Kehilangan dua sahabat
Apa yang anda rasakan ketika sahabat terbaik kita
pergi atau menghilang seketika dari hadapan kita ? Pastinya kita akan merasakan
kesedihan yang amat mendalam. menemukan sahabat itu tidak semudah menemukan
teman. Karena teman dan sahabat itu hakikatnya memang berbeda.
Nah, sahabat yang penulis maksud dalam tulisan ini
bukan arti sahabat sebenarnya melainkan meminjam pengertian sahabat itu
sendiri. Sahabat itu selalu ada dikala suka dan duka, senantiasa menemani
tatkala kita membutuhkan, dan meskipun kita sering menyakitinya mereka
senantiasa memaafkan kita.
Saya menganalogikan sandal saya dengan sosok sahabat. Sandal
selalu menemani saya dikala sedih dan
senang, di kala cuaca panas atau pun hujan. Selain itu, meskipun ia sering saya
injak-injak (sakiti) tetap tidak pernah membenci saya, dan kita seharusnya
berterima kasih kepadanya.
Tulisan ini terkesan mengada- ngada dan berlebihan.
Namun, tak apalah, semoga saja dari tulisan ini pembaca bisa menemukan sebuah
hikmah yang bisa semakin menambah kedekatan kita kepada Allah SWT. Bukankah
kita bisa belajar dari mana saja, tidak hanya melulu di dalam kelas, melainkan
kita juga bisa belajar dari kehidupan kita sehari- hari.
Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata penulis yang
terjadi pada hari Sabtu tanggal 09 Februari 2013.
Tanpa berbasa- basi ayo kita langsung ke TKP !
Pagi itu sekitar jam 6 saya sedang berada di Mesjid
Daarut Tauhid untuk bertemu dengan guru saya. Namun, setelah beberapa saat menunggu
beliau tidak datang juga. Nampaknya beliau sedang sibuk atau ada keperluan
lain.
“Tak apalah “, pikir saya
Setelah waktu kira- kira menunjukan pukul setengah delapan akhirnya kuputuskan untuk
pulang ke kostan. Tak ada firasat kalau saya akan kehilangan sahabat saya. Namun,
…..
Ketika saya keluar menuju tempat sandal, apa yang
terjadi ?
Sahabat saya (sandal) tidak ada ditempat saya
menyimpannya. Saya sempat kebingungan dan sedih karena hal tersebut. Selain
saya males nyeker ke kosan saya juga males ngeluarin uang buat beli
sahabat yang baru. (Emang sahabat bisa dibeli,,,,? )
Saya berfikir sejenak untuk mencari jalan keluar dari
masalah ini.
Ada solusi yang terbersit di pikiran saya, diantaranya
:
1.
Saya pulang tanpa ditemani sahabat saya. Ya, saya
nyeker untuk pulang ke kosan. Tapi hal ini ada resikonya. Saya harus mampu
menanggung malu bila dilihat orang- orang di jalan.
2.
Saya pinjam sandal ke DKM DT. Nah, cara yang satu ini
cukup menjanjikan. Saya berfikir ketika itu untuk segera mengembalikan sandal
yang saya pinjam sesudah saya pulang ke kosan dan mengambil sandal saya yang
lain.
Dari kedua
bisikan di pikiran saya itu, saya memilihi alternatif kedua yaitu memberanikan diri
untuk minjam sandal ke DKM.
“Kang punten tiasa nambut
sandal, sandal abdi teh leungit “
“Maaf saya ngga bisa bahasa
sunda kang..”
“Oh maaf kang, saya mau
minjam sandal bentar soalnya sandal saya ilang kang, nanti saya cepat
kembalikan kok..”
“Oh bentar
kang,,,”
Si petugas DKM
itu lari ke atas untuk melihat apakah ada jama’ah atau tidak. Lalu ia
menyarankan saya untuk pakai sandal jama’ah saja. Memang di tempat khusus
sandal itu banyak sekali sandal, kurang lebih sekitar tiga shaf. Nampaknya banyak
sekali jama’ah yang ketukar sandalnya di sana.
Lalu saya pun pulang dengan
meminjam sandal yang ada disana. Ampunilah saya Ya Rabb.
Lalu saya
mengambil sandal saya satu lagi di kamar kost. Setelah itu seketika juga saya
berangkat lagi ke masjid DT yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kost saya
untuk mengembalikan sandal tadi.
Sesampainya
disana sebenarnya saya ingin berterima kasih ke si akang yang namanya saya
tidak tahu itu, tapi kebetulan ia tidak ada. Lalu sandal itupun di simpan
kembali di tempat tadi. Lega rasanya.
Ternyata kehilangan sandal
itu bukan yang pertama kalinya saya alami. Telah banyak kejadian hilang sandal
yang saya alami. Namun, nampaknya saya masih saja menganggap hal itu biasa.
Padahal ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian itu.
Setelah saya pikir- pikir
hikmah tersebut antara lain :
1.
Saya kurang hati- hati menjaga sandal saya. Sebenarnya
saya bisa saja menitipkannya ke petugas yang ada di mesjid tersebut atau bisa
juga membawa kantong kresek dan memasukan kedalamnya dan saya masukan lagi ke
dalam tas yang saya bawa. Tapi kendalanya adalah sikap malas. Nah, oleh karena
itu, meskipun sandal adalah barang yang harganya tidak terlalu mahal, namun
jika sudah terjadi sebuah kehilangan kita juga yang akan repot. So, kita harus
lebih berhati- hati dan tidak malas untuk mengamankan sandal kita terutama di
tempat- tempat umum.
2.
Saya mengutip ceramah Aa Gym tempo hari. Bahwasannya
kehilangan itu merupakan salah satu kemaha lembutan Allah terhadap hambanya. Bisa
jadi kita akan mendapatkan sandal baru yang tentunya lebih layak untuk kita.
Selain itu, kehilangan juga merupakan kaffarat terhadap dosa tertentu yang kita
lakukan. Selanjutnya bisa juga kejadian tersebut merupakan waktu yang tepat
untuk melihat seberapa besar keimanan seseorang. Dikala kita kehilangan sesuatu
benda apa respon pertama yang keluar dari lisan kita. Itulah yang dinamakan
akhlak. Sebagai orang yang beriman tentunya kita akan meyakini bahwa semua yang
terjadi tidak ada yang serba kebetulan. Melainkan segalanya sudah dirancang
oleh Allah SWT. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Namun, kita pun tidak
sertra merta meninggalkan ikhtiar. Barangkali kita ceroboh dalam bertindak yang
hal ini merupakan jalan terhadap ketentuan Allah terjadi kepada diri kita.
Begitulah cerita
kehilangan sahabat yang kita cintai.
Begitu magrib
menjelang saya pun pergi ke mesjid Al-Furqan UPI untuk shalat disana. Sekali
lagi tak ada firasat apapun. Dan singkat cerita kejadian di pagi hari tadi
kembali terulang. Sahabat saya satu lagi hilang. Ia menghilang entah kemana. Entah
karena apa. Yang jelas saya harus siap- siap pulang sendiri lagi tanpa ditemani
oleh nya.
Saya sempat
kebingungan juga waktu itu. Tapi berhubung ini di mesjid pastinya ada sandal-
sandal yang tak bertuan. Dan saya coba untuk minjam lagi (tapi ga izin, soalnya
ngga ada yang punya) sandal yang ada disana. Ya, saya pinjam sandal swallow
berwarna biru yang udah agak rusak. Karena dipikiran saya pasti tidak ada orang
yang memilikinya. Sebelumnya, saya sempat mantau keadaaan sekitar, kali aja ada
orang yang punya. Tapi, herannya adalah di mesjid tidak ada siapa- siapa, hanya
ada beberapa orang saja,dan itupun baru datang. Tanpa berpikir panjang saya pun
pulang dengan meminjam sahabat punya orang lain.
Itulah
pengalaman kehilangan sahabat yang sangat tidak mengenakan. Dan sebenarnya itu
disebabkan karena keteledoran saya sendiri.
Semoga pembaca
dapat mengambil hikmah dari tulisan ini. Mohon maaf bila banyak kesalahan dalam
penulisan.
Salam Ilmy-ah.
0 komentar for "Kehilangan dua sahabat "
Post a Comment