Sunday, 10 February 2013

Kehilangan dua sahabat


Kehilangan dua sahabat

Apa yang anda rasakan ketika sahabat terbaik kita pergi atau menghilang seketika dari hadapan kita ? Pastinya kita akan merasakan kesedihan yang amat mendalam. menemukan sahabat itu tidak semudah menemukan teman. Karena teman dan sahabat itu hakikatnya memang berbeda.
Nah, sahabat yang penulis maksud dalam tulisan ini bukan arti sahabat sebenarnya melainkan meminjam pengertian sahabat itu sendiri. Sahabat itu selalu ada dikala suka dan duka, senantiasa menemani tatkala kita membutuhkan, dan meskipun kita sering menyakitinya mereka senantiasa memaafkan kita.
Saya menganalogikan sandal saya dengan sosok sahabat. Sandal selalu  menemani saya dikala sedih dan senang, di kala cuaca panas atau pun hujan. Selain itu, meskipun ia sering saya injak-injak (sakiti) tetap tidak pernah membenci saya, dan kita seharusnya berterima kasih kepadanya.
Tulisan ini terkesan mengada- ngada dan berlebihan. Namun, tak apalah, semoga saja dari tulisan ini pembaca bisa menemukan sebuah hikmah yang bisa semakin menambah kedekatan kita kepada Allah SWT. Bukankah kita bisa belajar dari mana saja, tidak hanya melulu di dalam kelas, melainkan kita juga bisa belajar dari kehidupan kita sehari- hari.
Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata penulis yang terjadi pada hari Sabtu tanggal 09 Februari 2013.
Tanpa berbasa- basi ayo kita langsung ke TKP !
Pagi itu sekitar jam 6 saya sedang berada di Mesjid Daarut Tauhid untuk bertemu dengan guru saya. Namun, setelah beberapa saat menunggu beliau tidak datang juga. Nampaknya beliau sedang sibuk atau ada keperluan lain.
“Tak apalah “, pikir saya
Setelah waktu kira- kira menunjukan pukul  setengah delapan akhirnya kuputuskan untuk pulang ke kostan. Tak ada firasat kalau saya akan kehilangan sahabat saya. Namun, …..
Ketika saya keluar menuju tempat sandal, apa yang terjadi ?
Sahabat saya (sandal) tidak ada ditempat saya menyimpannya. Saya sempat kebingungan dan sedih karena hal tersebut. Selain saya males nyeker ke kosan saya juga males ngeluarin uang buat beli sahabat yang baru. (Emang sahabat bisa dibeli,,,,? )
Saya berfikir sejenak untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Ada solusi yang terbersit di pikiran saya, diantaranya :
1.      Saya pulang tanpa ditemani sahabat saya. Ya, saya nyeker untuk pulang ke kosan. Tapi hal ini ada resikonya. Saya harus mampu menanggung malu bila dilihat orang- orang di jalan.
2.      Saya pinjam sandal ke DKM DT. Nah, cara yang satu ini cukup menjanjikan. Saya berfikir ketika itu untuk segera mengembalikan sandal yang saya pinjam sesudah saya pulang ke kosan dan mengambil sandal saya yang lain.
Dari kedua bisikan di pikiran saya itu, saya memilihi alternatif kedua yaitu memberanikan diri untuk minjam sandal ke DKM.
“Kang punten tiasa nambut sandal, sandal abdi teh leungit “
“Maaf saya ngga bisa bahasa sunda kang..”
“Oh maaf kang, saya mau minjam sandal bentar soalnya sandal saya ilang kang, nanti saya cepat kembalikan kok..”
“Oh bentar kang,,,”
Si petugas DKM itu lari ke atas untuk melihat apakah ada jama’ah atau tidak. Lalu ia menyarankan saya untuk pakai sandal jama’ah saja. Memang di tempat khusus sandal itu banyak sekali sandal, kurang lebih sekitar tiga shaf. Nampaknya banyak sekali jama’ah yang ketukar sandalnya di sana.
Lalu saya pun pulang dengan meminjam sandal yang ada disana. Ampunilah saya Ya Rabb.

Lalu saya mengambil sandal saya satu lagi di kamar kost. Setelah itu seketika juga saya berangkat lagi ke masjid DT yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kost saya untuk mengembalikan sandal tadi.
Sesampainya disana sebenarnya saya ingin berterima kasih ke si akang yang namanya saya tidak tahu itu, tapi kebetulan ia tidak ada. Lalu sandal itupun di simpan kembali di tempat tadi. Lega rasanya.

Ternyata kehilangan sandal itu bukan yang pertama kalinya saya alami. Telah banyak kejadian hilang sandal yang saya alami. Namun, nampaknya saya masih saja menganggap hal itu biasa. Padahal ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian itu.
Setelah saya pikir- pikir hikmah tersebut antara lain :
1.      Saya kurang hati- hati menjaga sandal saya. Sebenarnya saya bisa saja menitipkannya ke petugas yang ada di mesjid tersebut atau bisa juga membawa kantong kresek dan memasukan kedalamnya dan saya masukan lagi ke dalam tas yang saya bawa. Tapi kendalanya adalah sikap malas. Nah, oleh karena itu, meskipun sandal adalah barang yang harganya tidak terlalu mahal, namun jika sudah terjadi sebuah kehilangan kita juga yang akan repot. So, kita harus lebih berhati- hati dan tidak malas untuk mengamankan sandal kita terutama di tempat- tempat umum.
2.      Saya mengutip ceramah Aa Gym tempo hari. Bahwasannya kehilangan itu merupakan salah satu kemaha lembutan Allah terhadap hambanya. Bisa jadi kita akan mendapatkan sandal baru yang tentunya lebih layak untuk kita. Selain itu, kehilangan juga merupakan kaffarat terhadap dosa tertentu yang kita lakukan. Selanjutnya bisa juga kejadian tersebut merupakan waktu yang tepat untuk melihat seberapa besar keimanan seseorang. Dikala kita kehilangan sesuatu benda apa respon pertama yang keluar dari lisan kita. Itulah yang dinamakan akhlak. Sebagai orang yang beriman tentunya kita akan meyakini bahwa semua yang terjadi tidak ada yang serba kebetulan. Melainkan segalanya sudah dirancang oleh Allah SWT. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Namun, kita pun tidak sertra merta meninggalkan ikhtiar. Barangkali kita ceroboh dalam bertindak yang hal ini merupakan jalan terhadap ketentuan Allah terjadi kepada diri kita.   
Begitulah cerita kehilangan sahabat yang kita cintai.
Begitu magrib menjelang saya pun pergi ke mesjid Al-Furqan UPI untuk shalat disana. Sekali lagi tak ada firasat apapun. Dan singkat cerita kejadian di pagi hari tadi kembali terulang. Sahabat saya satu lagi hilang. Ia menghilang entah kemana. Entah karena apa. Yang jelas saya harus siap- siap pulang sendiri lagi tanpa ditemani oleh nya.
Saya sempat kebingungan juga waktu itu. Tapi berhubung ini di mesjid pastinya ada sandal- sandal yang tak bertuan. Dan saya coba untuk minjam lagi (tapi ga izin, soalnya ngga ada yang punya) sandal yang ada disana. Ya, saya pinjam sandal swallow berwarna biru yang udah agak rusak. Karena dipikiran saya pasti tidak ada orang yang memilikinya. Sebelumnya, saya sempat mantau keadaaan sekitar, kali aja ada orang yang punya. Tapi, herannya adalah di mesjid tidak ada siapa- siapa, hanya ada beberapa orang saja,dan itupun baru datang. Tanpa berpikir panjang saya pun pulang dengan meminjam sahabat punya orang lain.
Itulah pengalaman kehilangan sahabat yang sangat tidak mengenakan. Dan sebenarnya itu disebabkan karena keteledoran saya sendiri.
Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari tulisan ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan dalam penulisan.
Salam Ilmy-ah.
Filed Under :

0 komentar for "Kehilangan dua sahabat "

Post a Comment

background