Wednesday, 28 November 2012

Kampusku Bagus, Kampusku Religius



Kampusku Bagus, Kampusku Religius



Menjadi mahasiswa baru di UPI rasanya tak bisa tergambarkan dengan pensil warna, tidak bisa dilukiskan diatas kanvas, apalagi hanya ditulis diatas secarik kertas. Sangat tidak bisa. Ada rasa yang tidak bisa untuk diceritakan tapi hanya bisa dirasakan saja. Hanya orang yang tangguh yang bisa masuk dan berkelana di Rimba Bumi Siliwangi ini. Dahulu, banyak yang gugur diluar sana ketika pertempuran memperebutkan kursi empuk di Kampus ini. Jadi kami yang bisa ada disini adalah pejuang- pejuang terpilih.
Namun, jangan pernah terlena !. Ribuan orang terpilih ini akan tersaring lagi menjadi orang yang lebih tangguh. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tetap berada di zona nyaman. Kami harus kembali bertarung untuk meraih asa kami menjadi pemenang.  
Aku bangga menjadi bagian dari Universitas ini, yakni Universitas Pendidikan Indonesia. Nama yang gagah menyandang nama Pendidikan. Orang mengatakan bahwa UPI merupakan kampus yang sangat baik terutama dalam menghasilkan sarjana- sarjana pendidikan.  Namun, tidak hanya itu di kampusku juga ada program studi yang non- pendidikan. Jadi lulusannya tidak hanya di fokuskan untuk menjadi seorang pendidik saja. Oleh karena kita tidak usah khawatir dengan berkuliah di UPI. Kuliah di UPI tidak mesti jadi seorang pendidik. Jadi sekarang marilah belajar dengan sungguh- sungguh, masalah profesi yang akan diambil itu urusan nanti, karena setiap orang telah memiliki garis takdir untuk masalah tersebut. Hasil tentunya akan mengikuti proses. Sekarang kita di UPI ini belajar dengan sungguh- sungguh dan mengerahkan seluruh potensi meskipun harus berlelah- lelah berkutat dalam keletihan, maka hasilnya dapat dipastikan tidak akan mengecewakan. Hasil akan mengikuti proses.
Awalnya tidak pernah diri ini menginjakan kaki di kampus UPI yang megah. UPI hanya ada di dalam alam khayal. Ketika itu yang dilakukan adalah mencoba menata bayangan sekreatif mungkin untuk menggambarkan bentuk dan tata letak kampus UPI, itu memang terjadi dan saya alami. Sebenarnya pernah juga saya melihat kampus UPI, namun itu hanya kampus daerah UPI di Tasikmalaya dan ketika itu saya tidak puas. Bukan ini yang saya cari.
Pernah beberapa kali ditolak oleh UPI alias tidak diterima karena memang saya selalu menjadikannya pilihan kedua di SNMPTN. SNMPTN tahun 2011 kemarin saya memilih prodi Ilmu Komputer UPI, dan harus diakui bahwa kemampuan saya tidak mumpuni untuk bisa memasukinya. Ketika itu yang bisa dilakukan adalah hanya menelan air liur, saking kecewa dan tidak bisa habis fikir kenapa saya bisa tidak diterima sementara teman- teman sekelas tembus SNMPTN dan berhasil merebut kursi prodi yang diinginkannya di UPI.
Butuh waktu satu tahun menanti hingga saya bisa berdiri mengais ilmu di Kampus Bumi Siliwangi. Ternyata saya mengalami penolakan yang ketiga kalinya dari UPI. Kejadian tidak diterima di prodi yang diminati, yakni ilmu Komputer  kembali terulang. Namun, akhirnya saya diterima di Prodi yang sebenarnya tidak pernah ada dicoretan mimpi- mimpi saya dulu. Saya dinyatakan diterima di Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam lewat jalur Seleksi Mandiri. Bangga sekaligus sedih juga karena tidak diterima di pilihan pertama. Namun, perlahan tapi pasti saya mulai menyadari bahwa ini adalah yang terbaik dari pilihan terbaik lainnya.
Pertama kali menginjakan kaki di Kampus UPI bumi siliwangi yang terlihat jelas dari depan adalah mesjid kampusnya. Dari kejauhan terlihat kemegahan mesjid dengan arsitektur sangat indah. Mesjidnya saja bagus dan indah, apalagi kehidupan kampusnya. Begitulah hipotesa yang bisa disimpulkan ketika itu.  
UPI memiliki motto : UPI sebagai kampus yang ilmiah, edukatif dan religius.  Berwibawa sekali motto tersebut. Namun, yang saya akan garis bawahi adalah UPI sebagai kampus yang religius. Apakah motto tersebut sudah menjadi hal yang nyata atau hanya angan-angan belaka ? Tentunya kita tidak boleh menjustifikasi bahwa UPI belum sampai ke arah motto tersebut. Yang perlu kita lakukan adalah mengapresiasi setiap kemajuan stake holder UPI terkait, yang telah berhasil mendekatkan realisasi motto tersebut. Sebisa mungkin kita harus berperan aktif dalam mendukung upaya mulia tersebut, jangan justru berkontradiksi dengan setiap upaya yang dilakukan.
Lalu apa tolak ukur UPI sebagai kampus yang religius ? pertanyaan ini selalu membayangi pikiran saya diawal masuk UPI. Akan tetapi, perlahan namun pasti saya mulai bisa menemukan beberapa hal yang merupakan bukti nyata dari motto UPI sebagai kampus yang religius. Fakta itu antara lain adalah :
a.       Ada kurang lebih 6 UKM yang bergerak dalam bidang kerohanian islam, diantarnya UKDM, KALAM, UPTQ, BAQI dan lain-lain.
b.      Banyakanya mahasiswi muslim yang mengenakan pakaian tertutup dan berkerudung panjang, hal ini merupakan sebuah bukti ketaatan mereka terhadap ajaran islam.
c.       Banyaknya acara- acara keagamaan yang diadakan di Islamic Tutorial Center atau mesjid Al-Furqon baik itu berupa kajian ataupun kegiatan peribadahan.
d.      Integrasi antara mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan kegiatan Tutorial yang merupakan kegiatan unggulan di UPI. Selain itu dipadukan pula dengan tes baca Qur’an bagi seluruh mahasiswa baru sebagai aspek penilaian dalam penentuan kelulusan mata kuliah Pendidikan Agama Islam
e.       Antusisme tinggi civitas akademika UPI untuk melakukan shalat berjama’ah atau shalat duha di mesjid Al- Furqon.
f.       Prestasi Mahasiswa UPI yang berhasil menjadi salah satu juara pada kegiatan MTQ Nasional.
g.      Adanya program studi yang memang concern di bidang Islam yaitu Program studi Bahasa Arab dan Ilmu Pendidikan Agama Islam.

Beberapa fakta tersebut tentunya bisa dijadikan tolak ukur bahwa UPI sebagai kampus religius, bukan merupakan isapan jempol semata, namun merupakan sebuah kenyataan. Kita harus bangga bisa berada di lingkungan yang kental dengan kehidupan yang religius disamping berada dilingkungan yang ilmiah.
Orang- orang pun sering kali melontarkan sebuah plesetan tentang kepanjangan UPI, yaitu Universitas Pesantren Indonesia. ya wajarlah itu hanya iseng segelintir orang, akan tetapi mungkin itu juga bisa menjadi do’a yang suatu saat tidak menutup kemungkinan menjadi hal yang nyata.
Sikap kita terhadap sebuah keinginan menjadikan UPI yang religius adalah mendukungnya dengan sepenuh hati. Apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi maka lakukanlah. Mimpi besar ini tidak akan terwujud tanpa kerja sama semua pihak, termasuk kita, mahasiswa UPI. Mahasiswa tentunya memiliki peran yang strategis dalam mewujudkan mimpi ini. Mahasiswa memiliki pemikiran yang jernih dan tidak terkontaminasi oleh kepentingan- kepentingan. Mungkin kita sebagai mahasiswa  bisa berkontribusi dengan pemikiran- pemikiran yang dituangkan ke dalam sebuah acara- acara yang bermanfaat dan difokuskan untuk menambah atau merangsang jiwa religius civitas akademika UPI.
Alangkah rindunya kita dengan kehidupan yang berlandaskan perilaku religius. Mengerjakan segala sesuatu dengan landasan spiritual yang tinggi. Melalui semangat mewujudkan UPI yang religius dengan pengamalan ajaran agama yang kuat, maka marilah kita secara sadar berupaya menuju ke arah sana lewat segala hal yang tentunya bisa kita lakukan. Kita yang berperan sebagai mahasiswa tidak hanya berkutat pada buku- buku tebal dan tugas- tugas akademik saja akan tetapi mengintegrasikan segala aktivitas kita dengan niat semata- mata untuk mencari keridoan-Nya. Karena apabila motivasi terbesar kita bukan untuk mencari materi saja atau berpikiran pragmatis maka daapat dipastikan segala aktivitas kita akan terasa ringan dan memiliki tujuan yang jelas, tidak hanya semata menguras energi saja. Dosen pun tidak kalah perannya dalam menyukseskan program besar ini. Kalau saja dosen dalam mengajarkan keilmuannya selalu dikaitkan dengan ajaran spiritual maka mahasiswa pun tidak akan menjadi seseorang yang pintar tapi mempintari orang lain akan tetapi akan selalu menjadikan imunya tersebut sebagai senjata untuk mengajak orang lain menuju jalan yang lurus.
Mari kita bangun motivasi yang kokoh untuk menjadikan motto UPI tersebut sebuah kenyataan yang bisa terlihat wujudnya. Jangan pernah merasa putus asa dengan keadaan sekarang yang memang nyatanya belum bisa kita petik hasil tersebut. Akan tetapi sekarang kita sedang dan akan berproses menuju arah sana, dan suatu saat entah itu setahun,dua tahun, tiga tahun atau bahkan lebih, kita bisa memanen buah yang sekarang kita tanam.
Dalam mewujudkan tujuan yang begitu mulia ini tentunya tidak semudah mebalikan telapak tangan. Akan ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang. Akan banyak orang yang tentunya mendukung, namun disisi lain banyak juga orang yang tidak suka atau memusuhi upaya kita.  Akan tetapi itu merupakan bumbu yang akan menjadikan perjuangan kita terasa nikmat dan gurih rasanya. Tanpa itu semua hasil yang kita dapatkan akan terasa hambar.
Selamat berproses, semoga mimpi besar UPI menjadi kampus religius bukan hanya impian semata.
Mari wujudkan kampus UPI yang BAGUS. MemBAnggakan, GAgah dan ReligiUS.     





Filed Under :

1 comment for "Kampusku Bagus, Kampusku Religius"

  1. assalamu'alaikum kak,saya izin mengutip beberapa kalimat dari kaka untuk keperluan tugas. terima kasih sebelumnya, semoga Allah merahmati kaka

    ReplyDelete

background