Pemuda itu
adalah seseorang yang berasal dari
pelosok desa di Kabupaten Tasikmalaya. Ia
datang ke Bandung untuk meraih impiannya menjadi seorang guru. Ia terlahir
memang untuk menjadi seorang pendidik, mengeja huruf bersama anak-anak yang
kurang beruntung suatu saat. Dia juga sama seperti mereka, senasib, persis
dengan mereka. Namun, dia mungkin sedikit lebih beruntung dari mereka. Pemuda
itu bisa menginjakan kaki di Bumi Siliwangi yang katanya kampus para calon
pengajar.
Gedung-gedung
tinggi putih menjulang mencakar langit. Berlantai 5 dan 6 kokoh berdiri dengan
pondasi kuat. Inilah kampus Universitas Pendidikan Indonesia, kampus yang
menjadi impiannya sejak zaman SD dulu. Dulu ia sering berkhayal, kiranya suatu
saat akan kuliah disana, mencari penerang jalan yang akan memberikan cahaya
kegelapan yang terpancar dari ketidaktahuannya. Ketika mendengarnya bulu kuduknya
sontak berdiri, Dia sangat takjub ketika mendengarnya. Impiannya terwujud, sekarang
ia berdiri tepat di kampus yang menjadi
idamannya dahulu. Mimpikah ini ? “ coba aku cubit pipi ku,, dan ternyata sakit,
berarti ini bukan di alam mimpi, ini adalah nyata, aku sedang di Rimba Bumi
Siliwangi.” ucapnya.
Tidak bosan-bosannya
ia mengamati sekeliling. Melihat bangunan- bangunan yang memang sangat nyaman untuk
dipandanginya berlama-lama.“Ini sungguh megah, lebih megah dari yang selalu
kubayangkan ketika dulu.” ucapnya dengan kagum.
Ketika itu hari
Senin, tanggal 15 Agutus 2009 ia melakukan registrasi ulang di Kantor Pusat
Administrasi. Letaknya tepat di depan gedung Sekolah Pasca Sarjana UPI. Saat
itu ia ditemani ayahnya yang sangat menyayanginya.
***
Waktu menjelang
jam 9.00 ia larak-lirik mencari mesjid untuk menjalankan ibadah Shalat Duha.
Ini penting dilakukan, karena ia telah memetik hasil dari doanya selama ini, “
Mestinya sudah sepantasnya aku bersyukur kepada Allah sang Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Atas kuasanya pula, kini bisa kutapakkan kakiku disini, di
kampus impian meskipun jurusannya meleset dari impianku sebelumnya.” pikirnya.
“Aha,,,itu dia
mesjidnya“ucapnya dengan kegirangan.
Dia langkahkan
kaki menuju mesjid megah dan mewah itu. Dia tak tahu apa nama mesjidnya, tapi
apalah arti sebuah nama, nanti suatu ketika perlahan tapi pasti akan diketahui
namanya, tak perlu kiranya bersusah payah mencari info ke orang yang ada disana.
Yang penting sekarang adalah curhat dengan Allah diatas sajadah mengadu
kepadanya bahwa ia sekarang telah menjadi bagian dari UPI.
Bangga tak
terkira bisa menjadi bagiannya. Tapi bangga saja tidak cukup, ia harus berani
beraksi mewujudkan hal-hal yang memang diinginkan suatu saat ketika dia menjadi
bagiannya. Cita-citanya ia gantungkan setinggi langit. Tidak dibatasi impiannya
hanya sebatas langit-langit saja, karena ketika akan berusaha melempar,
ketinggian maksimalnya ya hanya sebatas itu saja, sebatas langit-langit tidak
lebih. Namun,ketika
cita-cita digantungkan setinggi langit,
sesuatu yang dilemparnya akan mencapai titik tertinggi sesuai kadar tenaga yang
diberikan untuk melemparnya, dan ketika dibandingkan, pasti yang dilempar
setinggi langit akan lebih tinggi daripada yang hanya terbatas pada langit-langit
saja.
***
Ada hal yang
berbeda dalam dirinya dengan teman-teman yang lain. Dulu sejak kelas 4 SD dia
divonis menderita sebuah penyakit. Dapat dibilang penyakit itu parah karena
berhubungan dengan organ vital dalam tubuh. Dokter bilang diagnosisnya adalah
bocor ginjal. Aneh memang penyakitnya ini. Ketika kebanyakan orang yang sakit
maka tubuhnya akan kurus, sedangkan dia ketika kambuh maka seketika tubuhnya
menjadi gemuk, pipinya tiba-tiba menjadi tembem dan seluruh tubuhnya
bengkak.
Ketika sekolah
pun, dia sering tidak masuk sekolah karena suatu hal yang memaksanya untuk
istirahat total beberapa hari di rumah. Ketika teman- temannya bermain dia
hanya bisa menjadi penonton dari kejauhan. Ketika teman-temannya mengajak
bermain sepak bola, dia hanya bilang “ Maaf aku tidak bisa main bola “. Padahal
dulu sebelum dia terkena penyakit itu, ia sangat suka bermain bola, tapi apa
daya beginilah seharusnya, ada episode kehidupan yang harus ia lalui, menjaga
agar tidak sampai terlalu capek. Karena ketika
hal itu terjadi, beberapa waktu kemudian gejala-gejala penyakitnya kambuh akan
muncul.
Namun, dengan segala
keterbatasannya ini, dia memiliki spirit
untuk berjuang memaksimalkan potensi lain yang Allah telah berikan. Ketika dulu
karena penyakitnya ini teman- temannya sering mengejeknya karena mukanya yang
bengkak, perutnya yang buncit, maka ketika itu dia berjanji dalam hatinya bahwa
suatu saat ia akan menjadi seorang yang sukses.
Janji itu bukan
hanya isapan jempol belaka. Dibuktikannya itu dengan raihan prestasi di sekolahnya.Peringkat
pertama selalu diraihnya meskipun banyak hari yang bolong karena ia absen tidak
masuk. tapi, ya inilah dirinya, Dia ingin membuktikan kepada teman-temannya
bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menggapai sukses.
***
“Ternyata kuliah
berbeda 90 o dengan sekolah dulu. Ketika dulu ada yang
memperhatikanku ketika aku tak masuk, ada yang menegurku jika pakaian kusut,
ada yang mengajakku shalat berjama’ah. Tapi sekarang,,itu hanya ada dalam
bayangan. Ketika hadir atau tidak, itu tidak jadi masalah, ketika model pakaian
menjadi hal yang dianggap bebas terserah yang memakaiannya, ketika ibadah
menjadi hal yang dianggap tanggung jawab masing- masing, maka aku ingin kembali
ke masa itu, masa yang penuh dengan perhatian, masa-masa sekolah yang orang-orangnya
baik hati.” gumamnya dalam hati.
Disisi lain dia
berfikir, hidup itu dinamis, ada dinamika nya, biarlah itu dulu dialami ketika
sekolah dan sekarang harus berubah pula mengikuti perubahan itu.“Aku harus
beradaptasi dengan cepat seperti halnya bunglon yang lihai berkamuflase. Cara
belajar harus dirubah, waktu harus di manage dengan baik dan lebih dimaksimalkan
kembali, hidup di kampus tidak hanya untuk berkutat pada buku-buku tebal saja
tapi harus juga melakukan sosialiasi dengan orang lain secara intensif, melatih
mental pemimpin, mengasah kemampuan komunikasi dan banyak hal yang ternyata
harus diperbaiki dalam dirinya ini.
Targetnya
adalah lulus 3,5 tahun. Namun, dengan target seperti itu harus ada pencapaian
lain yang mendukung. Dituliskanlah impiannya dikertas kusam, lalu ditempel di
dinding kamar kosnya yang sederhana. Dia senantiasa membacanya ketika matanya
menerawang dinding- dinding kamar, karena memang kamar itu di desain dengan
tempelan-tempelan yang banyak. Ketika mata diarahkan kemana saja di sudut
kamar, maka sepasang bola mata akan mengarah ke impian-impian yang ingin diraihnya.
***
Suatu ketika, “Aku
ingin sukses dan bermanfaat bagi orang banyak,,” teriaknya di depan UPI Net. Ketika
itu sebenarnya ia keceplosan, saking motivasinya memuncakkala itu. Ternyata ada
seorang bapak-bapak yang sedang duduk santai sambil merokok, dia terkaget-kaget
dan ketika dilihat oleh pemuda itu, matanya memerah, wajahnya geram, tangannya seketika
terkepal “sepertinya ia ingin marah padaku”ujarnya dalam hati.
Lalu tanpa
diduga, Bapak itu berjalan setengah berlari kepadanya dan berdiri tepat
berjarak satu meter di depannya. Matanya jadi setengah melolot, ditambah dengan
kumis tebal yang berwarna hitam menambah seram suasana pada saat itu. Tiba-
tiba, ” Hey kamu, ngapain teriak-teriak gak ada kerjaan,ngga
tahu apa ini tempat umum ?, lagian kamu maksudnya apa ngomong kaya tadi ? “
“ Oh, maaf pak
saya tidak sadar tadi,, saya sedang membayangkan tentang kesuksesan saya suatu
saat, “
“ Kalau mau
sukses, belajar yang benar, jangan hanya teriak-teriak ngga jelas,
ganggu orang saja kamu ini “
“ Oh, iya pak
maaf, sekali lagi saya minta maaf bila sudah mengganggu kenyamanan bapak “ dan ia
pun langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dalam hatinya ia berkata “ Ia,
benar juga apa yang dikatakan bapak tadi,”. Meski dia bersikap seperti tidak
bersahabat, Namun yang dikatakannya mengandung kebenaran.Undzur maa qola wa
la tandzur man qola. Lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siap yang
mengatakan!
Kata- kata bapak
itu menjadi santer ditelinganya, nada bicaranya selalu terngiang-ngiang jelas
di kedua telinga. Entah apa yang terjadi padanya.Yang jelas sejak saat itu dia
berusaha merubah segala kebiasaan buruk yang sering dilakukannya.Mungkin lewat bentakkan
itulah awal mula proses dia berubah.
Sejak saat itu,
perubahan-perubahan mulai ia rasakan. Ada yang berbeda dengan dirinya. Dia mulai
tidak suka melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya baik buat dia apalagi
buat orang lain. Mulai diubahnya kebiasaan menunda dalam segala aktifitas
apapun. Mulai dikelolanya waktu dengan sebaik-baiknya, mulai diubahnya gaya dia
belajar dengan cara mengkombinasikan antara kemampuan visual, auditorial, dan
kinestetik, lalu dia menentukan tipe mana yang sesuai dengan gaya belajarnya. “Terima
kasih pak, telah memberikan pelajaran berharga,bahwa mimpi jangan hanya
diucapkan saja, namun harus direalisasikan.”
Tidak terasa,
mimpi-mimpi yang dulu dia tuliskan menjadi hal yang nyata di hidupnya.Mimpi
terbesarnya adalah menjadi MAPRES, dan akhirnya ia pun berhasil meraihnya
dengan pengorbanan yang tidak mudah. Keinginan-keinginan lain yang dulu dianggapnya
hanya sekedar mimpi pun akhirnya bisa ia capai.
Dia menargetkan
untuk lulus kuliah tepat 3,5 tahun. Dan sekarang tinggal menghitung hari untuk pelaksanaan
wisuda.“Tidak terasa ternyata, waktu itu berjalan begitu cepat. Rasanya baru
kemarin aku daftar ulang di Pusat Administrasi, dan beberapa hari ke dapan aku
akan resmi menjadi seorang sarjana pendidikan.” Pikirnya.
***
Seiring berjalannya
waktu, kesehatannya pun mulai menurun. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba
pertanda penyakitnya akan kambuh mulai ia rasakan. Mukanya bengkak- bengkak
begitupun dengan kaki dan tangannya. Pinggangnya mulai ia rasakan sakit yang
teramat sangat. Terkadang ia merintih dengan pelan seolah tidak ingin orang
lain terganggu. Tapi apa daya, sehari sebelum pelaksanaan wisuda, ia terbaring
lemah diatas tempat tidurnya. Ia tidak kuat melakukan apa pun. Yang dia lakukan
hanya berkomat-kamit berdzikir kepada-Nya dengan suara yang pelan. Ia tidak mau
dibawa ke rumah sakit, karena ia tidak
mau merepotkan orang lain.
Akhirnya, tepat
jam 03.00 WIB dia telah pergi meninggalkan alam fana ini. Ia telah berpulang
menuju tempat yang semestinya. Telah tutup usianya tepat di umur yang ke 24
tahun. Hari itu adalah hari yang harusnya menjadi bahagianya, karena ia akan
diwisuda juga bertepatan dengan ulang tahunnya. Namun yang terjadi ia telah
tiada, meninggalkan orang-orang yang terkasih, meninggalkan kawan-kawan
dekatnya, meninggalkan kampus impiannya, meninggalkan gelar yang akan ia
dapatkan di hari itu .
Kini, ia pulang
dengan gelar tertinggi. Ya,, Almarhum, itulah gelar yang disandangnya.
Ia adalah
lulusan terbaik kala itu . Namun, ketika namanya disebut, sontak seluruh
hadirin terdiam dan ada pula yang meneteskan air mata haru, air mata
kehilangan, ya mereka adalah orang- orang yang pernah merasakan kebaikannya,
mereka adalah orang- orang yang ketika kesulitan selalu dibantunya. Mereka
kehilangan sosok itu.
Itulah mimpi
yang tidak pernah ia mimpikan sebelumnya, berpulang dengan damai di hari
bahagianya, berpulang dengan berbagai torehan prestasi di kampusnya, berpulang dengan
penuh cinta dari orang-orang yang ada disekelilingnya, berpulang dengan tetesan
air mata kehilangan, berpulang dengan lapang, berpulang dengan berjuta kenangan,
berpulang dengan damai.
Ia pergi
selamanya, pergi dengan asa yang digenggamnya, pergi dengan mimpi yang
dibuatnya nyata.
Selamat jalan Salman,
semoga kau dapat tempat yang terbaik disisi-Nya.
# Cerpen ini diikutkan pada lomba tutorial awards 2012 di Universitas Pendidikan Indonesia
0 komentar for "Sebuah Gelar Terakhir"
Post a Comment