Friday, 26 July 2013

AKHIR YANG TRAGIS

AKHIR YANG TRAGIS
Oleh : Muhammad Irfan Ilmy

Sumber Gambar : http://www.carldavidweb.com/there-is-a-huge-difference-between-love-and-affection/
Langit begitu indah dan memesona. Entah apa yang terjadi dengan ku hingga amat menyukainya. Sejujurnya tak tahu sejak kapan aku memendam rasa padanya. Jangan salah paham ! Ini bukan rasa sebagaimana lelaki pada wanita, layaknya kebanyakan muda-mudi. Tapi, ini tentang rasa kesukaan yang wajar selaku makhluk ke makhluk lain di dunia ini. Wajar bukan ? Karena masalah rasa adalah masalah sensitif yang terkadang tak selalu masuk akal.
Senja, adalah saat tepat aku bermesraan memandangi langit. Toh aku tak khawatir terjerumus zina mata. Sebagaimana halnya memandangi wanita bukan muhrim. Ini sebuah pandang yang kuanggap sebuah rehat atas segenap aktivitas harianku. Aku perlu semacam injeksi kesenangan. Dari mana saja selama itu tak dilarang. Dan aku pilih memandangi langit. Selain murah, aman, tak pula beresiko.
Sejujurnya ini buah keprustasianku atas penolakan cinta dari seseorang. Penolakan yang tak sempat di awali pernyataan. Penolakan hanya karena keterlambatan saja.  Beruntung aku menemukan langit. Setidaknya ia mampu jadi pelampiasan rasa patah hatiku. Dan ia senang-senang saja. Tak berkeberatan. Ini sebuah aktivitas rutinku semenjak tiga tahun lalu. Dan untungnya aku istiqomah. 

***

Mulanya aku kuat. Bahkan mungkin tak kalah kuat bila dibanding superman di film-film box office. Dalam hal perasaan maksudnya. Bukan dalam kekuatan fisik. Tak pernah aku dilanda badai cinta sedemikian dahsyat, sedahsyat kali ini. Pertahanku begitu kokoh karena Ibuku kerap menasehati “My, belajar yang bener, jangan tergoda dengan wanita dulu. Untuk hal itu ada saatnya. Karena godaan pencari ilmu yang bisa dianggap berbahaya adalah wanita bagi lelaki dan begitupun sebaliknya.” Kata-kata ini begitu sakti hingga aku sekuat yang tadi kuceritakan. Di kala teman-teman lain terpikat berpacaran, aku tetap teguh dalam prinsip untuk tetap suci.
Namun, yang namanya manusia itu pada dasarnya lemah tak berdaya. Tanpa pertolongan-Nya, ia laksana wayang yang diam tanpa kuasa. Benar-benar terkulai dengan pesona kemilau dunia. Salah satunya tentu wanita.
Hal yang sama menimpaku, yang juga terpikat pada kelemahan itu. Aku mulai berani melirik wajah dibalik kerudung-kerudung panjang itu. Rasanya penasaran. Mungkin ini efek dari pergaulan dengan teman-teman kebanyakan. Mereka mayoritas punya teman perempuan. Meski diam-diam. Hanya komunikasi dengan ponsel-ponsel yang diselundupkan. Ah dasar, terkadang peraturan yang ketat membuat malingpun makin cerdik. Sama halnya dengan mereka. Rasa-rasanya nyali mereka makin terakumulasi dengan tantangan seperti ini. Tantangan kalau ketahuan taruhannya digunduli, itu bagi santri pria dan diarak di depan umum bagi santri wanita.
Nah, frontalnya aku jatuh cinta pada seorang santriwati. Kami berkontak mata saat itu ketika bertemu di rumah pak Kiayi. Aku kebetulan di suruh beliau memijitinya. Sementara itu, ia pun disuruh bu Nyai untuk menyetrika pakaian. Aduhai, aku tak sanggup melupakan parasnya yang rupawan. Dia benar-benar cantik alami, meski tanpa make up sebagaimana wanita kebanyakan di luar sana. Aku makin cinta karena ia dipercaya oleh bu Nyai menyetrika pakaiannya. Tak mungkin bu Nyai salah pilih, itu asumsiku.
“Astagfirullah, ini bukan hakku memandangnya”.
Dan, pak Kyai pun sontak bergerak tanda kaget. “Ada apa My ? “ tanyanya dengan suara agak parau.
“Engga, A… A… Abah, ngga papa kok” aku menjawab agak terbata-bata.
“Nah, ayo jelasin apa yang sebenarnya My ! jangan bohong ke Abah. Abah tahu kamu menyembunyikan sesuatu”
Aku panik kala itu dibrondong dengan pertanyaan macam itu. Pikiran jadi kalut dan tak mampu berfikir jernih lagi. Ya, berfikir untuk beralibi apa lagi supaya Pak Kiayi percaya. Tapi, aku memang tak bakat bohong. Gelagatku terlalu mencurigakan untuk sekedar berdusta, walau sedikit saja. Dan Abah terlalu peka mendeteksi kebohonganku. “Sial bener nih” aku bergumam dalam hati
Aku mencoba meyakinkan pak Kiayi sekali lagi.
“Anu, abah tadi saya liat anu…. eh maksudnya liat cicak lagi kawin. ”
“oh, itu to… Abah kira apa ? Bagus-bagus kamu sadar berarti tentang hal seperti itu. Mungkin itu dampak dari kamu sangat menjaga pandangan. Hingga macam hewan pun kamu enggan melihatnya. Abah salut sama kamu”
“Siap dulu dong gurunya, Abah….” Aku mencoba memujinya dengan maksud mengalihkan perhatian. Dan nampaknya lumayan berhasil.

***
Sejak saat itu, aku mulai menjadi detektif. Ke sana sini mencari informasi tentang sosok gadis yang kutemui tempo hari di rumah Abah. Belakangan ku tahu namanya “Mala” lengkapnya Nurmala Syifa Al-Jamilah. Nama yang indah. Namun kalah indah dengan wajahnya. Tak salah kiranya orang tuanya menyematkan nama itu di dirinya. Beruntung aku pernah melihatnya, meski sekilas. Selain itu, ternyata Mala adalah keponakan bu Nyai. Pantas saja, dia cantik wong bu Nyai juga sebagai Uwa nya masih cantik meski hampir menginjak kepala lima.
Ternyata, bukan hanya nikotin saja yang mampu menjadi candu. Bagiku, dia pun telah membuatku ketergantungan. Hingga sekali melihat membuatku ingin dan ingin lagi melihat nya. Walau aku tahu itu tak boleh. “Duh Gusti, hapunten sim abdi “ batinku dalam hati.
***
Aku berubah. Dulu yang tak suka berpuisi kini jadi penyair dadakan. Lantaran inspirasi tak henti-hentinya singgah dalam benakku. Walau aku tak tahu teori merangkai kata, tapi energi cinta nyatanya sukses menggiringku menekuni hal baru ini.
Semenjak saat itu, aku rajin berkunjung ke rumah pak Kiayi, dengan alasan apapun. Salah satunya tentu ingin memijiti beliau. Atau sekedar membawakan barang belanjaan bu Nyai. Yang jelas ada udang dibalik batu. Aku ingin melihat wajah Mala, itu misi ku. Barangkali saja ia sedang menyetrika pakaian lagi. Seperti saat kami berkontak mata pertama kali.
Namun, akhir-akhir ini Mala tak kelihatan batang hidungnya yang mancung itu. Entah kemana dia ? Bertanya pada bu Nyai, rasanya tidak mungkin. Atau ke santriwati lain, aku takut disangka mau ngecengin. Sejujurnya aku bingung.
Sore itu, aku sedang menulis sebuah puisi di bawah jemuran pakaian. Sambil memandangi langit yang merupakan kesukaanku. Tiba-tiba, ada suara yang membuatku tersentak.  Aku terperanjat karena ia benar-benar cepat hadir di dekatku. Kutoleh ke belakang. Ternyata, Si Ma’mun, teman se-kobongku.
“Ada apa Mun, kau lari-lari kayak gitu ? Habis ngejar maling ya ? “ Aku memulai pembicaraan dengannya. Nafasnya naik turun, dengan badan agak tertunduk ke depan. Nampaknya ia benar-benar kecapaian. Aku sodorkan botol Aqua yang sedari tadi menemaniku. Dia pun dengan lahap meneguk air nya. Dan sialnya, langsung habis. Ini orang apa kuda nil ? pikirku.
“Kabar gawat My. Lebih gawat dari maling.”
Aku makin penasaran,“emang gawat apaan Mun?”
Sambil membenarkan letak sarungnya yang kedodoran, Ma’mun pun menjelaskan dengan detail.
“Kamu harus tabah ya, ini persoalan yang sensitif buatmu !” sambil menepuk bahuku.
“Ia, cepat ayo cerita!”
“Kamu kan suka sama Mala. Itu lho ponakannya Pak Kyai. Ternyata ia menghilang belakangan ini karena ada sesuatu. Dia mau dijodohkan dengan anaknya Ustad Sobur. Kang Adit namanya.”
Cleb….. rasanya bagai disambar petir. Wanita pujaanku mau bersanding dipelaminan dengan lelaki lain. Rasanya amat tidak adil. Aku yang mulai jatuh cinta ternyata harus kemudian jatuh lagi. Sakit terasa.
“Ah yang bener Mun, ” aku mencoba menata ekspresi muka biar kelihatan tenang.
“Nih My, masa saya bohong sama kamu. Apa untungnya coba ? sebejat-bejatnya seorang Ma’mun ngga bakalan tega nyakitin hati teman sendiri” dia mencoba meyakinkan.
Aku mulai terprovokasi, namun tetap berusaha dingin. Jangan sampai berekspresi berlebihan. Jujur aku tak bisa berkomentar banyak karena aku pun yakin kalau perkataan si Ma’mun ngga bakalan bohong.

***
Seminggu setelah Ma’mun ngasih kabar menyakitkan buatku itu, Mala resmi di khitbah oleh kang Adit yang katanya anak Ustadz Sobur, Ustad guru Tauhid ku. Aku pun datang dan menyaksikan sendiri prosesnya. Singkat dan padat tanpa banyak basa-basi. Aku hanya duduk manis memasang wajah pura-pura ikut senang, padahal dalam hati berkecamuk sedih dan kesal. Kesal karena aku terlambat jujur ke pak Kyai tentang perasaanku pada Mala. Sedih karena aku gagal menjadikan Mala sebagai permaisuri seumur hidupku, gagal menjadikannya ibu dari anak-anakku nanti. Padahal kalau beberapa hari sebelumnya aku berani ngomong, mungkin aku yang akan datang bersama keluargaku ke rumah Mala dan menjadi calon pendamping hidupnya. Tapi, inilah jodoh. Sebuah misteri di atas misteri. Sebuah rahasia yang manusia tak dapat menebaknya. Sebuah goresan yang telah terpatri di Lauhul Mahfudz sana.
Aku hanya bisa pasrah pada kenyataan ini. Aku masih punya Allah yang maha baik dan mencintaiku tanpa takut kehilangan. Mungkin perlu beberapa saat untuk menata kepingan hati yang tercecer karena remuk berkeping-keping itu. Dan kuputuskan aku keluar dulu dari pesantren barang beberapa saat. Entah seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun bahkan selamanya. Aku juga tak bisa menjanjikan. Yang jelas aku tipe orang yang susah mencintai. Dan ku rasa melupakan jauh lebih menyusahkan. Tapi, setelahnya aku dalam kondisi stabil aku janji akan pulang lagi ke pondok dan meneruskan pengembaraanku mencari ilmu. Syukur-syukur mendapatkan pengganti seorang Mala, ya Nurmala Syifa Al-Jamilah.

***
Keterangan :
My          =  Sapaan buat tokoh aku, nama lengkapnya Ilmy Alfarisi.

Kobong   =  Semacam kamar yang ada di pondok pesantren. 
Filed Under :

1 comment for "AKHIR YANG TRAGIS"

background