Yang baik
dengan yang baik
Hingga saat ini, Arman belum bisa melupakan
seseorang yang ketika ia mendengar suaranya dadanya tiba-tiba berdebar. Sebuah
rasa yang tak pernah ia rasakan kecuali ketika ia berbicaranya dengannya.
Sebuah rasa yang tak terdefinisi, abstrak, dan khayal.
Dua tahun lamanya ia rasakan, namun belum
cukup untuk bisa melupakannya. Memang ia adalah tipe lelaki yang sulit untuk
jatuh cinta. Lain halnya dengan lelaki kebanyakan, yang ketika ada wanita
cantik, matanya langsung melotot tak karuan, alias jelalatan.
Arman terkenang kembali dengan suatu saat
yang selalu berkesan dibenaknya.
Suatu ketika ia pernah menyatakan sebuah
perasaan kepada seseorang yang ia anggap lebih dari seorang teman. Ia berterus
terang tentang perasaan yang ia sembunyikan dalam-dalam di hatinya. Perasaan
yang selalu menyiksanya namun juga tak jarang membuatnya bahagia.
Terkadang setiap yang kita inginkan tak
selamanya lancar dan mulus. Ada kalanya kita harus menelan kepahitan karena
menerima sesuatu yang tak diharapkan. Begitulah, Arman pun mengalami hal
serupa. Pemuda itu, cintanya tak berbalas. Wanita yang dicintainya hanya
menjawab “ Maaf, tidak ingin pacaran
dulu.”
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang
ditelinganya. Kata- kata yang belum pasti. Kata yang mengandung dua
kemungkinan. Wanita itu memiliki perasaan yang sama sepertinya, atau malah
memang itu hanya alibi saja kalau sebenarnya ia hanya mengganggap Arman sebagai
teman biasa, tak lebih.
“Ah, aku tak pernah bisa berani menyanyakan
hal itu, hal yang membuatku masih menyimpan harapan kepadanya” ucapnya di hati
terdalam.
Itu hanya sebatas kenangan masa lalu yang
harusnya sudah ia kubur dalam- dalam. Namun, kenyataannya tidak semudah yang
biasa orang ucapkan. Coba saja yang ngomong itu menjalani hal yang sama, pastilah ia juga akan kesulitan
menerapkan teori gadungan itu.
“Mungkin ia telah bahagia disana. Mendapatkan
kehidupan dan suasana baru”, pikiran Arman menerawang.
Tiba- tiba, ia dikejutkan dengan sentuhan
tangan dipunggungnya. Arman terlihat kaget sambil melirik ke belakang. “Wuoy,
ente ternyata Rif, kiarin teh siapa? ngagetin aja “, ucapnya pada
temannya itu.
“Ah, ente sih siang bolong kayak
gini kerjaannya ngelamun aja, noh kerjain tugas makalah PAI ! jangan malah
bengong “ Arif menimpali.
“ Rif, kamu ganggu aja. Tugas PAI mah
gampang, Ana udah beres ngerjain tadi malam. Rif, saya ini sedang mikirin masa
lalu saya tentang kisah cinta yang susah untuk dilupakan.”
“Oh, itu to yang bikin kamu bengong. Kalau
masalah itu kamu ngga usah khawatir. Sekarang orientasi kamu jangan fokus
kesana, lebih baik kamu fokus belajar dan raihlah prestasi sebanyak- banyaknya,
nanti banyak wanita yang ingin menjadi pendampingmu.”
Arman membalas ucapan temannya dengan nada
agak meninggi, “Rif, kamu gampang ngomong seperti itu. Kamu tak pernah mengerti
apa artinya cinta. Kamu bicara seperti itu karena kamu tidak merasakan
bagaimana diposisi ku seperti ini. Aku masih berharap sama dia karena
jawabannya dulu masih gamang, dan seakan-akan ia memberikan sebuah harapan.”
***
Ketika Arman sedang tertegun memandangi
langit biru, ia terperanjat dengan suara panggilan temannya.
“Man, nih ada kiriman paket nih buat kamu.”
Arman merenung sejenak sambil berpikir
siapakah gerangan pengirimnya. Tanpa pikir panjang ia pun dengan setengah
berlari menuju lantai 1 untuk menemui Rama, bapak sekamarnya di Pesantren.
“Ia Ram,
dari siapa ya ?”
“ ngga tau nih, kamu baca aja sendiri”
Pemuda itu langsung membaca nama pengirim
dan alamat asalnya. Hatinya berdesir lembut, seakan ia pernah mengalami perasaan
ini sebelumnya.
Dan ternyata …..
Nama :
Shafira Ayundia Zahrani
Alamat :
Kel. Sekarwangi RT 02. RW 05 kec. Maju
Jaya Kota Padang
No.HP
: 085223621180
Benar ternyata, perasaan ini pernah ia
rasakan ketika ia memberikan sepucuk surat untuk pujaan hatinya, Fira. Ya dia
bernama lengkap Shafira Ayundia Zahrani. Dan, sekarang ia mendapatkan sebuah
paket yang entah apa isinya dari seorang yang ia kasihi semenjak dulu.
“ Ram, makasih ya, saya mau buka di kamar,”
Arman bergegas menuju kamarnya dengan rasa
penasaran tingkat tinggi.
Ketika ia buka paket berwarna coklat muda
itu, jantungnya berdebar tak beraturan. Ia mencoba menerka- nerka apa isi dari
paket itu.
Ternyata isinya adalah sekeping CD, Bola
Kristal berisi miniatur seorang laki-laki dan perempuan yang bertemu di atas
salju, dan sebuah amplop surat.
Ia langsung saja membuka amplop surat
berwarna biru muda itu. Ia terlihat sangat tak sabar untuk mengetahui maksud
dan isi surat tersebut. Di hatinya pun ia bertanya- Tanya tentang maksudnya Fira
mengiriminya sebuah paket, padahal ia tidak sedang berulang tahun saat itu.
Dengan hati masih berdebar ia mulai membaca
surat itu.
“Teman, maafkan atas jawabanku dulu tentang
perasaan ku padamu. Aku sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Namun,
aku berfikir bahwa orientasi hidupku saat itu adalah untuk belajar, dan
belajar, menuntut ilmu sebanyak- banyaknya. Aku tak ingin pasanganku nanti
kecewa telah memilihku.
Perlu kamu tahu teman. Aku lebih dulu
memiliki sebuah rasa yang tak bisa terdeskripsikan itu. Kamu bilang, dulu mulai
ada rasa padaku tanggal 12 September 2009, sedangkan aku seminggu sebelum kamu,
ya, tepatnya tanggal 5 September 2009.
Kusimpan rapat- rapat perasaanku ini. Tak
pernah kuceritakan pada siapapun, kecuali pada diari ku sendiri. Aku, takut.
Takut ketika orang lain tahu maka kabar ini pun akan tersebar kepada banyak
orang, dan juga pasti akan sampai ketelingamu. Aku tidak ingin hubungan kita
malah menjadi renggang ketika kamu tahu perasaanku yang sesungguhnya. Dengan
bisa berbicang denganmu, dan melihatmu saja hatiku sudah merasa senang. Aku tak
ingin keadaan itu hilang hanya karena tindakan salah yang aku lakukan.
Saat ini, setelah kita tak pernah bertemu
selama satu tahun lamanya ternyata aku tak pernah bisa membohongi perasaanku
sendiri. Kuputuskan untuk mengirim ini semua untukmu. Aku hanya ingin kamu tahu
saja tentang perasaanku. Entahlah orang akan berkata seperti apa padaku. Toh
mereka tak pernah merasakan rasa ini.
Teman, aku hanya minta satu hal padamu.
Setelah kamu tahu semua ini, dan jawabannya ternyata memang pahit buatku, kamu
harus janji untuk tetap jadi temanku. Temanku seperti dulu. Anggap saja hari ini
tak pernah ada, anggalah kejadian ini hanya mimpi.
Maaf teman,,,,,,,….”
Padang,
06 November 2008
Tak terasa air mata menetes perlahan dari
kedua mata Arman. Ia terharu dan sekaligus tak menyangka bahwa wanita impiannya…..memiliki
perasaan yang sama.
***
Sejak saat itu, Arman dan Fira resmi
menjadi sepasang kekasih. Mereka menjadi pasangan yang saling mencintai. Arman
terlihat lebih ceria dan semangat dalam menjalani hidup, hal itu tergambar dari
mimik wajahnya. Arman dan Fira sering berkumunikasi baik berupa sms atau sekedar
teleponan. Arman telah terbuai oleh cintanya. Sebenarnya entah itu cinta atau
hanya nafsu belaka.
Sebenarnya Arman selain seorang mahasiswa
di program studi Ilmu Pendidikan Agama Islam juga adalah seorang santri
penghafal Al-Qur’an di sebuah Pesantren di dekat kampusnya.
Ada hal yang ia lupakan. Ia telah melanggar
larangan ustadznya bahwa hatinya harus terjaga dari hal- hal yang dapat
menghambatnya dalam menghafal Al-Qur’an. Bahkan, ia telah melakukan kesalahan
fatal, yakni pacaran, sesuatu yang dianggap tabu di kalangan para penghafal
Qur’an.
Semenjak ia menjalin hubungan yang lebih
dari seorang teman dengan Fira, ia merasakan sebuah keanehan pada dirinya. Ada
hal yang menghambatnya untuk menghafal Al-Qur’an. Sulit rasanya ia menghafal
satu ayat pun. Padahal sebelumnya, ia biasa setoran hafalan satu sampai dua
halaman per hari. Kini, setengah halaman pun harus diraihnya dengan susah
payah. Ingatannya jadi lemah, dan kemampuan menghafalnya pun menjadi tumpul. Ia
sulit berkontsenrasi.
“ Ada apa dengan ku ? “ lirih Arman.
Tidak hanya itu, amalan sehari- harinya pun
mulai ia tinggalkan. Dalam sebulan ia hanya mengerjakan Qiyamul Lail sekitar
5-6 kali. Padahal dulu, sebelum ia pacaran, tak pernah seharipun ia melewatkan
Qiyamul Lail. Shalat duha pun terasa berat ia lakukan, malas yang akut telah
menggerogoti semangat ibadahnya.
“Nampaknya aku telah melakukan sebuah
kesalahan yang tak kusadari, ”
Arman terlihat merenung dan sesekali
matanya menerawang ke atas tanda ia sedang berpikir keras. Sekitar 5 menit ia
berpikir tentang dosa apa yang ia lakukan hingga efeknya bisa sedahsyat ini. Seiring
angin yang berdesir tiba- tiba ia teringat tentang sebuah pesan dari Ustadz
Amir tatkala dulu pertama kali ia mendaftar sebagai Santri Tahfidz Qur’an.
Masih jelas dalam ingatannya.
“Man, untuk menjadi seorang penghafal
Al-Qur’an bukanlah sebuah keputusan main-main. Ada banyak hal yang mesti kamu
hindari. Beberapa hal itu akan menghambatmu untuk menghafal, karena Al-Quran
itu adalah kalam-Nya, maka harus diterima oleh hati yang bening dan suci. Sebisa
mungkin kamu harus menghindari hal- hal ini. “
Ketika itu Arman penasaran dan bertanya
kepada Ustadnya.
“ Apa itu ustadz ?”
“ Kamu dengarkan baik- baik hal- hal ini.
Pertama, kamu harus menjalankan ibadah dengan benar, karena intinya menghafal
Al-Quran itu adalah menghafal Kalam-Nya. Kedua, Niat kamu harus lurus untuk
mengharap ridha-Nya, jangan ada hal-hal yang mengotorinya, karena Allah dengan
mudah bisa saja mencabut hafalan kamu. Ketiga, Patuh kepada kedua orang tua,
terutama Ibu, kamu jangan pernah membuatnya marah walaupun sedikit. Lalu
selanjutnya, Sebisa mungkin kamu harus menghindari melalukan dosa dan maksiat,
dan kalaupun itu kau lakukan, maka segeralah bertaubat, dan menebus kifaratnya,
bisa dengan sholat sunah, sedekah, atau berpuasa sunah. Dan, yang terakhir kamu
harus patuh terhadap nasihat dan perintah gurumu, tidak hanya saya. Bagaimana
cukup jelas, Man?”
Arman mengangguk-ngangguk sambil menghayati
apa yang disampaikan oleh Ustadz Amir.
***
Arman mulai tersadar dan ingat akan
kesalahannya. Fatal. “ Aku ingat bahwa inilah sumber masalahnya. Cinta telah
membutakanku sehingga aku tak mampu membedakan perbuatan yang tak semestinya
aku lakukan. Apa bedanya aku dengan mereka ? Tak ada.” Arman menyesali segala
perbuatannya.
Ia duduk di dekat mihrab Mesjid di
Pesantrennya. Kepalanya tertunduk, sambil sesekali terdengar suara isak tangis,
meskipun tidak terlalu keras. Ia benar-benar menyesal telah melakukannya. Ia
memanjatkan do’a kepada Allah agar segala dosanya diampuni.
***
Tak lama berselang, terdengar derap langkah
diatas sajadah-sajadah di dalam mesjid. Suara itu semakin terdengar jelas dan
mendekat ke arah Arman. Namun, Arman mencoba menghiraukannya. Ia mencoba khusyu
dengan do’anya.
Tiba- tiba….
“ Man, sedang apa kamu ?”
Seketika, Arman mencoba menghentikan
tangisnya, dan dengan sigap menyeka air mata di pipinya. Ia menoleh ke arah
sumber suara.
“Aih, Ustadz, kirain siapa ? Ini Ustadz,
saya hanya mengantuk saja.”
Ustadz Amir terus membujuk Arman untuk
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, barangkali beliau bisa memberikan
solusi atas masalahnya. Hingga akhirnya Arman pun luluh hatinya dan bersedia
memberitahukan apa yang menimpa dirinya.
“ Begini Ustadz, sebenarnya saya malu untuk
mengatakan ini. Tapi jujur nampaknya adalah pilihan yang tepat. Se…sebenarnya
saya pa..ca…ran Ustadz dari sekitar dua bulan yang lalu”.
Ustadz Amir bereaksi dengan raut muka yang
seakan tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Arman. Namun, Ustadz
Amir mampu mengendalikan dirinya untuk menyembunyikan perasaan itu. Dengan
bijaksana ustadz pun memberikan penjelasan bahwa perbuatan yang dilakukan Arman
itu tidak baik dan justru akan membuat diri Arman kesulitan sendiri, baik dalam
menghafal ataupun menjalani kehidupan ini.
Arman mengangguk tanda mengerti.
Lalu Arman pun bertanya tentang sikap tepat
yang harus ia lakukan. Disisi lain ia ingin menjadi seorang hafidz, namun ia
pun tidak bisa berpisah dengan seseorang yang ia cintai. Berat memilih satu
diantara dua itu. Keduanya pilihan yang lumayan membuat kepalanya pening.
“Man, coba deh kamu beristikharah dan minta
petunjuk kepada Allah atas dua pilihan ini. Dan, jika jawabannya ternyata
adalah kamu melanjutkan hubungan ini, maka bisa dipastikan itu godaan Syaitan.
Lagi pula Man, harusnya kamu bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Menghafal
Al-Qur’an jelas merupakan sebuah pilihan
yang tak sebanding dengan pacaran. Selain itu, kalaupun kamu berjodoh dengannya,
suatu saat nanti kalian pasti akan dipertemukan kembali. “ Ustadz Amir bercakap
dengan nada yang menentramkan sehingga Arman tidak merasa digurui oleh setiap
ucapannya.
***
Setelah beberapa hari pemuda itu
menjalankan saran dari ustadznya, akhirnya ia mantap untuk menentukan sebuah
keputusan. Arman memilih satu diantara dua pilihan tersebut. Ia memilih untuk
tetap menjadi seorang penghafal Al-Qur’an dan tentunya berpisah dengan Fira.
Arman menulis sepucuk surat untuk Fira. Ia
pun mengirimnya melalui Kantor Pos di depan Fakultasnya.
“ Apa boleh buat, aku percaya bahwa Allah
telah menentukan yang terbaik buatku. Jodohku pasti sudah ditentukan oleh-Nya,
dan itu pastilah yang terbaik untukku. Fira, sebenarnya berat untuk mengambil
keputusan ini. Tapi aku harus tegas pada diriku sendiri. Ini untuk kebaikan
kita. Saya harus memutuskan kalau kita harus berpisah dan memutuskan hubungan
ini. Maafkan aku Fira, ini jalan terbaik untuk kita. Aku ingin menjadi seorang
penghafal Al-Qur’an. Suatu saat nanti kalau kita berjodoh pasti kita akan dipertemukan
kembali. Tapi, aku harap kita tetap menjadi seorang teman, dan anggaplah ini
semua sebuah mimpi bukan kenyataan. Anggap kita tak pernah pacaran. “ Ini petikan isi surat dari Arman untuk Fira.
Surat itu sampai sehari kemudian ke alamat
yang dituju.
***
Suatu hari sesudah Ashar Arman terkantuk-
kantuk sambil memegang mushaf Al-Qur’an. Ia keletihan karena semalam hanya
tidur satu jam saja. Tiba- tiba ia agak terkaget dengan nada sms dari HP-nya. Arman
pun mengambil HP yang terletak disamping Mushaf Qur’annya. “ ternyata dari Fira
“, ucapnya.
Ia langsung membuka pesan yang masuk ke
inboxnya. Perlahan ia baca pesan tersebut.
“Man, mohon maaf saya membalas surat mu
hanya dengan sms ini. Tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun. Aku paham akan
kondisimu saat ini. Lanjutkan perjuanganmu meraih impian mulia itu. Aku juga
yakin kalau kita berjodoh suatu saat nanti pasti akan dipertemukan dalam jalan cinta-Nya.
Maafkan kesalahanku selama ini. “
Embun dingin perlahan membasahi sejadah
tempatnya duduk. Tak bisa terbendung, mengalir saja. Entah ini kesedihan atau bahagia.
Nampaknya semua nya bercampur menjadi satu.
“Ternyata aku tak salah memilihnya, ia
wanita yang bijaksana”
***
Allah SWT memiliki jawaban atas semua
gundah gulana yang melanda jiwa manusia. Dua insan yang saling mencinta itu
akhirnya di pertemukan kembali. Tak ada yang dapat membantah jika itu adalah
ketentuannya. Pengorbanan keduanya menjadi bayaran termahal atas karunia-Nya.
Hari Senin tanggal 23 November 2010 mereka
pun menunaikan sunah Rasulnya, membina sebuah ikatan suci, menghalalkan yang
haram dan menyatukan dua kerabat yang sebelumnya saling kenal pun tidak.
Dua orang hafidz dan Hafidzah dipertemukan
dengan rahmat-Nya. Tak ada janji yang diingkari-Nya. Wanita yang baik untuk
lelaki yang baik, dan begitupun sebaliknya.
Sehabis akad nikah berlangsung, Arman
berbisik kepada Fira. “ Sayang, bagaimana ceritanya kamu bisa jadi seorang
penghafal Al-Qur’an juga ?”
“Aku ingin menyelami keistimewaan dari mempelajari
Al-Qur’an serta menghafalnya dan aku pun ingin meraih ridho-Nya. Selain itu,
aku ingin memantaskan diri untuk menjadi pendampingmu. Aku sangat mencintaimu.“
ucap Fira. Istrinya itu kemudian menyunggingkan senyuman manis dan membuat muka
Arman sedikit memerah.
NAMA
PENULIS : MUHAMMAD
IRFAN ILMY
Tempat
& Tanggal Lahir : Tasikmalaya, 23 November 1992
Nama
Perguruan Tinggi : Universitas Pendidikan Indonesia ( UPI )
Bandung
Nama Fakultas, Jurusan : Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial,
Ilmu Pendidikan Agama Islam
Domisili
(Alamat Surat ) : Kampung Cilimus RT 07 RW 06 Kelurahan Isola
Kec. Sukasari Bandung
Ponsel
: 085323005975
0 komentar for "Yang baik dengan yang baik"
Post a Comment