Kampusku Bagus, Kampusku Religius
Menjadi mahasiswa baru di UPI rasanya tak
bisa tergambarkan dengan pensil warna, tidak bisa dilukiskan diatas kanvas,
apalagi hanya ditulis diatas secarik kertas. Sangat tidak bisa. Ada rasa yang
tidak bisa untuk diceritakan tapi hanya bisa dirasakan saja. Hanya orang yang
tangguh yang bisa masuk dan berkelana di Rimba Bumi Siliwangi ini. Dahulu,
banyak yang gugur diluar sana ketika pertempuran memperebutkan kursi empuk di
Kampus ini. Jadi kami yang bisa ada disini adalah pejuang- pejuang terpilih.
Namun, jangan pernah terlena !. Ribuan
orang terpilih ini akan tersaring lagi menjadi orang yang lebih tangguh. Oleh
karena itu tidak ada alasan untuk tetap berada di zona nyaman. Kami harus
kembali bertarung untuk meraih asa kami menjadi pemenang.
Aku bangga menjadi bagian dari Universitas
ini, yakni Universitas Pendidikan Indonesia. Nama yang gagah menyandang nama
Pendidikan. Orang mengatakan bahwa UPI merupakan kampus yang sangat baik
terutama dalam menghasilkan sarjana- sarjana pendidikan. Namun, tidak hanya itu di kampusku juga ada
program studi yang non- pendidikan. Jadi lulusannya tidak hanya di fokuskan
untuk menjadi seorang pendidik saja. Oleh karena kita tidak usah khawatir
dengan berkuliah di UPI. Kuliah di UPI tidak mesti jadi seorang pendidik. Jadi
sekarang marilah belajar dengan sungguh- sungguh, masalah profesi yang akan
diambil itu urusan nanti, karena setiap orang telah memiliki garis takdir untuk
masalah tersebut. Hasil tentunya akan mengikuti proses. Sekarang kita di UPI
ini belajar dengan sungguh- sungguh dan mengerahkan seluruh potensi meskipun
harus berlelah- lelah berkutat dalam keletihan, maka hasilnya dapat dipastikan
tidak akan mengecewakan. Hasil akan mengikuti proses.
Awalnya tidak pernah diri ini menginjakan
kaki di kampus UPI yang megah. UPI hanya ada di dalam alam khayal. Ketika itu
yang dilakukan adalah mencoba menata bayangan sekreatif mungkin untuk
menggambarkan bentuk dan tata letak kampus UPI, itu memang terjadi dan saya
alami. Sebenarnya pernah juga saya melihat kampus UPI, namun itu hanya kampus
daerah UPI di Tasikmalaya dan ketika itu saya tidak puas. Bukan ini yang saya cari.
Pernah beberapa kali ditolak oleh UPI alias
tidak diterima karena memang saya selalu menjadikannya pilihan kedua di SNMPTN.
SNMPTN tahun 2011 kemarin saya memilih prodi Ilmu Komputer UPI, dan harus
diakui bahwa kemampuan saya tidak mumpuni untuk bisa memasukinya. Ketika itu
yang bisa dilakukan adalah hanya menelan air liur, saking kecewa dan tidak bisa
habis fikir kenapa saya bisa tidak diterima sementara teman- teman sekelas
tembus SNMPTN dan berhasil merebut kursi prodi yang diinginkannya di UPI.
Butuh waktu satu tahun menanti hingga saya
bisa berdiri mengais ilmu di Kampus Bumi Siliwangi. Ternyata saya mengalami
penolakan yang ketiga kalinya dari UPI. Kejadian tidak diterima di prodi yang
diminati, yakni ilmu Komputer kembali
terulang. Namun, akhirnya saya diterima di Prodi yang sebenarnya tidak pernah
ada dicoretan mimpi- mimpi saya dulu. Saya dinyatakan diterima di Prodi Ilmu
Pendidikan Agama Islam lewat jalur Seleksi Mandiri. Bangga sekaligus sedih juga
karena tidak diterima di pilihan pertama. Namun, perlahan tapi pasti saya mulai
menyadari bahwa ini adalah yang terbaik dari pilihan terbaik lainnya.
Pertama kali menginjakan kaki di Kampus UPI
bumi siliwangi yang terlihat jelas dari depan adalah mesjid kampusnya. Dari
kejauhan terlihat kemegahan mesjid dengan arsitektur sangat indah. Mesjidnya saja
bagus dan indah, apalagi kehidupan kampusnya. Begitulah hipotesa yang bisa
disimpulkan ketika itu.
UPI memiliki motto : UPI sebagai kampus
yang ilmiah, edukatif dan religius. Berwibawa sekali motto tersebut. Namun, yang
saya akan garis bawahi adalah UPI sebagai kampus yang religius. Apakah motto
tersebut sudah menjadi hal yang nyata atau hanya angan-angan belaka ? Tentunya
kita tidak boleh menjustifikasi bahwa UPI belum sampai ke arah motto tersebut. Yang
perlu kita lakukan adalah mengapresiasi setiap kemajuan stake holder UPI
terkait, yang telah berhasil mendekatkan realisasi motto tersebut. Sebisa
mungkin kita harus berperan aktif dalam mendukung upaya mulia tersebut, jangan
justru berkontradiksi dengan setiap upaya yang dilakukan.
Lalu apa tolak ukur UPI sebagai kampus yang
religius ? pertanyaan ini selalu membayangi pikiran saya diawal masuk UPI. Akan
tetapi, perlahan namun pasti saya mulai bisa menemukan beberapa hal yang
merupakan bukti nyata dari motto UPI sebagai kampus yang religius. Fakta itu
antara lain adalah :
a. Ada kurang lebih 6 UKM yang bergerak dalam
bidang kerohanian islam, diantarnya UKDM, KALAM, UPTQ, BAQI dan lain-lain.
b. Banyakanya mahasiswi muslim yang mengenakan
pakaian tertutup dan berkerudung panjang, hal ini merupakan sebuah bukti
ketaatan mereka terhadap ajaran islam.
c. Banyaknya acara- acara keagamaan yang
diadakan di Islamic Tutorial Center atau mesjid Al-Furqon baik itu berupa
kajian ataupun kegiatan peribadahan.
d. Integrasi antara mata kuliah Pendidikan Agama
Islam dengan kegiatan Tutorial yang merupakan kegiatan unggulan di UPI. Selain
itu dipadukan pula dengan tes baca Qur’an bagi seluruh mahasiswa baru sebagai
aspek penilaian dalam penentuan kelulusan mata kuliah Pendidikan Agama Islam
e. Antusisme tinggi civitas akademika UPI
untuk melakukan shalat berjama’ah atau shalat duha di mesjid Al- Furqon.
f. Prestasi Mahasiswa UPI yang berhasil
menjadi salah satu juara pada kegiatan MTQ Nasional.
g. Adanya program studi yang memang concern
di bidang Islam yaitu Program studi Bahasa Arab dan Ilmu Pendidikan Agama
Islam.
Beberapa fakta tersebut tentunya bisa dijadikan tolak ukur bahwa UPI
sebagai kampus religius, bukan merupakan isapan jempol semata, namun merupakan
sebuah kenyataan. Kita harus bangga bisa berada di lingkungan yang kental
dengan kehidupan yang religius disamping berada dilingkungan yang ilmiah.
Orang- orang pun sering kali melontarkan sebuah plesetan tentang
kepanjangan UPI, yaitu Universitas Pesantren Indonesia. ya wajarlah itu hanya
iseng segelintir orang, akan tetapi mungkin itu juga bisa menjadi do’a yang
suatu saat tidak menutup kemungkinan menjadi hal yang nyata.
Sikap kita terhadap sebuah keinginan menjadikan UPI yang religius adalah
mendukungnya dengan sepenuh hati. Apa yang bisa kita lakukan untuk
berkontribusi maka lakukanlah. Mimpi besar ini tidak akan terwujud tanpa kerja
sama semua pihak, termasuk kita, mahasiswa UPI. Mahasiswa tentunya memiliki
peran yang strategis dalam mewujudkan mimpi ini. Mahasiswa memiliki pemikiran
yang jernih dan tidak terkontaminasi oleh kepentingan- kepentingan. Mungkin
kita sebagai mahasiswa bisa
berkontribusi dengan pemikiran- pemikiran yang dituangkan ke dalam sebuah
acara- acara yang bermanfaat dan difokuskan untuk menambah atau merangsang jiwa
religius civitas akademika UPI.
Alangkah rindunya kita dengan kehidupan yang berlandaskan perilaku
religius. Mengerjakan segala sesuatu dengan landasan spiritual yang tinggi.
Melalui semangat mewujudkan UPI yang religius dengan pengamalan ajaran agama
yang kuat, maka marilah kita secara sadar berupaya menuju ke arah sana lewat
segala hal yang tentunya bisa kita lakukan. Kita yang berperan sebagai
mahasiswa tidak hanya berkutat pada buku- buku tebal dan tugas- tugas akademik
saja akan tetapi mengintegrasikan segala aktivitas kita dengan niat semata-
mata untuk mencari keridoan-Nya. Karena apabila motivasi terbesar kita bukan
untuk mencari materi saja atau berpikiran pragmatis maka daapat dipastikan
segala aktivitas kita akan terasa ringan dan memiliki tujuan yang jelas, tidak
hanya semata menguras energi saja. Dosen pun tidak kalah perannya dalam
menyukseskan program besar ini. Kalau saja dosen dalam mengajarkan keilmuannya
selalu dikaitkan dengan ajaran spiritual maka mahasiswa pun tidak akan menjadi
seseorang yang pintar tapi mempintari orang lain akan tetapi akan selalu
menjadikan imunya tersebut sebagai senjata untuk mengajak orang lain menuju
jalan yang lurus.
Mari kita bangun motivasi yang kokoh untuk menjadikan motto UPI tersebut
sebuah kenyataan yang bisa terlihat wujudnya. Jangan pernah merasa putus asa
dengan keadaan sekarang yang memang nyatanya belum bisa kita petik hasil
tersebut. Akan tetapi sekarang kita sedang dan akan berproses menuju arah sana,
dan suatu saat entah itu setahun,dua tahun, tiga tahun atau bahkan lebih, kita
bisa memanen buah yang sekarang kita tanam.
Dalam mewujudkan tujuan yang begitu mulia ini tentunya tidak semudah
mebalikan telapak tangan. Akan ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang.
Akan banyak orang yang tentunya mendukung, namun disisi lain banyak juga orang
yang tidak suka atau memusuhi upaya kita. Akan tetapi itu merupakan bumbu yang akan
menjadikan perjuangan kita terasa nikmat dan gurih rasanya. Tanpa itu semua
hasil yang kita dapatkan akan terasa hambar.
Selamat berproses, semoga mimpi besar UPI menjadi kampus religius bukan
hanya impian semata.
Mari wujudkan kampus UPI yang BAGUS. MemBAnggakan, GAgah dan ReligiUS.
assalamu'alaikum kak,saya izin mengutip beberapa kalimat dari kaka untuk keperluan tugas. terima kasih sebelumnya, semoga Allah merahmati kaka
ReplyDelete