Oleh :
Muhammad Irfan Ilmy
![]() |
| Sumber gambar disini |
Setiap yang bernafas pasti akan mengalami
saat dimana kematian menjemput. Manusia, hewan bahkan tumbuhan pun akan
mengalami hal ini. Terlebih manusia, yang notabene berbeda dengan hewan. Hewan
sesudah mati hanya akan bersatu dengan tanah. Tidak ada kelanjutan dan
perhitungan bagi hewan dan sejenisnya. Berbeda halnya dengan manusia, kematian
yang dialami oleh manusia merupakan awal dari pertanggung jawaban terhadap
perilakunya selama di dunia. Pada hakikatnya kehidupan yang diamanahkan oleh
Allah kepada manusia menuntut sebuah tanggung jawab, untuk apa waktu hidupnya
dihabiskan selama berada di alam dunia, untuk kebaikan atau malah sebaliknya ?
Sangat keliru jika manusia menganggap
kehidupannya di dunia akan kekal abadi. Padahal sangat gamblang Allah
menjelaskan baik dalam Alquran dan Sunnah Rasul bahwa alam dunia ini akan
mengalami kebinasaan yang biasa disebut hari akhir (hari kiamat). Setelah itu
pun manusia mendapat ganjaran tergantung amal perbuatannya selama di dunia.
Tidak ada pahala atau dosa sedikitpun yang terlepas dari pengadilan Allah.
Allah swt. menyediakan surga bagi para hambanya yang diridhai dan menjalankan
setiap ketentuan berupa perintah dari-Nya. Sementara, bagi para pelaku maksiat
dan yang masa-masa di dunianya diisi dengan kedzaliman baik terhadap diri
terlebih kepada orang lain maka tempat kembalinya adalah neraka yang merupakan
adzab yang sangat pedih.
Namun, pada kenyataannya banyak diantara
kita yang melupakan saat-saat kematian yang mencekam. Kesenangan dunia menutupi
pandangan terhadap kehidupan sesudahnya. Manusia lalai dan terbuai dengan
hingar bingar dunia. Dalam istilah arabnya kita mengenal Wahn, yakni cinta
dunia dan takut mati.
Bagi sebagian orang yang senantiasa
melakukan amal yang buruk kematian merupakan momok menyeramkan yang sebisa
mungkin dihindarinya. Mereka sangat ketakutan dengan kematian ini. Karena pada
hati kecilnya mereka pun merasa bahwa perbuatan yang senantiasa dilakukannya
merupakan kesia-siaan belaka. Namun, disebabkan iman di dalam hati yang lemah,
ia terlarut semakin dalam dengan kebiasaan buruknya tersebut.
Lain halnya dengan para hamba Allah yang
taat dan sangat yakin dengan kehidupan setelah mati. Mereka rindu dengan
kematian. Mereka ingin secepatnya menuai hasil dari amal perbuatan baiknya
selama di dunia. Balasan dari Allah berupa kesenangan telah menantinya. Dan
mati merupakan gerbang menuju kebahagiaan yang telah jauh-jauh hari dijanjikan
oleh-Nya.
Berbicara mengenai kematian, entah mengapa
saya begitu tertarik walaupun terkadang agak merinding juga. Akan tetapi, jika
kita memiliki spirit bahwa hari ini kita merasa sebagai hari terkahir dalam
hidup dapat dipastikan motivasi untuk beramal akan sangat tinggi. Dan secara
otomatis perbuatan yang dianggap tidak mendatangkan kemanfaatan akan dihindari
sejauh mungkin.
Pernah suatu saat di sebuah kelas
perkuliahan ada seorang Dosen yang berbicara mengenai kematian. Beliau
menceritakan bahwa pada akhir-akhir ini beliau selalu mencium aroma wangi yang
entah sumbernya dari mana. Beliau tiba-tiba meminta maaf jika memiliki banyak
kesalahan selama mengajari kami. Beliau mengatakan bahwa ini secara spontan
ingin dia katakan tanpa ada motif apapun. Sejak saat itu, saya pun ingin
mengalami hal serupa seperti yang dialami beliau (Dosen saya). Saya ingin
mendapatkan spirit lebih dalam menjalani kehidupan ini. Dan saya rasa selalu
ingat pada kematian merupakan motivasi internal yang daya tahannya akan
permanen jika bisa diinternalisasikan pada diri kita.
Setiap manusia tak pernah tahu kapan ia
akan dijemput pulang oleh malaikat maut. Kenapa Allah merahasiakannya ? mungkin
salah satu hikmahnya agar kita senantiasa waspada dan melakukan kebaikan
dimanapun dan kapanpun. Dari beberapa bacaan dijelaskan bahwa sakaratul maut
itu sungguh mengerikan. Dan sudah sepatutnya kita berlindung kepada Allah dari
dahsyatnya tatkala nyawa dicabut dari tubuh kita tersebut.
Wallahu A’lam,
Tidak ada niat untuk menakut-nakuti, hanya
ingin berbagi apa yang ada di pikiran saya saja. Mohon koreksiannya jika ada
kekeliruan.

0 komentar for "Tentang Maut"
Post a Comment