atas tindakannya yang salah pada Rani.
“Oh, terima kasih nak,, taruh saja di atas tikar itu. Bapak belum lapar.“
Rani menuruti permintaan bapaknya itu. Ia kembali ke ruangan kecil seukuran 2x2 yang mereka sebut itu dapur. Ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya menanak nasi dan menggoreng terasi untuk teman makan ia dan ayahnya. Hanya terasi. Paling mewah dengan ikan asin. Itupun hanya 4 hari sekali.
***

Malam harinya, Pak Gani hanya sendiri di kontrakannya itu. Rani entah pergi  kemana, yang jelas ia tak berpamitan kepadanya. Tak seperti biasanya.
“Mungkinkah ia benar- benar marah kepadaku ? “

Pak Gani tiba- tiba melihat sebuah kertas merah jambu yang nampaknya kusut dan dipenuhi noda- noda hitam. Ia langsung mengambil kertas itu yang terletak di bawah tumpukkan baju- baju Rani. Ternyata itu sebuah amplop bekas. Sepertinya itu salah satu barang yang kemarin Rani ambil di tempat sampah dekat rumah orang kaya. Dengan penasaran, Pak Gani pun membukanya. Dengan hati- hati ia mengangkat sepucuk surat yang ada di dalam amplop itu. Amplop itu sedikit basah, sehingga warna amlop merah jambu itu memudar dan sedikit memutih. Nampaknya hujan semalam itu merembes lewat genting yang bocor dan membasahi amplop itu.

Aku benci sama Bapak,,,, ia tak mengerti perasaanku sedikitpun. Aku hanya ingim seperti mereka. Aku ingin makan 3x sehari dengan lauk yang enak pula. Aku ingin punya handphone yang mewah seperti anak orang kaya itu. Aku ingin sekolah dan bersama dengan anak- anak orang kaya. Tapi.....ia malah berkata demikian. Tak berperasaan sama sekali.
Andai saja aku hidup di tengah- tengah keluarga kaya, maka aku tidak akan menderita seperti ini. Andai saja aku seperti mereka. Tapi sepertinya tidak mungkin. Aku dan bapakku hanya keluarga pemulung. Buat makan aja susah. Apalagi buat beli baju, beli HP, dan sekolah; rasa- rasanya mustahil.
Ya Tuhan,,.,,,, kuatkan aku, semoga suatu saat aku bisa hidup lebih baik dari sekarang. Semoga suatu saat nanti kami bisa hidup lebih layak. Dan aku percaya itu.
Air mata perlahan menetes dari kedua mata sayu pak Gani. Ia seperti tersengat setrum yang membuatnya terpukul seperti ini. Ternyata dugaannya benar, Rani marah dan tidak terima dengan perlakuannya itu.
“ Aku jahat, benar- benar tidak berperasaan sama sekali. “ ia memaki dirinya sendiri.

***
Keesokan harinya, Pa Gani pergi pagi- pagi sekali. Jam 5 pagi ia sudah menghilang dari kontrakannya. Tak seperti biasanya. Rani pun heran karena bapaknya itu tidak memberi tahu sebelumnya kemana ia akan pergi.
Sementara itu, di tempat lain pak Gani Berdebar- debar jantungnya. Ia akan mengambil sebuah tindakan yang sebelumnya ia benci. Tindakan yang tak pernah terbersit sebelumnya untuk ia lakukan. Tindakan yang lebih hina daripada hanya sekedar memulung.  Tapi ini terpaksa ia lakukan semata- mata agar anaknya Rani bahagia. Ia sudah tidak berpikir sehat lagi. Pikirannya telah dirasuki oleh syaitan sehingga ia bertindak di bawah kendali akal sehatnya.

“Maling,,,,,, maling.......maling ...”
Teriakan salah seorang bapak- bapak tua mengagetkan warga yang ada di kampung Sukamiskin. Hitungan menit kemudian para  warga telah berkerumun di arah sumber suara. Bapak- bapak tua itu kemudian memberitahukan bahwa kotak perhiasan isterinya raib, dan ia melihat seseorang yang mukanya di tutupi sarung dan dengan cepat meloncat lari ke arah belakang.
Tanpa pikir panjang para pemuda dan bapak- bapak di kerumunan itu langsung berlari mengejar sang maling yang tak lain adalah Pak Gani.
Malang nasib Pak Gani,,,,, ia berlari ke arah yang salah. Jalan yang ia ambil itu adalah jalan buntu. Maklum saja, ia tak terlalu paham jalan di daerah itu dan ini pengalaman pertamanya maling. Jadi, ia hanya melakukan sebuah tindakan konyol yang akan membahayakan dirinya sendiri.
Dengan sigap, Mang Amir yang tak lain hansip di kampung itu langsung meraih sarung yang menutupi muka Pak Gani. Ia seketika menariknya sekuat tenaga, dan Pak Gani kalah kuat dengannya. Ia terpental ke belakang dan  jatuh seketika.
Malang nasib lelaki 40 tahunan itu. Ia dihakimi warga yang kesal dengan tindakan yang ia lakukan. Ia pun tak selamat. Meninggal dalam sebuah kesia- siaan. Meninggal dengan tujuan mulia tapi memilih cara yang salah. Bukan kebahagiaan anaknya yang telah ia berikan, namun tindakannya hanya menambah kesedihan bagi Rani, karena Rani sekarang akan menjadi sebatang kara. Rani akan benar- benar sendiri sekarang.    


Filed Under :

0 komentar for " "

Post a Comment

background