Hingga saat ini, Salim belum bisa melupakan seseorang
yang ketika ia mendengar suaranya dadanya tiba-tiba bergetar. Sebuah rasa yang
tak pernah ia rasakan kecuali ketika ia berbicaranya dengannya saja. Sebuah
rasa yang tak terdefinisi. Abstrak, dan
khayal.
Dua tahun ia rasakan belum cukup untuk bisa
melupakannya. Memang ia adalah tipe lelaki yang sulit untuk jatuh cinta. Lain
halnya dengan lelaki kebanyakan, yang ketika ada wanita cantik, matanya lasungung
melotot tak karuan, alias jelalatan.
Ia terkenang kembali dengan suatu saat yang selalu
berkesan dibenaknya. Suatu ketika ia pernah menyatakan sebuah perasaan kepada
seseorang yang ia aggap lebih dari seorang teman. Ia berterus terang tentang
perasaan yang ia sembunyikan dalam-dalam di hatinya. Perasan yang selalu
menyiksanya namun juga membuatnya bahagia.
Terkadang setiap yang kita inginkan tak selamanya
lancar dan mulus. Ada kalanya kita harus menelan dalam- dalam kepahitan karena
menerima sesuatu yang tak diharapkan. Begitulah, Salim pun mengalami hal
serupa. Pemuda itu, cintanya tak berbalas. Wanita yang dicintainya hanya
menjawab “ Maaf, saya tidak ingin pacaran dulu.
Kata- kata itu selalu terngiang- ngiang ditelinganya.
Kata- kata yang belum pasti. Kata yang mengandung dua kemungkinan. Wanita itu
memiliki perasaan yang sama sepertinya, atau malah memang itu hanya alibi bahwa
sebenarnya ia hanya mengganggap Salim sebagai teman biasa saja, tak lebih.
“Ah, aku tak pernah bisa berani menyanyakan hal itu,
hal yang membuatnya masih menyimpan harapan kepada wanita itu” ucapnya di hati
terdalam.
Itu hanya sebatas kenangan masa lalu yang harusnya
sudah ia kubur dalam- dalam. Namun, kenyataannya tidak semudah yang biasa orang
ucapkan. Coba saja yang ngomong itu menjalani hal yang sama, pastilah ia juga akan kesulitan menerapkan
teori gadungan itu.
“Mungkin ia telah bahagia disana. Sepertinya ia telah
mendapatkan surganya di tempat yang nun jauh disana”, pikiran Salim menerawang.
Tiba- tiba ia dikejutkan dengan sentuhan tangan
dipunggungnya. Salim terlihat kaget sambil melirik ke belakang. “Wuoy, ente
ternyata Rif, kiarin teh siapa? ngagetin aja “, ucapnya pada temannya itu.
“Ah, ente sih siang bolong kayak gini kerjaannya
ngelamun aja, noh kerjain tugas makalah PAI ! jangan malah bengong “ Arif
menimpali.
“ Rif, kamu ganggu aja. Tugas PAI mah gampang, saya
udah beres ngerjain tadi malam. Rif, saya ini sedang mikirin masa lalu saya
tentang kisah cinta yang susah untuk dilupakan.”
“Oh, itu to yang bikin kamu termenung. Kalau masalah
itu kamu ngga usah khawatir. Sekarang orientasi kamu jangan fokus kesana, lebih
baik kamu fokus belajar dan ukirlah prestasi sebanyak- banyaknya, nanti banyak
wanita yang akan ngantri untuk engkau pinang”
Salim membalas ucapan temannya dengan nada agak
meninggi, “Rif, kamu gampang ngomong seperti itu. Kamu tak pernah mengerti apa artinya
cinta. Kamu bicara seperti itu karena kamu tidak merasakan bagaimana diposisi
ku seperti ini. Aku masih berharap sama dia karena jawabannya dulu belum jelas,
dan seakan- akan memberikan sebuah harapan.”
Sesaat setelah mereka berbincang di kelas, ternyata
jam masuk kuliah telah tiba. Waktu itu kelas Salim akan mempelajari Mata Kuliah
Tafsir. Ketika itu, Salim terinspirasi dengan keutamaan menjadi penghafal
Al-Qur’an yang diutarakan oleh sang Dosen. Terbersit dalam pikirannya untuk
suatu saat bisa mesantren khusus program Tahfidz Qur’an. “ Aku pokoknya
ingin mesantren disana, di pesantren khusu penghafal Qur’an” ia berbisik kepada
dirinya sendiri.
‘
***
Ketika, Salim sedang tertegun memandangi langit biru,
ia terperanjat dengan suara panggilan bapak kost nya.
“Lim, nih ada kiriman paket nih buat kamu.”
Salim merenung sejenak sambil berpikir siapakah
gerangan pengirimnya. Tanpa pikir panjang ia pun dengan setengah berlari menuju
lantai 1 untuk menemui Pak Agus, bapak kostnya.
“Ia pa, dari
siapa ya ?”
“ ngga tau nih, kamu baca aja sendiri”
Pemuda itu langsung membaca nama pengirim dan alamat
asalnya. Hatinya berdesir lembut, seakan ia pernah mengalami rasa ini
sebelumnya.
Dan ternyata …..

Nama : Shafira Ayundia Zahrani
Alamat : Kel. Sekarwangi RT 02. RW 05 kec. Maju Jaya
Kota Padang
No.HP : 085223621180
Benar lah ternyata, rasa ini pernah ia rasakan ketika
ia memberikan sepucuk surat untuk pujaan hatinya, Fira, ya dia bernama lengkap
Shafira Ayundia Zahrani. Dan sekarang ia mendapatkan sebuah paket yang entah
apa isinya dari seorang yang ia kasihi semenjak dulu.
“ Pa, terima kasih ya, saya mau buka di kamar, mari
pa”,m
Salim bergegas menuju kamarnya dengan rasa penasaran
tingkat tinggi.
Ketika ia buka paket berwarna coklat muda itu,
jantungnya berdebar tak beraturan. Ia mencoba menerka- nerka apa isi dari paket
itu.
Ternyata isinya
adalah sekeping CD, Bola Kristal berisi miniatur seorang laki-laki dan perempuan
yang bertemu di atas salju, dan sebuah amplop surat.
Ia langsung saja membuka amplop surat berwarna biru
muda itu. Ia terlihat sangat tak sabar untuk mengetahui maksud dan isi surat
tersebut. Di hatinya pun ia bertanya- Tanya tentang maksudnya Fira mengiriminya
sebuah paket, padahal ia tidak sedang berulang tahun saat itu.
Dengan hati masih berdebar ia mulai membaca surat itu.
“Teman, maafkan atas jawabanku dulu tentang perasaan
ku padamu. Aku sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Namun, aku
berfikir bahwa orientasi hidupku saat itu adalah untuk belajar, dan belajar,
menuntut ilmu sebanyak- banyaknya. Aku tak ingin pasanganku nanti kecewa telah
memilihku.
Perlu kamu tahu teman. Aku lebih dulu memiliki sebuah
rasa yang tak bisa terdeskripsikan itu. Kamu bilang, dulu mulai ada rasa padaku
tanggal 12 September 2009, sedangkan aku seminggu sebelum kamu, ya, tepatnya
tanggal 5 September 2009.
Kusimpan rapat- rapat perasaanku ini. Tak pernah
kuceritakan pada siapapun, kecuali pada diari ku sendiri. Aku, takut. Takut
ketika orang lain tahu maka kabar ini pun akan tersebar kepada banyak orang,
dan juga pasti akan sampai ketelingamu. Aku tidak ingin hubungan kita malah
menjadi renggang ketika kamu tahu perasaanku yang sesungguhnya. Dengan bisa
berbicang denganmu, dan melihatmu saja hatiku sudah merasa senang. Aku tak
ingin keadaan itu hilang hanya karena tindakan salah yang aku lakukan.
Saat ini, setelah kita tak pernah bertemu selama satu
tahun lamanya ternyata aku tak pernah bisa membohongi perasaanku sendiri. Kuputuskan
untuk mengirim ini semua untukmu. Aku hanya ingin kamu tahu saja tentang
perasaanku. Entahlah orang akan berkata seperti apa padaku. Toh mereka tak
pernah merasakan rasa ini.
Teman, aku hanya minta satu hal padamu. Setelah kamu
tahu semua ini, dan jawabannya ternyata memang pahit buatku, kamu harus janji
untuk tetap jadi temanku. Temanku seperti dulu. Anggap saja hari ini tak pernah
ada, anggalah kejadian ini hanya mimpi.
Maaf teman,,,,,,,….”
Padang,
06 November 2011
Tak terasa air mata menetes perlahan dari kedua mata
Salim. Ia terharu dan sekaligus tak menyangka bahwa wanita impiannya…..memiliki
perasaan yang sama.
***
Sejak saat itu, Salim dan Fira resmi menjadi sepasang
kekasih. Mereka menjadi pasangan yang saling mencintai. Salim terlihat lebih
ceria dan semangat dalam menjalani hidup, tergambar dari mimik wajahnya. Salim
dan Fira sering berkumunikasi baik berupa sms-an atau saling teleponan. Salim
telah terkendalikan oleh cintanya. Sebenarnya entah itu cinta atau hanya nafsu belaka.
Sebenarnya Salim selain seorang mahasiswa di program
studi Ilmu Pendidikan Agama Islam juga merangkap sebagai santri penghafal
Al-Qur’an. Ada hal yang ia lupakan. Ia telah melanggar larangan ustadznya bahwa
hatinya harus terjaga dari hal- hal yang dapat menghambatnya dalam menghafal
Al-Qur’an. Bahkan, ia telah melakukan kesalahan fatal, yakni pacaran, sesuatu
yang dianggap tabu di kalangan para penghafal Qur’an.
Semenjak ia menjalin hubungan yang lebih dari seorang
teman dengan Fira, ia merasakan sebuah keanehan pada dirinya. Ada hal yang
menghambatnya untuk menghafal Al-Qur’an. Sulit rasanya ia menghafal satu ayat
pun. Sebelumnya, ia biasa setoran hafalan satu sampai dua halaman per hari. Kini,
setengah halaman pun harus diraihnya dengan susah payah. Ingatannya jadi lemah,
dan kemampuan menghafalnya pun menjadi tumpul.
“ Ada apa dengan ku ? “ lirih Salim.
Tidak hanya itu, amalan sehari- harinya pun mulai ia
tinggalkan. Dalam sebulan ia hanya mengerjakan Qiyamul Lail sekitar 5-6 kali.
Padahal dulu, sebelum ia pacaran tak pernah seharipun ia melewatkan Qiyamul
Lail. Shalat duha pun terasa berat ia lakukan, malas yang akut telah
menggerogoti semangat ibadahnya.
“Nampaknya aku telah melakukan sebuah kesalahan yang
tak kusadari, kini aku mulai lalai beribadah, ”
Salim terlihat merenung dan sesekali matanya
menerawang ke atas tanda ia sedang berpikir keras. Sekitar 5 menit ia berpikir
tentang dosa apa yang ia lakukan hingga efeknya bisa sedahsyat ini. Seiring
angin yang berdesir tiba- tiba ia teringat tentang sebuah pesan dari Ustadz
Amir tatkala dulu pertama kali ia mendaftar sebagai Santri Tahfidz Qur’an.
Masih jelas dalam ingatannya.
“ Lim, untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an
bukanlah sebuah keputusan main-main. Ada banyak hal yang mesti kamu hindari. Beberapa
hal itu akan menghambatmu untuk menghafal, Karena Al-Quran itu adalah
kalam-Nya, maka harus diterima oleh hati yang bening dan suci. Sebisa mungkin
kamu harus menghindari hal- hal ini. “
Ketika itu Salim penasaran dan bertanya kepada
Ustadnya.
“ Apa itu ustadz ?”
“ Kamu dengarkan baik- baik hal- hal ini. Pertama,
kamu harus menjalankan ibadah dengan benar, karena intinya menghafal Al-Quran
itu adalah menghafal Kalam-Nya. Kedua, Niat kamu harus lurus untuk mengharap
ridha-Nya, jangan ada hal-hal yang mengotorinya, karena Allah dengan mudah bisa
saja mencabut hafalan kamu. Ketiga, Patuh kepada kedua orang tua, terutama Ibu,
kamu jangan pernah membuatnya marah walaupun sedikit. Lalu selanjutnya, Sebisa
mungkin kamu harus menghindari melalukan dosa dan maksiat, dan kalaupun itu kau
lakukan, maka segeralah bertaubat, dan menebus kifaratnya, bisa dengan sholat
sunah, sedekah, atau berpuasa sunah. Dan, yang terakhir kamu harus oatuh
terhadap nasihat dan perintah gurumu, tidak hanya saya. Bagaimana cukup jelas,
Lim”
Salim mengangguk-ngangguk sambil menghayati apa yang
disampaikan oleh Ustadz Amir.
Salim mulai tersadar dan ingat akan kesalahannya. Fatal.
“ Aku ingat bahwa inilah sumber masalahnya. Cinta telah membutakanku sehingga
aku tak mampu membedakan perbuatan yang tak semestinya aku lakukan. Apa bedanya
aku dengan mereka ? Tak ada.” Salim menyesali segala perbuatannya.
Ia duduk di dekat mihrab Mesjid di Pesantrennya.
Kepalanya tertunduk, sambil sesekali terdengar suara isak tangis, meskipun
tidak terlalu keras. Ia benar- benar menyesal dan seraya memanjatkan do’a
kepada Allah agar segala dosanya diampuni.
***
Terdengar derap langkah diatas sajadah-sajadah di
dalam mesjid. Suara itu semakin terdengar jelas dan mendekat ke arah Salim. Namun,
Salim mencoba menghiraukannya. Ia mencoba khusyu dengan do’anya.
Tiba- tiba….
“ Lim, sedang apa kamu ?”
Seketika, Salim mencoba menghentikan tangisnya, dan
dengan sigap menyeka air mata di pipinya. Ia menoleh ke arah sumber suara.
“Aih, Ustadz, kirain siapa ? Ini Ustadz saya hanya
mengantuk saja.”
Ustadz Amir terus membujuk Salim untuk menceritakan
apa yang sebenarnya terjadi, barangkali beliau bisa memberikan solusi atas
masalahnya. Hingga akhirnya Salim pun luluh hatinya dan bersedia memberitahukan
apa yang menimpa dirinya.
“ Begini Ustadz, sebenarnya saya malu untuk mengatakan
ini. Tapi jujur nampaknya adalah pilihan yang tepat. Se…sebenarnya saya
pa..ca…ran Ustadz dari sekitar dua bulan yang lalu”.
Ustadz Amir bereaksi dengan raut muka yang seakan tak
percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Salim. Namun, Ustadz Amir mampu mengendalikan
dirinya untuk menyembunyikan perasaan itu. Dengan bijaksana ustadz pun
memberikan penjelasan bahwa perbuatan yang dilakukan Salim itu tidak baik dan
justru akan membuat diri Salim kesulitan sendiri, baik dalam menghafal ataupun
menjalani kehidupan ini.
Salim mengangguk tanda mengerti.
Lalu Sali pun
bertanya tentang sikap tepat yang harus ia lakukan. Disisi lain ia ingin
menjadi seorang hafidz, namun ia pun tidak bisa berpisah dengan seseorang yang
ia cintai. Berat memilih satu diantara dua itu. Keduanya pilihan yang lumayan
membuat kepalanya pening.
“Lim, coba deh kamu beristikharah dan minta petunjuk
kepada Allah atas dua pilihan ini. Dan, jika jawabannya ternyata adalah kamu
melanjutkan hubungan ini, maka bisa dipastikan itu godaan Syaitan. Lagi pula
Lim, harusnya kamu bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Menghafal
Al-Qur’an jelas merupakan sebuah pilihan
yang tak sebanding dengan pacaran. Selain itu, kalaupun kamu berjodoh dengannya
suatu saat nanti kalian akan dipertemukan kembali. “ Ustadz Amir berkatan
dengan nada yang menentramkan sehingga Salim tidak merasa digurui oleh setiap
ucapannya.
***
Setelah beberapa hari pemuda itu menjalankan saran
dari ustadznya, akhirnya ia mantap untuk menentukan sebuah keputusan. Salim
memilih satu diantara dua pilihan tersebut. Ia memilih untuk tetap menjadi
seorang penghafal Al-Qur’an dan tentunya berpisah dengan Fira.
“ Apa boleh buat, aku percaya bahwa Allah telah
menentukan yang terbaik buatku. Jodohku pasti sudah ditentukan oleh-Nya, dan
itu pastilah yang terbaik untukku. Maafkan aku Fira, ini jalan terbaik untuk
kita. Aku ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Suatu saat nanti kalau
kita berjodoh pasti kita akan dipertemukan kembali. Tapi, aku harap kita tetap
menjadi seorang teman, dan anggaplah ini semua sebuah mimpi bukan kenyataan.
Anggap kita tak pernah pacaran. “ Ini petikan isi surat dari Salim untuk Fira.
Selang beberapa menit HP milik Salim berdering. Salim
pun mengambil HP yang terletak disamping Mushaf Qur’annya. “ ternyata dari Fira
“, ucapnya.
Jadi jikalau setelah memutuskan pacarnya itu trus fokus untuk ngafal alquran insya allah akan dimudahkan kan ya kak untuk menghafal alquran karna kita sudah memutuskan untuk menghafal alquran dan meminggalkan pacaran itu??mohon dijwb ka.. syukron :)
ReplyDelete