Oleh :
MUHAMMAD IRFAN ILMY
![]() |
| Sumber gambar disini |
Hidup ini terus bergulir seiring angka-angka di almanak yang
kian menua. Tak pernah sedikitpun terlintas dipikirannya akan menjadi
seperti ini. Menjadi dosen di fakultas Psikologi UI. Dulu, ia hanya
membayangkan bahwa hidupnya haruslah menginspirasi. Hanya itu. Tidak lebih.
Buku lusuh itu menjadi saksi bisu bahwa dia pernah curhat
kepadanya. Warnanya biru tua. Tertulis di depannya “Buku Ajaib”. Ditulisnya
tentang masa depannya. Tentang apa yang diinginkannya suatu hati nanti. Dia
bukanlah orang yang beruntung seperti kebanyakan orang. Ardi layaknya buah yang
jatuh dari pohon dan tak punya siapa- siapa lagi. Hanya kepada Allah lah ia
mengadu dan curhat tentang kesepiannya.
Kedua orang tuanya telah bahagia disana. Di alam yang pernah
dikunjungi. Mereka dipanggil kehadirat-Nya 8 tahun lalu. Setelahnya, pemuda
malang itu harus bertahan untuk membuktikan bahwa mereka berdua telah
mendidiknya dengan benar. Suatu saat nanti, dia ingin nama kedua orang tuanya
harum karena anaknya telah jadi orang. Meski terbatas . Walau sekilas terasa mustahil.
***
Detak jarum jam terasa begitu nyaring ditelinganya. Angin
semilir mengantarkannya kepada masa lalu yang telah dilaluinya. Hari Sabtu
tanggal 20 November 2011. Di tempat santai rumah Ardi. Ia melamun sambil
melihat- lihat bunga- bunga yang mekar di kebun kesayangannya
“Eh,,,Akang, kenapa bengong ?” Sarah datang dan
membuatnya kaget.
“Tak ada apa-apa sayang, aku hanya teringat masa- masa sulit
dulu. Saat dimana aku berjuang agar bisa terbebas dari kehinaan. Terbebas dari
kesedihan dan kebodohan.” ungkap Ardi.
“Aku belum pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Cerita
tentang perjalanmu sehingga kau jadi seperti sekarang ini. Kita kan tidak
pernah pacaran Kang. Jadi, aku tak pernah tahu segala hal tentangmu.
Aku penasaran Kang,,,,,.” Rona wajahnya menyiratkan bahwa isterinya
itu sangat penasaran.
***
Ardi pun bercerita dengan penuh penghayatan pada isterinya,
Sarah.
“Kuliah adalah keinginan yang sempat jadi mustahil di benak Akang, dulu. Tidak ada keluarga atau seseorang yang
akan membiayai kuliah. Akang hanya tinggal dengan kakek dan nenek. Mereka sudah sepuh. Mungkin tak akan sanggup mengirimi uang tiap
bulan. Tapi, Akang ingin
sekali berkuliah. Membuktikan pada orang lain bahwaAkang bisa
bersaing dengan mereka. Itu keputusan berat. Dengan hanya modal nekat, pergi ke
rantau hanya dengan bekal Rp. 100 rb. Namun, kalau tidak saat itu, mau kapan
lagi. Menunggu tua, baru ngambil resiko
? jelas tidak. Akang mu
ini pun akhirnya berangkat ke kota yang mempunyai julukan kota kembang.
“Bandung”.
“Sebelumnya, Akang dinyatakan
lulus seleksi masuk ke Perguruan Tinggi. UNPAD nama kampusnya. Salah satu kampus
yang bergengsi di kota Bandung, bahkan Indonesia. Akang dinyatakan
diterima di jurusan Psikologi. Meski sehari- hari hanya makan nasi dengan
krupuk atau paling mewah ikan asin, tapi kemampuan Akangdalam berpikir cukup brillian. Berani deh kalau
di tandingkan sama anak orang kaya, tapi malas mah. “
“Hari itu, Jum’at tanggal 4 Agustus 2004 adalah hari terakhir
daftar ulang mahasiswa baru. Ketika itu, Akang bingung
bagaimana caranya agar bisa membayar uang masuk kuliah. Akang benar- benar tak
punya uang. Hanya selembar uang Rp.100 ribu itu, dan itupun buat biaya hidup.
Padahal uang masuk waktu itu sekitar 6 jutaan. Jumlah uang yang sangat besar
bagi Akang”
“Tiba- tiba…” Permisi de, dari tadi saya lihat ade kebingungan dan sepertinya
sedang menghadapi masalah yang besar. Kalau boleh saya tahu, ada apa ya de ? ”
Sosok laki-laki 50 tahunan tiba-tiba menyapa Akang.”
“ “Ah, begini Pak…saya sebenarnya malu ngomongin ini, yang jelas
saya butuh uang untuk bayar biaya masuk kuliah saya disini” Akang mencoba berterus
terang.
“Hmmm. Kebetulan sekali. Saya sedang cari orang untuk saya beri
bantuan. “
“Maksudnya, pak ? ” Tanya Akang dengan
nada penasaran.
“Jadi, begini ceritanya. Saya ini sudah tua, mungkin sebentar
lagi akan pulang. Diakhir hidup saya ini saya ingin bermanfaat bagi orang lain.
Kebetulan saya punya kelebihan uang. Kemarin saya dengar ceramah salah seorang
ustadz katanya salah satu amal yang tidak ada putus- putusnya dan terus ngalir
meskipun udag meninggal adalah melakukan sodaqoh jariyah. Setelah mendengar itu
saya jadi ingin melakukan hal tersebut. Ter…..”
“Maaf pak, saya motong pembicaraan Bapak, tadi Bapak menyebutkan
mungkin sebentar lagi akan pulang, maksudnya ? ” Akang jadi
makin penasaran.
“Jadi, saya itu kata dokter divonis hanya akan bertahan sekitar
3 bulan lagi. Saya mengidap penyakit Ginjal. Sudah sering saya menjalani
perawatan di rumah sakit. Operasi pun pernah. Dan, terakhir sampai cuci darah.
Capek rasanya. Dari dulu yang saya lakukan hanya bagaimana saya nyari uang buat
keluarga. Shalat, zakat, puasa rasa-rasanya asing bagi saya. Bagi saya,
perbuatan itu hanya mengambat kerja saya. Sekarang saya baru sadar kalau uang
dan harta tidak akan bisa di bawa mati.” “
Akang pun mengangguk, Akang paham
apa yang dikatakan oleh Bapak tua itu, namanya pak Jamal. Setelah Pak Jamal
berdiskusi dan mendengarkan cerita tentang hidup Akang, ia semakin yakin kalau Akang mu
ini adalah orang yang tepat untuk diberikan bantuan olehnya. Sebenarnya sempat Akang tolak
tawarannya itu dengan halus. Namun, Pak Jamal meyakinkan kalau ia tulus ikhlas
memberikannya. Akhirnya, Hati Akang pun
luluh. Akang tak
bisa berkutik, dan diterimalah niat baik Pak Jamal untuk membantu Akang.
“Ini, mungkin pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang
sungguh-sungguh. Terima kasih Ya Robb. Ini janji yang tak pernah
diingkari-Nya.” Pikir Akang saat
itu.
“Terima kasih Pak, semoga amal baik bapak diterima sebagai Amal
shaleh di sisi Allah.Akang pun mencium tangan pak Jamal.”
“Pak Jamal pun terlihat senang telah memberikan uang nya pada Akang. Dia bilang bahwa mungkin ini jalan dari Allah
mempertemukan Akang dengannya.”
“Beliau bertanya nama ke Akang dan Akang perkenalkan
bahwa nama Akang adalah
Ardi Mahardika padanya.”
“Pertemuan yang telah dirancang oleh-Nya. Sebuah pertemuan yang
menjawab kegalauan di hati pada saat itu. Setelah pertemuan dengan pak Jamal,
akhirnya Akang bisa bernafas lega. Hanya tinggal memikirkan uang semesteran
saja. Akang pun
yakin kalau rejeki untuk itu sudah di atur oleh Allah.” Tutur Ardi. Ia sedikit
menghela nafas sambil menerawang mengingat kembali masa lalunya.
“Terus gimana lanjutannya Kang ? “
Tanya Sarah nggak sabar.
“Bentar atuh, Akang mau
minum dulu. Haus banget nih.” Ardi mengambil gelas berisi kopi di atas meja.
“Ah,,,nikmatnya kopi buatan isteriku ini.“
“Udah ah,,,,,Kang, lanjutin
ceritanya !” pinta Sarah pada Ardi.
“Lanjutin nih ya……?”
Ardi kembali melanjutkan ceritanya.
“Akang ini bisa digolongkan sebagai sosok
muslim yang taat, yang (baca : sayang).Punten ya
bukan maksud Akang sombong,,
he he. Itu adalah salah satu keberhasilan orang tua Akang dalam
mendidik Akang. Bapak, dulunya adalah guru ngaji, sehinggaAkang tumbuh
dalam lingkungan Agama yang kental. Keyakinan pada Allah sudah dipelajari
teorinya sejak dulu. Dan, saat beliau sudah tiada adalah saat untuk membuktikan
teori itu. Dulu, keyakinan kepada-Nya diuji dengan kenyataan-kenyataan pahit
dan tentunya kurang menyenangkan jika hanya dilihat dari mata lahir yang kotor.
Padahal, itu adalah cara Allah untuk menjadikan seseorang semakin tinggi
derajatnya di sisi-Nya. “
“Dalam keseharian di Bandung itu, Akang mu
ini hidup disiplin. Dalam hal apa saja. Ibadah, belajar, kerja, semuanya
dibingkai dalam manajemen waktu yang tepat. Karena dengan disiplin maka
seseorang akan sukses. Akang yakin
kalau esensi shalat selain mencegah perbuatan keji dan munkar juga melatih
seseorang untuk disiplin menjalani hidup. Kalau hidupnya tanpa aturan dan
disiplin, maka patut dipertanyakan shalatnya itu. Mungkin saja shalat nya hanya
sebatas gerak-gerak yang tanpa makna. “ Ardi bercerita dengan penuh makna.
***
“Bandung adalah kota yang asing bagi Akang. Maklum saja Akang kan
hanya orang kampung. Jauh dari kota. Akang asli
orang Tasikmalaya, tapi berada di ujung selatan sana. Sangat jauh. Ke Bandung
aja hanya sekali, ya, waktu berumur sekitar 10 tahunan. Hanya ke kebun binatang
itu juga. Ditambah lagi lalu lintasnya rentan macet. Apa- apa mahal. Pergaulan,
ngga usah ditanya. Kalau kita tidak punya basic agama
yang kuat pastinya akan mudah terjerumus ke hal- hal yang negatif. Ah, lengkap
sudah semuanya. Ditambah lagi Akang harus
berjuang untuk tidak dikeluarkan dari kampus karena kesulitan biaya. Yang jelas
Akang akan tinggal di Bandung kurang lebih 4 tahun. Atau kalau Akang bisa
gigih berjuang, perkiraan Akang akan
lulus 3,5 tahun saja. “
“Dulu Akang tinggal
di sebuah mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus. Mushola
Al-Furqan namanya. Ketika itu, ada pengurus mushola yang berbaik hati menawari
untuk tinggal disana. Asalkan Akang sanggup
mengurus mushola itu dengan baik, sekaligus jadi muadzin disana. Akang senang
sekali karena bisa menghemat uang kost dan menggunakannya untuk keperluan lain.
Hari-hari dilalui dengan optimisme tinggi. Kesungguhan yang membara dan
tentunya disertai dengan doa kepada-Nya.”
“Yang namanya hidup pada hakikatnya adalah perjuangan. Ada
kalanya senang, sedih, semuanya itu yang akan membuat hidup terasa lebih manis.
Begitu pun halnya denganAkang. Tidak mudah
menjalani hidup di sana. Terkadang Akang harus
bermental baja untuk mendengar ocehan dari tetangga dekat mushola yang tidak
suka pada kehadiran Akang disana.
Pernah suatu hari,,,,“Wei,, orang kampung, kira- kira
dong kalau pupujian[1] tēh jangan sampai ganggu orang. Ini
waktu enak-enaknya buat tidur. “ ucap Kang Deni
sambil mengepalkan tinju. Untungnya itu hanya sebagai peringatan saja.”
“Akang hanya tersenyum dan menghadapinya
dengan penuh ketenangan. lalu bilang ke kang Deni.
“Punten, Kang. Bukannya ini sudah jam 4 pagi. Saya hanya berusaha
membangunkan warga saja biar tidak kesiangan shalat subuh. Ditambah lagi siapa
tahu ada yang mau shalat tahajud atau sekedar persiapan shalat. Ini tugas saya.
Sekali lagi bukan maksud saya mengganggu Akang” Akang membela
diri. Akang lalu
menjulurkan kedua tangan sebagai tanda minta maaf. Tapi, ……Ia malah bilang
“Ah,,,,halik maneh tong loba bacot[2].”.
Kang Deni sewot sambil berlalu begitu saja.”
Ardi melanjutkan kembali ceritanya dengan antusias. “Tidak
sekali itu saja. SeringAkang di ejek karena jarang beli buku ketika
ada tugas dari dosen. Bukannya Akangtidak mau. Tapi, Akang harus
berpikir berulang kali untuk sekedar membeli buku. Uangnya terbatas. Ketika
orang lain tinggal minta ke orang tuanya untuk segala keperluan kuliah. Akang harus
menunggu sekitar seminggu lamanya untuk ngumpulin uang sekitar Rp. 200 ribu
saja. Akang dapat
upah mengajar TK memang seminggu sekali. Ditambah Akang pun
buka jasa penerjemahan bahasa asing. Baik itu bahasa inggris atau bahasa
jepang. Namun, tak hanya itu. Ketika awal-awal tinggal di BandungAkang pun
sempat pula jualan es cendol yang resepnya didapat dari Almarhum Bapak. Tapi,
itu terlalu berat bagi Akang sekaligus
menyita banyak waktu. Akang berhenti karena tidak ingin kuliah jadi terganggu. Akang yakin
kalau ada pekerjaan yang lebih baik dan bisa dijalani bersamaan dengan kuliah.
Dan, salah satunya menjual jasa sebagai seorang translator.”
***
20 September 2008
Ardi pun melanjutkan cerita tentang kehilangan barang yang
sangat penting baginya. Ia mencoba menirukan gayanya ketika dulu kejadian itu
terjadi.
“Ya Allah gimana ini ? data skripsiku hilang. Mana data
cadangannya belum sempat saya kopi ke laptop. Ya Robb, maafkan atas
kecerobohanku. “
Akang keluarkan semua barang- barang yang ada di tas eiger yang sudah
belel milikAkang. Tak ada.
Nihil. Akang mencoba
meraba- raba semua pakaian yang tergantung di kapstock di kamarnya. Sama. Tak
ada juga. Akang sangat panik waktu itu. Akang tertunduk di teras mushola.
“Kang Ardi,,,,aya naon[3] nih ? keliaatannya antum sedang ada
masalah. Tak biasanya antum seperti ini.” Tanya Diki yang tak diketahui
kedatangannya olehAkang.
“Hmmmm…kasih tahu nggak ya ?. nggak apa-apa kok Dik. Tapi…..”
“Tapi apa Akang ? “
Diki langsung saja menyerobot.
“Begini Akhi, Flask disk Ane hilang kemarin. Dan, gawatnya data
skripsi dan proyek buku Ane ada disana semua. Cerobohnya, belum sempat
dikopikan ke laptop.”
“Innalillahi Akh,,,,Sabar ya. Meski ini bukan cobaan yang bisa
dibilang berat, tapi Antum harus minta ke Allah dengan sabar dan shalat.”
“Makasih sahabat,,,,,nasehatmu sungguh menentramkan.
Wah,,,kemajuan pesat euy, sekarang mah omongannya udah pake dalil. Canggih. “
“Ah, ente ….kang ..kan Akang gurunya.
”
“He…he…” Akang tersenyum
simpul.
“Hayu ah Dik, saya duluan, mau shalat
duha dulu. Ngadu ke yang nyiptain orang yang buat flasdisk ”
***
Flash disk itu hilang. Semua data skripsinya ada disana.
Sementara Akang belum
sempat mengopikan filenya ke laptop. Terus….Akang dengan
terpaksa harus mengulanginya dari awal. Dengan keyakinan kepada Allah bahwa
hambanya-Nya yang sabar akan ditolongnya, Akang pun
mencoba kembali menulis. Selembar, 2 lembar,,,sampai total 180 lembar.
Untungnya waktu untuk sidang masih ada. JadiAkang tak
mesti mengontrak lagi di semester depan.
“Alhamdulillah berkat pertolongan dari-Nya.”
“Perjuangan Akang selama
ini berbuah hasil yang ranum. Suamimu dulu dinobatkan sebagai lulusan terbaik
seangkatan 2004. Mimpi untuk bicara di depan teman- teman seangkatan akhirnya
terwujud juga. IPK nya 4,00. Menakjubkan. Dengan usaha maksimal dan doa yang
konsisten dilantunkan, akhirnya semua yang dianggap mustahil oleh teman-
temannya bisa juga jadi nyata. Sempat teman- teman Akangmenertawakan. Tapi, itu dijadikanya sebagai
motivasi. Ejekan itu Akang rubah
jadi bahan bakar untuk membakar semangat supaya berprestasi.”
“Akan kubuktikan kalau aku bisa. Oke, kalian unggul dalam hal financial, tapi akan kubuktikan bahwa aku unggul dalam
hal ini, sambil akang nunjuk ke arah kepala. Maksudnya akal dan keilmuan. Dan,
memang itu ampuh menjadikan Akangberprestasi”
***.
“Ternyata kehilangan Flash Disk dulu adalah cara Allah untuk
meningkatkan kualitas diri Akang, Yang. Dengan kehilangan itu, menjadikan saya
lebih teliti dan tidak ceroboh. Buku yang sedang saya rancang pun nampakanya
tidak akan seperti sekarang ini kalau ceritanya dulu flash disk ngga hilang…… ”
“Bentar Kang, tadi Akang bilang
kalau dulu sempat kehilangan flash disk. Kingston warna putih. Ada gantungan
bertuliskan huruf “A”. Terus ada ……”
“Ada tulisan tanggal lahir saya. 23 November di
tengah-tengahnya.” potong Ardi.
“Jadi,,,itu milik Akang?….”
“Iya,,,itu ibaratnya harta karun saya, waktu dulu. Lantas kok Neng seakan- akan tahu flash disk itu ?”
“Bentar Kang,,,saya mau ke dalam dulu “ Kata Sarah sambil
beralari menuju kamarnya.
Diambilnya flash disk yang dimaksud dari dalam kotak kecil di
dalam lemari pakaiannya. Sudah diselimuti debu rupanya. Kusam. Wajar saja
karena flask disk itu sudah disimpan selama sekitar 4 tahun.
“Ini bukan Kang, flash disk nya ?”
Ardi dengan penasaran,
“Subhanallah wal hamdulillah. Benar Neng ini
flash disk Akang yang
dulu hilang itu.”
“Saya minta maaf Kang,,,,dulu saya sempat buka isi flask disk itu. Tapi,
bukan dengan maksud buat lancang melainkan hanya ingin tahu identitas
pemiliknya saja. Tapi nihil. Saya tidak mendapatkan identitas pemiliknya. Eh,
malah ada puisi romantis didalamnya. Dulu, saya sempat kagum sama orang yang
punya flash disk itu. Sepertinya akan bahagia sekali orang yang bisa menjadi
isterinya. Sebenarnya ada file dengan nama Skripsi. Tapi pas dibuka, eh malah
dikunci dengan password. Ya, sudahdeh saya simpan saja. Dulu sempat juga
saya titipin ke satpam mesjid. Tapi malah kelupaan. Sampai sekarang deh saya
simpan. “
“Subhanallah, ini ternyata skenario Allah untuk mempertemukan
kita. Sangat indah. Dulu saya sebenarnya sempat berdo’a semoga dipertemukan dan
disatukan dengan wanita shalehah, penghafal Qur’an, cantik lagi ,,he he. Dan,
ternyata Allah menjawab do’a Akang. Puisi yang ada di flash disk itu sebenarnya
terinspirasi dari mimpi Akang.Akang sering sekali berimpi tentang seorang
wanita yang kerudungnya panjang. Tapi, ia selalu menghadap ke belakang. Akang pun
sangat penasaran bagaimana wajahnya. Ternyata eh ternyata, cantik banget. Ya,
wanita impian saya itu ternyata isteri akangyang cantik ini. Alhamdulillah ”
“Ah, Akang bisa
aja ngerayu nya. Saya jadi malu nih.” balas Sarah dengan muka yang memerah.
Tak terasa dua jam mereka berbincang dengan mesra. Maklumlah
mereka masih pengantin baru. Ya, meskipun sudah setahun menikah. Tapi, dengan
sebuah pernikahan yang dilandasi karena cinta kepada-Nya keluarga mereka
terlihat begitu harmonis. Keluarga kecil itu jarang mengalami pertengkaran yang
hebat. Kalaupun Ada, itu hanya sesekali saja, tapi itu mampu mereka
lewatinya.
“Udah ah Kang bicaranya. Tuh liat udah jam setengah 6.
Bentar lagi Maghrib!. Kita persiapan buat shalat maghrib berjama’ah di Mesjid.
“
“Ok, Sayangku, manisku, cintaku….” ucap Ardi sambil mencubit
gemas pipi istrinya.
***
Sebuah perjalanan kehidupan yang terlihat mudah, namun perlu
kerja ekstra keras untuk mewujudkannya. Janji Allah tak pernah diingkarinya.
Orang yang baik untuk orang yang baik begitupun sebaliknya. Orang yang gigih
memantaskan diri akan mendapatkan orang yang pantas untuk dirinya. Dengan
kekuatan cinta kepada-Nya, apapun bisa dilalui, tentunya dengan perjuangan yang
maksimal.
Catatan :
Akang = Panggilan buat lelaki yang agak diatas kita (sunda)
Neng = Panggilan buat perempuan
[1] Bisa shalawatan atau melagukan syair-
syair yang mengajak kepada kebaikan. Biasanya dibacakan ketika menunggu waktu
shalat.
[2] Maksudnya, “Awas kamu jangan banyak
omong ! (Sunda)
[3] Ada apa ?

0 komentar for "Perjalanan Memantaskan Diri "
Post a Comment