AKHIR YANG TRAGIS
Oleh : Muhammad Irfan Ilmy
![]() |
| Sumber Gambar : http://www.carldavidweb.com/there-is-a-huge-difference-between-love-and-affection/ |
Langit begitu indah dan memesona. Entah apa yang terjadi
dengan ku hingga amat menyukainya. Sejujurnya tak tahu sejak kapan aku memendam
rasa padanya. Jangan salah paham ! Ini bukan rasa sebagaimana lelaki pada
wanita,
layaknya kebanyakan muda-mudi. Tapi, ini
tentang rasa kesukaan yang wajar selaku makhluk ke makhluk lain di dunia ini. Wajar bukan ?
Karena masalah rasa adalah masalah sensitif yang terkadang tak selalu masuk
akal.
Senja, adalah saat tepat aku bermesraan memandangi
langit. Toh aku tak khawatir terjerumus zina mata. Sebagaimana halnya
memandangi wanita bukan muhrim. Ini sebuah pandang yang kuanggap sebuah rehat
atas segenap aktivitas harianku. Aku perlu semacam injeksi kesenangan. Dari
mana saja selama itu tak dilarang. Dan aku pilih memandangi langit. Selain
murah, aman, tak pula beresiko.
Sejujurnya ini buah keprustasianku atas penolakan cinta
dari seseorang.
Penolakan yang tak sempat di awali pernyataan. Penolakan hanya karena
keterlambatan saja. Beruntung aku
menemukan langit. Setidaknya ia mampu jadi pelampiasan rasa patah hatiku. Dan
ia senang-senang saja. Tak berkeberatan. Ini sebuah aktivitas rutinku semenjak
tiga tahun lalu. Dan untungnya aku istiqomah.
***
Mulanya
aku kuat. Bahkan mungkin tak kalah kuat bila dibanding superman di film-film box
office. Dalam hal perasaan maksudnya. Bukan dalam kekuatan fisik. Tak
pernah aku dilanda badai cinta sedemikian dahsyat, sedahsyat kali ini.
Pertahanku begitu kokoh karena Ibuku kerap menasehati “My, belajar yang bener,
jangan tergoda dengan wanita dulu. Untuk hal itu ada saatnya. Karena godaan
pencari ilmu yang bisa dianggap berbahaya adalah wanita bagi lelaki dan begitupun
sebaliknya.” Kata-kata ini begitu sakti hingga aku sekuat yang tadi
kuceritakan. Di kala teman-teman lain terpikat berpacaran, aku tetap teguh
dalam prinsip untuk tetap suci.
Namun,
yang namanya manusia itu pada dasarnya lemah tak berdaya. Tanpa pertolongan-Nya,
ia laksana wayang yang diam tanpa kuasa. Benar-benar terkulai dengan pesona
kemilau dunia. Salah satunya tentu wanita.
Hal
yang sama menimpaku, yang juga terpikat pada kelemahan itu. Aku mulai berani
melirik wajah dibalik kerudung-kerudung panjang itu. Rasanya penasaran. Mungkin
ini efek dari pergaulan dengan teman-teman kebanyakan. Mereka mayoritas punya
teman perempuan. Meski diam-diam. Hanya komunikasi dengan ponsel-ponsel yang
diselundupkan. Ah dasar, terkadang peraturan yang ketat membuat malingpun makin
cerdik. Sama halnya dengan mereka. Rasa-rasanya nyali mereka makin terakumulasi
dengan tantangan seperti ini. Tantangan kalau ketahuan taruhannya digunduli,
itu bagi santri pria dan diarak di depan umum bagi santri wanita.
Nah,
frontalnya aku jatuh cinta pada seorang santriwati. Kami berkontak mata saat
itu ketika bertemu di rumah pak Kiayi. Aku kebetulan di suruh beliau
memijitinya. Sementara itu, ia pun disuruh bu Nyai untuk menyetrika pakaian.
Aduhai, aku tak sanggup melupakan parasnya yang rupawan. Dia benar-benar cantik
alami, meski tanpa make up sebagaimana wanita kebanyakan di luar sana.
Aku makin cinta karena ia dipercaya oleh bu Nyai menyetrika pakaiannya. Tak
mungkin bu Nyai salah pilih, itu asumsiku.
“Astagfirullah,
ini bukan hakku memandangnya”.
Dan,
pak Kyai pun sontak bergerak tanda kaget. “Ada apa My ? “ tanyanya dengan suara
agak parau.
“Engga,
A… A… Abah, ngga papa kok” aku menjawab agak terbata-bata.
“Nah,
ayo jelasin apa yang sebenarnya My ! jangan bohong ke Abah. Abah tahu kamu
menyembunyikan sesuatu”
Aku
panik kala itu dibrondong dengan pertanyaan macam itu. Pikiran jadi kalut dan
tak mampu berfikir jernih lagi. Ya, berfikir untuk beralibi apa lagi supaya Pak
Kiayi percaya. Tapi, aku memang tak bakat bohong. Gelagatku terlalu
mencurigakan untuk sekedar berdusta, walau sedikit saja. Dan Abah terlalu peka
mendeteksi kebohonganku. “Sial bener nih” aku bergumam dalam hati
Aku
mencoba meyakinkan pak Kiayi sekali lagi.
“Anu,
abah tadi saya liat anu…. eh maksudnya liat cicak lagi kawin. ”
“oh,
itu to… Abah kira apa ? Bagus-bagus kamu sadar berarti tentang hal seperti itu.
Mungkin itu dampak dari kamu sangat menjaga pandangan. Hingga macam hewan pun
kamu enggan melihatnya. Abah salut sama kamu”
“Siap
dulu dong gurunya, Abah….” Aku mencoba memujinya dengan maksud mengalihkan
perhatian. Dan nampaknya lumayan berhasil.
***
Sejak
saat itu, aku mulai menjadi detektif. Ke sana sini mencari informasi tentang
sosok gadis yang kutemui tempo hari di rumah Abah. Belakangan ku tahu namanya
“Mala” lengkapnya Nurmala Syifa Al-Jamilah. Nama yang indah. Namun kalah indah
dengan wajahnya. Tak salah kiranya orang tuanya menyematkan nama itu di
dirinya. Beruntung aku pernah melihatnya, meski sekilas. Selain itu, ternyata
Mala adalah keponakan bu Nyai. Pantas saja, dia cantik wong bu Nyai juga
sebagai Uwa nya masih cantik meski hampir menginjak kepala lima.
Ternyata,
bukan hanya nikotin saja yang mampu menjadi candu. Bagiku, dia pun telah
membuatku ketergantungan. Hingga sekali melihat membuatku ingin dan ingin lagi
melihat nya. Walau aku tahu itu tak boleh. “Duh Gusti, hapunten sim abdi “
batinku dalam hati.
***
Aku
berubah. Dulu yang tak suka berpuisi kini jadi penyair dadakan. Lantaran
inspirasi tak henti-hentinya singgah dalam benakku. Walau aku tak tahu teori
merangkai kata, tapi energi cinta nyatanya sukses menggiringku menekuni hal baru
ini.
Semenjak
saat itu, aku rajin berkunjung ke rumah pak Kiayi, dengan alasan apapun. Salah
satunya tentu ingin memijiti beliau. Atau sekedar membawakan barang belanjaan
bu Nyai. Yang jelas ada udang dibalik batu. Aku ingin melihat wajah Mala, itu
misi ku. Barangkali saja ia sedang menyetrika pakaian lagi. Seperti saat kami
berkontak mata pertama kali.
Namun,
akhir-akhir ini Mala tak kelihatan batang hidungnya yang mancung itu. Entah
kemana dia ? Bertanya pada bu Nyai, rasanya tidak mungkin. Atau ke santriwati
lain, aku takut disangka mau ngecengin. Sejujurnya aku bingung.
Sore
itu, aku sedang menulis sebuah puisi di bawah jemuran pakaian. Sambil
memandangi langit yang merupakan kesukaanku. Tiba-tiba, ada suara yang membuatku
tersentak. Aku terperanjat karena ia
benar-benar cepat hadir di dekatku. Kutoleh ke belakang. Ternyata, Si Ma’mun,
teman se-kobongku.
“Ada
apa Mun, kau lari-lari kayak gitu ? Habis ngejar maling ya ? “ Aku memulai
pembicaraan dengannya. Nafasnya naik turun, dengan badan agak tertunduk ke
depan. Nampaknya ia benar-benar kecapaian. Aku sodorkan botol Aqua yang sedari
tadi menemaniku. Dia pun dengan lahap meneguk air nya. Dan sialnya, langsung
habis. Ini orang apa kuda nil ? pikirku.
“Kabar
gawat My. Lebih gawat dari maling.”
Aku
makin penasaran,“emang gawat apaan Mun?”
Sambil
membenarkan letak sarungnya yang kedodoran, Ma’mun pun menjelaskan dengan
detail.
“Kamu
harus tabah ya, ini persoalan yang sensitif buatmu !” sambil menepuk bahuku.
“Ia,
cepat ayo cerita!”
“Kamu
kan suka sama Mala. Itu lho ponakannya Pak Kyai. Ternyata ia menghilang
belakangan ini karena ada sesuatu. Dia mau dijodohkan dengan anaknya Ustad
Sobur. Kang Adit namanya.”
Cleb…..
rasanya bagai disambar petir. Wanita pujaanku mau bersanding dipelaminan dengan
lelaki lain. Rasanya amat tidak adil. Aku yang mulai jatuh cinta ternyata harus
kemudian jatuh lagi. Sakit terasa.
“Ah
yang bener Mun, ” aku mencoba menata ekspresi muka biar kelihatan tenang.
“Nih
My, masa saya bohong sama kamu. Apa untungnya coba ? sebejat-bejatnya seorang
Ma’mun ngga bakalan tega nyakitin hati teman sendiri” dia mencoba meyakinkan.
Aku
mulai terprovokasi, namun tetap berusaha dingin. Jangan sampai berekspresi
berlebihan. Jujur aku tak bisa berkomentar banyak karena aku pun yakin kalau
perkataan si Ma’mun ngga bakalan bohong.
***
Seminggu
setelah Ma’mun ngasih kabar menyakitkan buatku itu, Mala resmi di
khitbah oleh kang Adit yang katanya anak Ustadz Sobur, Ustad guru Tauhid ku. Aku
pun datang dan menyaksikan sendiri prosesnya. Singkat dan padat tanpa banyak
basa-basi. Aku hanya duduk manis memasang wajah pura-pura ikut senang, padahal
dalam hati berkecamuk sedih dan kesal. Kesal karena aku terlambat jujur ke pak
Kyai tentang perasaanku pada Mala. Sedih karena aku gagal menjadikan Mala
sebagai permaisuri seumur hidupku, gagal menjadikannya ibu dari anak-anakku
nanti. Padahal kalau beberapa hari sebelumnya aku berani ngomong, mungkin aku
yang akan datang bersama keluargaku ke rumah Mala dan menjadi calon pendamping
hidupnya. Tapi, inilah jodoh. Sebuah misteri di atas misteri. Sebuah rahasia
yang manusia tak dapat menebaknya. Sebuah goresan yang telah terpatri di Lauhul
Mahfudz sana.
Aku
hanya bisa pasrah pada kenyataan ini. Aku masih punya Allah yang maha baik dan
mencintaiku tanpa takut kehilangan. Mungkin perlu beberapa saat untuk menata
kepingan hati yang tercecer karena remuk berkeping-keping itu. Dan kuputuskan
aku keluar dulu dari pesantren barang beberapa saat. Entah seminggu, sebulan,
setahun, sepuluh tahun bahkan selamanya. Aku juga tak bisa menjanjikan. Yang
jelas aku tipe orang yang susah mencintai. Dan ku rasa melupakan jauh lebih
menyusahkan. Tapi, setelahnya aku dalam kondisi stabil aku janji akan pulang
lagi ke pondok dan meneruskan pengembaraanku mencari ilmu. Syukur-syukur
mendapatkan pengganti seorang Mala, ya Nurmala Syifa Al-Jamilah.
***
Keterangan :
My
=
Sapaan buat tokoh aku, nama lengkapnya Ilmy Alfarisi.
Kobong
= Semacam
kamar yang ada di pondok pesantren.

sugoii ^___^9
ReplyDelete