Tuesday, 7 May 2013

ANTARA PACARAN DAN HAFALAN




Hingga saat ini, Salim belum bisa melupakan seseorang yang ketika ia mendengar suaranya dadanya tiba-tiba bergetar. Sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan kecuali ketika ia berbicaranya dengannya saja. Sebuah rasa yang tak terdefinisi. Abstrak,  dan khayal.
Dua tahun ia rasakan belum cukup untuk bisa melupakannya. Memang ia adalah tipe lelaki yang sulit untuk jatuh cinta. Lain halnya dengan lelaki kebanyakan, yang ketika ada wanita cantik, matanya lasungung melotot tak karuan, alias jelalatan.  
Ia terkenang kembali dengan suatu saat yang selalu berkesan dibenaknya. Suatu ketika ia pernah menyatakan sebuah perasaan kepada seseorang yang ia aggap lebih dari seorang teman. Ia berterus terang tentang perasaan yang ia sembunyikan dalam-dalam di hatinya. Perasan yang selalu menyiksanya namun juga membuatnya bahagia.
Terkadang setiap yang kita inginkan tak selamanya lancar dan mulus. Ada kalanya kita harus menelan dalam- dalam kepahitan karena menerima sesuatu yang tak diharapkan. Begitulah, Salim pun mengalami hal serupa. Pemuda itu, cintanya tak berbalas. Wanita yang dicintainya hanya menjawab “ Maaf, saya tidak ingin pacaran dulu.
Kata- kata itu selalu terngiang- ngiang ditelinganya. Kata- kata yang belum pasti. Kata yang mengandung dua kemungkinan. Wanita itu memiliki perasaan yang sama sepertinya, atau malah memang itu hanya alibi bahwa sebenarnya ia hanya mengganggap Salim sebagai teman biasa saja, tak lebih.
“Ah, aku tak pernah bisa berani menyanyakan hal itu, hal yang membuatnya masih menyimpan harapan kepada wanita itu” ucapnya di hati terdalam.
Itu hanya sebatas kenangan masa lalu yang harusnya sudah ia kubur dalam- dalam. Namun, kenyataannya tidak semudah yang biasa orang ucapkan. Coba saja yang ngomong itu menjalani hal yang  sama, pastilah ia juga akan kesulitan menerapkan teori gadungan itu.
“Mungkin ia telah bahagia disana. Sepertinya ia telah mendapatkan surganya di tempat yang nun jauh disana”, pikiran Salim menerawang.
Tiba- tiba ia dikejutkan dengan sentuhan tangan dipunggungnya. Salim terlihat kaget sambil melirik ke belakang. “Wuoy, ente ternyata Rif, kiarin teh siapa? ngagetin aja “, ucapnya pada temannya itu.
“Ah, ente sih siang bolong kayak gini kerjaannya ngelamun aja, noh kerjain tugas makalah PAI ! jangan malah bengong “ Arif menimpali.
“ Rif, kamu ganggu aja. Tugas PAI mah gampang, saya udah beres ngerjain tadi malam. Rif, saya ini sedang mikirin masa lalu saya tentang kisah cinta yang susah untuk dilupakan.”
“Oh, itu to yang bikin kamu termenung. Kalau masalah itu kamu ngga usah khawatir. Sekarang orientasi kamu jangan fokus kesana, lebih baik kamu fokus belajar dan ukirlah prestasi sebanyak- banyaknya, nanti banyak wanita yang akan ngantri untuk engkau pinang”  
Salim membalas ucapan temannya dengan nada agak meninggi, “Rif, kamu gampang ngomong seperti itu. Kamu tak pernah mengerti apa artinya cinta. Kamu bicara seperti itu karena kamu tidak merasakan bagaimana diposisi ku seperti ini. Aku masih berharap sama dia karena jawabannya dulu belum jelas, dan seakan- akan memberikan sebuah harapan.”
Sesaat setelah mereka berbincang di kelas, ternyata jam masuk kuliah telah tiba. Waktu itu kelas Salim akan mempelajari Mata Kuliah Tafsir. Ketika itu, Salim terinspirasi dengan keutamaan menjadi penghafal Al-Qur’an yang diutarakan oleh sang Dosen. Terbersit dalam pikirannya untuk suatu saat bisa mesantren khusus program Tahfidz Qur’an. “ Aku pokoknya ingin mesantren disana, di pesantren khusu penghafal Qur’an” ia berbisik kepada dirinya sendiri.
***
Ketika, Salim sedang tertegun memandangi langit biru, ia terperanjat dengan suara panggilan bapak kost nya.
“Lim, nih ada kiriman paket nih buat kamu.”
Salim merenung sejenak sambil berpikir siapakah gerangan pengirimnya. Tanpa pikir panjang ia pun dengan setengah berlari menuju lantai 1 untuk menemui Pak Agus, bapak kostnya.
 “Ia pa, dari siapa ya ?”
“ ngga tau nih, kamu baca aja sendiri”
Pemuda itu langsung membaca nama pengirim dan alamat asalnya. Hatinya berdesir lembut, seakan ia pernah mengalami rasa ini sebelumnya.
Dan ternyata …..

Nama      :    Shafira Ayundia Zahrani
Alamat    :    Kel. Sekarwangi RT 02. RW 05 kec. Maju Jaya Kota Padang
No.HP     :   085223621180

Benar lah ternyata, rasa ini pernah ia rasakan ketika ia memberikan sepucuk surat untuk pujaan hatinya, Fira, ya dia bernama lengkap Shafira Ayundia Zahrani. Dan sekarang ia mendapatkan sebuah paket yang entah apa isinya dari seorang yang ia kasihi semenjak dulu.
“ Pa, terima kasih ya, saya mau buka di kamar, mari pa”,m
Salim bergegas menuju kamarnya dengan rasa penasaran tingkat tinggi.

Ketika ia buka paket berwarna coklat muda itu, jantungnya berdebar tak beraturan. Ia mencoba menerka- nerka apa isi dari paket itu.
 Ternyata isinya adalah sekeping CD, Bola Kristal berisi miniatur seorang laki-laki dan perempuan yang bertemu di atas salju, dan sebuah amplop surat.
Ia langsung saja membuka amplop surat berwarna biru muda itu. Ia terlihat sangat tak sabar untuk mengetahui maksud dan isi surat tersebut. Di hatinya pun ia bertanya- Tanya tentang maksudnya Fira mengiriminya sebuah paket, padahal ia tidak sedang berulang tahun saat itu.
Dengan hati masih berdebar ia mulai membaca surat itu.
“Teman, maafkan atas jawabanku dulu tentang perasaan ku padamu. Aku sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Namun, aku berfikir bahwa orientasi hidupku saat itu adalah untuk belajar, dan belajar, menuntut ilmu sebanyak- banyaknya. Aku tak ingin pasanganku nanti kecewa telah memilihku.
Perlu kamu tahu teman. Aku lebih dulu memiliki sebuah rasa yang tak bisa terdeskripsikan itu. Kamu bilang, dulu mulai ada rasa padaku tanggal 12 September 2009, sedangkan aku seminggu sebelum kamu, ya, tepatnya tanggal 5 September 2009.
Kusimpan rapat- rapat perasaanku ini. Tak pernah kuceritakan pada siapapun, kecuali pada diari ku sendiri. Aku, takut. Takut ketika orang lain tahu maka kabar ini pun akan tersebar kepada banyak orang, dan juga pasti akan sampai ketelingamu. Aku tidak ingin hubungan kita malah menjadi renggang ketika kamu tahu perasaanku yang sesungguhnya. Dengan bisa berbicang denganmu, dan melihatmu saja hatiku sudah merasa senang. Aku tak ingin keadaan itu hilang hanya karena tindakan salah yang aku lakukan.
Saat ini, setelah kita tak pernah bertemu selama satu tahun lamanya ternyata aku tak pernah bisa membohongi perasaanku sendiri. Kuputuskan untuk mengirim ini semua untukmu. Aku hanya ingin kamu tahu saja tentang perasaanku. Entahlah orang akan berkata seperti apa padaku. Toh mereka tak pernah merasakan rasa ini.
Teman, aku hanya minta satu hal padamu. Setelah kamu tahu semua ini, dan jawabannya ternyata memang pahit buatku, kamu harus janji untuk tetap jadi temanku. Temanku seperti dulu. Anggap saja hari ini tak pernah ada, anggalah kejadian ini hanya mimpi.
Maaf teman,,,,,,,….”
                                                                        Padang, 06 November 2011

 Tak terasa air mata menetes perlahan dari kedua mata Salim. Ia terharu dan sekaligus tak menyangka bahwa wanita impiannya…..memiliki perasaan yang sama.

***
Sejak saat itu, Salim dan Fira resmi menjadi sepasang kekasih. Mereka menjadi pasangan yang saling mencintai. Salim terlihat lebih ceria dan semangat dalam menjalani hidup, tergambar dari mimik wajahnya. Salim dan Fira sering berkumunikasi baik berupa sms-an atau saling teleponan. Salim telah terkendalikan oleh cintanya. Sebenarnya entah itu cinta atau hanya nafsu belaka.
Sebenarnya Salim selain seorang mahasiswa di program studi Ilmu Pendidikan Agama Islam juga merangkap sebagai santri penghafal Al-Qur’an. Ada hal yang ia lupakan. Ia telah melanggar larangan ustadznya bahwa hatinya harus terjaga dari hal- hal yang dapat menghambatnya dalam menghafal Al-Qur’an. Bahkan, ia telah melakukan kesalahan fatal, yakni pacaran, sesuatu yang dianggap tabu di kalangan para penghafal Qur’an.
Semenjak ia menjalin hubungan yang lebih dari seorang teman dengan Fira, ia merasakan sebuah keanehan pada dirinya. Ada hal yang menghambatnya untuk menghafal Al-Qur’an. Sulit rasanya ia menghafal satu ayat pun. Sebelumnya, ia biasa setoran hafalan satu sampai dua halaman per hari. Kini, setengah halaman pun harus diraihnya dengan susah payah. Ingatannya jadi lemah, dan kemampuan menghafalnya pun menjadi tumpul.
“ Ada apa dengan ku ? “ lirih Salim.
Tidak hanya itu, amalan sehari- harinya pun mulai ia tinggalkan. Dalam sebulan ia hanya mengerjakan Qiyamul Lail sekitar 5-6 kali. Padahal dulu, sebelum ia pacaran tak pernah seharipun ia melewatkan Qiyamul Lail. Shalat duha pun terasa berat ia lakukan, malas yang akut telah menggerogoti semangat ibadahnya.
“Nampaknya aku telah melakukan sebuah kesalahan yang tak kusadari, kini aku mulai lalai beribadah, ”
Salim terlihat merenung dan sesekali matanya menerawang ke atas tanda ia sedang berpikir keras. Sekitar 5 menit ia berpikir tentang dosa apa yang ia lakukan hingga efeknya bisa sedahsyat ini. Seiring angin yang berdesir tiba- tiba ia teringat tentang sebuah pesan dari Ustadz Amir tatkala dulu pertama kali ia mendaftar sebagai Santri Tahfidz Qur’an.
Masih jelas dalam ingatannya.
“ Lim, untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an bukanlah sebuah keputusan main-main. Ada banyak hal yang mesti kamu hindari. Beberapa hal itu akan menghambatmu untuk menghafal, Karena Al-Quran itu adalah kalam-Nya, maka harus diterima oleh hati yang bening dan suci. Sebisa mungkin kamu harus menghindari hal- hal ini. “
Ketika itu Salim penasaran dan bertanya kepada Ustadnya.
“ Apa itu ustadz ?”
“ Kamu dengarkan baik- baik hal- hal ini. Pertama, kamu harus menjalankan ibadah dengan benar, karena intinya menghafal Al-Quran itu adalah menghafal Kalam-Nya. Kedua, Niat kamu harus lurus untuk mengharap ridha-Nya, jangan ada hal-hal yang mengotorinya, karena Allah dengan mudah bisa saja mencabut hafalan kamu. Ketiga, Patuh kepada kedua orang tua, terutama Ibu, kamu jangan pernah membuatnya marah walaupun sedikit. Lalu selanjutnya, Sebisa mungkin kamu harus menghindari melalukan dosa dan maksiat, dan kalaupun itu kau lakukan, maka segeralah bertaubat, dan menebus kifaratnya, bisa dengan sholat sunah, sedekah, atau berpuasa sunah. Dan, yang terakhir kamu harus oatuh terhadap nasihat dan perintah gurumu, tidak hanya saya. Bagaimana cukup jelas, Lim”
Salim mengangguk-ngangguk sambil menghayati apa yang disampaikan oleh Ustadz Amir.

Salim mulai tersadar dan ingat akan kesalahannya. Fatal. “ Aku ingat bahwa inilah sumber masalahnya. Cinta telah membutakanku sehingga aku tak mampu membedakan perbuatan yang tak semestinya aku lakukan. Apa bedanya aku dengan mereka ? Tak ada.” Salim menyesali segala perbuatannya.
Ia duduk di dekat mihrab Mesjid di Pesantrennya. Kepalanya tertunduk, sambil sesekali terdengar suara isak tangis, meskipun tidak terlalu keras. Ia benar- benar menyesal dan seraya memanjatkan do’a kepada Allah agar segala dosanya diampuni.
***
Terdengar derap langkah diatas sajadah-sajadah di dalam mesjid. Suara itu semakin terdengar jelas dan mendekat ke arah Salim. Namun, Salim mencoba menghiraukannya. Ia mencoba khusyu dengan do’anya.
Tiba- tiba….
“ Lim, sedang apa kamu ?”
Seketika, Salim mencoba menghentikan tangisnya, dan dengan sigap menyeka air mata di pipinya. Ia menoleh ke arah sumber suara.
“Aih, Ustadz, kirain siapa ? Ini Ustadz saya hanya mengantuk saja.”
Ustadz Amir terus membujuk Salim untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, barangkali beliau bisa memberikan solusi atas masalahnya. Hingga akhirnya Salim pun luluh hatinya dan bersedia memberitahukan apa yang menimpa dirinya.
“ Begini Ustadz, sebenarnya saya malu untuk mengatakan ini. Tapi jujur nampaknya adalah pilihan yang tepat. Se…sebenarnya saya pa..ca…ran Ustadz dari sekitar dua bulan yang lalu”.
Ustadz Amir bereaksi dengan raut muka yang seakan tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Salim. Namun, Ustadz Amir mampu mengendalikan dirinya untuk menyembunyikan perasaan itu. Dengan bijaksana ustadz pun memberikan penjelasan bahwa perbuatan yang dilakukan Salim itu tidak baik dan justru akan membuat diri Salim kesulitan sendiri, baik dalam menghafal ataupun menjalani kehidupan ini.
Salim mengangguk tanda mengerti.
Lalu Sali  pun bertanya tentang sikap tepat yang harus ia lakukan. Disisi lain ia ingin menjadi seorang hafidz, namun ia pun tidak bisa berpisah dengan seseorang yang ia cintai. Berat memilih satu diantara dua itu. Keduanya pilihan yang lumayan membuat kepalanya pening.
“Lim, coba deh kamu beristikharah dan minta petunjuk kepada Allah atas dua pilihan ini. Dan, jika jawabannya ternyata adalah kamu melanjutkan hubungan ini, maka bisa dipastikan itu godaan Syaitan. Lagi pula Lim, harusnya kamu bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Menghafal Al-Qur’an jelas  merupakan sebuah pilihan yang tak sebanding dengan pacaran. Selain itu, kalaupun kamu berjodoh dengannya suatu saat nanti kalian akan dipertemukan kembali. “ Ustadz Amir berkatan dengan nada yang menentramkan sehingga Salim tidak merasa digurui oleh setiap ucapannya.
***
Setelah beberapa hari pemuda itu menjalankan saran dari ustadznya, akhirnya ia mantap untuk menentukan sebuah keputusan. Salim memilih satu diantara dua pilihan tersebut. Ia memilih untuk tetap menjadi seorang penghafal Al-Qur’an dan tentunya berpisah dengan Fira.
“ Apa boleh buat, aku percaya bahwa Allah telah menentukan yang terbaik buatku. Jodohku pasti sudah ditentukan oleh-Nya, dan itu pastilah yang terbaik untukku. Maafkan aku Fira, ini jalan terbaik untuk kita. Aku ingin menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Suatu saat nanti kalau kita berjodoh pasti kita akan dipertemukan kembali. Tapi, aku harap kita tetap menjadi seorang teman, dan anggaplah ini semua sebuah mimpi bukan kenyataan. Anggap kita tak pernah pacaran. “ Ini petikan isi surat dari Salim untuk Fira.
Selang beberapa menit HP milik Salim berdering. Salim pun mengambil HP yang terletak disamping Mushaf Qur’annya. “ ternyata dari Fira “, ucapnya.








Filed Under :

1 comment for "ANTARA PACARAN DAN HAFALAN"

  1. Jadi jikalau setelah memutuskan pacarnya itu trus fokus untuk ngafal alquran insya allah akan dimudahkan kan ya kak untuk menghafal alquran karna kita sudah memutuskan untuk menghafal alquran dan meminggalkan pacaran itu??mohon dijwb ka.. syukron :)

    ReplyDelete

background