Tuesday, 7 May 2013

Sebuah Gelar Terakhir



 Pemuda itu adalah seseorang yang  berasal dari pelosok desa di Kabupaten Tasikmalaya. Ia datang ke Bandung untuk meraih impiannya menjadi seorang guru. Ia terlahir memang untuk menjadi seorang pendidik, mengeja huruf bersama anak-anak yang kurang beruntung suatu saat. Dia juga sama seperti mereka, senasib, persis dengan mereka. Namun, dia mungkin sedikit lebih beruntung dari mereka. Pemuda itu bisa menginjakan kaki di Bumi Siliwangi yang katanya kampus para calon pengajar.
Gedung-gedung tinggi putih menjulang mencakar langit. Berlantai 5 dan 6 kokoh berdiri dengan pondasi kuat. Inilah kampus Universitas Pendidikan Indonesia, kampus yang menjadi impiannya sejak zaman SD dulu. Dulu ia sering berkhayal, kiranya suatu saat akan kuliah disana, mencari penerang jalan yang akan memberikan cahaya kegelapan yang terpancar dari ketidaktahuannya. Ketika mendengarnya bulu kuduknya sontak berdiri, Dia sangat takjub ketika mendengarnya. Impiannya terwujud, sekarang  ia berdiri tepat di kampus yang menjadi idamannya dahulu. Mimpikah ini ? “ coba aku cubit pipi ku,, dan ternyata sakit, berarti ini bukan di alam mimpi, ini adalah nyata, aku sedang di Rimba Bumi Siliwangi.” ucapnya.
Tidak bosan-bosannya ia mengamati sekeliling. Melihat bangunan- bangunan yang memang sangat nyaman untuk dipandanginya berlama-lama.“Ini sungguh megah, lebih megah dari yang selalu kubayangkan ketika dulu.” ucapnya dengan kagum.
Ketika itu hari Senin, tanggal 15 Agutus 2009 ia melakukan registrasi ulang di Kantor Pusat Administrasi. Letaknya tepat di depan gedung Sekolah Pasca Sarjana UPI. Saat itu ia ditemani ayahnya yang sangat menyayanginya.
***

Waktu menjelang jam 9.00 ia larak-lirik mencari mesjid untuk menjalankan ibadah Shalat Duha. Ini penting dilakukan, karena ia telah memetik hasil dari doanya selama ini, “ Mestinya sudah sepantasnya aku bersyukur kepada Allah sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Atas kuasanya pula, kini bisa kutapakkan kakiku disini, di kampus impian meskipun jurusannya meleset dari impianku sebelumnya.” pikirnya.
“Aha,,,itu dia mesjidnya“ucapnya dengan kegirangan.
Dia langkahkan kaki menuju mesjid megah dan mewah itu. Dia tak tahu apa nama mesjidnya, tapi apalah arti sebuah nama, nanti suatu ketika perlahan tapi pasti akan diketahui namanya, tak perlu kiranya bersusah payah mencari info ke orang yang ada disana. Yang penting sekarang adalah curhat dengan Allah diatas sajadah mengadu kepadanya bahwa ia sekarang telah menjadi bagian dari UPI.
Bangga tak terkira bisa menjadi bagiannya. Tapi bangga saja tidak cukup, ia harus berani beraksi mewujudkan hal-hal yang memang diinginkan suatu saat ketika dia menjadi bagiannya. Cita-citanya ia gantungkan setinggi langit. Tidak dibatasi impiannya hanya sebatas langit-langit saja, karena ketika akan berusaha melempar, ketinggian maksimalnya ya hanya sebatas itu saja, sebatas langit-langit tidak lebih. Namun,ketika cita-cita digantungkan  setinggi langit, sesuatu yang dilemparnya akan mencapai titik tertinggi sesuai kadar tenaga yang diberikan untuk melemparnya, dan ketika dibandingkan, pasti yang dilempar setinggi langit akan lebih tinggi daripada yang hanya terbatas pada langit-langit saja.
***
Ada hal yang berbeda dalam dirinya dengan teman-teman yang lain. Dulu sejak kelas 4 SD dia divonis menderita sebuah penyakit. Dapat dibilang penyakit itu parah karena berhubungan dengan organ vital dalam tubuh. Dokter bilang diagnosisnya adalah bocor ginjal. Aneh memang penyakitnya ini. Ketika kebanyakan orang yang sakit maka tubuhnya akan kurus, sedangkan dia ketika kambuh maka seketika tubuhnya menjadi gemuk, pipinya tiba-tiba menjadi tembem dan seluruh tubuhnya bengkak.
Ketika sekolah pun, dia sering tidak masuk sekolah karena suatu hal yang memaksanya untuk istirahat total beberapa hari di rumah. Ketika teman- temannya bermain dia hanya bisa menjadi penonton dari kejauhan. Ketika teman-temannya mengajak bermain sepak bola, dia hanya bilang “ Maaf aku tidak bisa main bola “. Padahal dulu sebelum dia terkena penyakit itu, ia sangat suka bermain bola, tapi apa daya beginilah seharusnya, ada episode kehidupan yang harus ia lalui, menjaga agar tidak sampai terlalu capek. Karena ketika hal itu terjadi, beberapa waktu kemudian gejala-gejala penyakitnya kambuh akan muncul.
Namun, dengan segala keterbatasannya ini, dia memiliki spirit untuk berjuang memaksimalkan potensi lain yang Allah telah berikan. Ketika dulu karena penyakitnya ini teman- temannya sering mengejeknya karena mukanya yang bengkak, perutnya yang buncit, maka ketika itu dia berjanji dalam hatinya bahwa suatu saat ia akan menjadi seorang yang sukses.
Janji itu bukan hanya isapan jempol belaka. Dibuktikannya itu dengan raihan prestasi di sekolahnya.Peringkat pertama selalu diraihnya meskipun banyak hari yang bolong karena ia absen tidak masuk. tapi, ya inilah dirinya, Dia ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menggapai sukses.
***
“Ternyata kuliah berbeda 90 o dengan sekolah dulu. Ketika dulu ada yang memperhatikanku ketika aku tak masuk, ada yang menegurku jika pakaian kusut, ada yang mengajakku shalat berjama’ah. Tapi sekarang,,itu hanya ada dalam bayangan. Ketika hadir atau tidak, itu tidak jadi masalah, ketika model pakaian menjadi hal yang dianggap bebas terserah yang memakaiannya, ketika ibadah menjadi hal yang dianggap tanggung jawab masing- masing, maka aku ingin kembali ke masa itu, masa yang penuh dengan perhatian, masa-masa sekolah yang orang-orangnya baik hati.” gumamnya dalam hati.
Disisi lain dia berfikir, hidup itu dinamis, ada dinamika nya, biarlah itu dulu dialami ketika sekolah dan sekarang harus berubah pula mengikuti perubahan itu.“Aku harus beradaptasi dengan cepat seperti halnya bunglon yang lihai berkamuflase. Cara belajar harus dirubah, waktu harus di manage dengan baik dan lebih dimaksimalkan kembali, hidup di kampus tidak hanya untuk berkutat pada buku-buku tebal saja tapi harus juga melakukan sosialiasi dengan orang lain secara intensif, melatih mental pemimpin, mengasah kemampuan komunikasi dan banyak hal yang ternyata harus diperbaiki dalam dirinya ini.
Targetnya adalah lulus 3,5 tahun. Namun, dengan target seperti itu harus ada pencapaian lain yang mendukung. Dituliskanlah impiannya dikertas kusam, lalu ditempel di dinding kamar kosnya yang sederhana. Dia senantiasa membacanya ketika matanya menerawang dinding- dinding kamar, karena memang kamar itu di desain dengan tempelan-tempelan yang banyak. Ketika mata diarahkan kemana saja di sudut kamar, maka sepasang bola mata akan mengarah ke impian-impian yang ingin diraihnya.
***

Suatu ketika, “Aku ingin sukses dan bermanfaat bagi orang banyak,,” teriaknya di depan UPI Net. Ketika itu sebenarnya ia keceplosan, saking motivasinya memuncakkala itu. Ternyata ada seorang bapak-bapak yang sedang duduk santai sambil merokok, dia terkaget-kaget dan ketika dilihat oleh pemuda itu, matanya memerah, wajahnya geram, tangannya seketika terkepal “sepertinya ia ingin marah padaku”ujarnya dalam hati.
Lalu tanpa diduga, Bapak itu berjalan setengah berlari kepadanya dan berdiri tepat berjarak satu meter di depannya. Matanya jadi setengah melolot, ditambah dengan kumis tebal yang berwarna hitam menambah seram suasana pada saat itu. Tiba- tiba, ” Hey kamu, ngapain teriak-teriak gak ada kerjaan,ngga tahu apa ini tempat umum ?, lagian kamu maksudnya apa ngomong kaya tadi ? “
“ Oh, maaf pak saya tidak sadar tadi,, saya sedang membayangkan tentang kesuksesan saya suatu saat, “
“ Kalau mau sukses, belajar yang benar, jangan hanya teriak-teriak ngga jelas, ganggu orang saja kamu ini “
“ Oh, iya pak maaf, sekali lagi saya minta maaf bila sudah mengganggu kenyamanan bapak “ dan ia pun langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dalam hatinya ia berkata “ Ia, benar juga apa yang dikatakan bapak tadi,”. Meski dia bersikap seperti tidak bersahabat, Namun yang dikatakannya mengandung kebenaran.Undzur maa qola wa la tandzur man qola. Lihat apa yang dikatakan, jangan lihat siap yang mengatakan!
Kata- kata bapak itu menjadi santer ditelinganya, nada bicaranya selalu terngiang-ngiang jelas di kedua telinga. Entah apa yang terjadi padanya.Yang jelas sejak saat itu dia berusaha merubah segala kebiasaan buruk yang sering dilakukannya.Mungkin lewat bentakkan itulah awal mula proses dia berubah.
Sejak saat itu, perubahan-perubahan mulai ia rasakan. Ada yang berbeda dengan dirinya. Dia mulai tidak suka melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya baik buat dia apalagi buat orang lain. Mulai diubahnya kebiasaan menunda dalam segala aktifitas apapun. Mulai dikelolanya waktu dengan sebaik-baiknya, mulai diubahnya gaya dia belajar dengan cara mengkombinasikan antara kemampuan visual, auditorial, dan kinestetik, lalu dia menentukan tipe mana yang sesuai dengan gaya belajarnya. “Terima kasih pak, telah memberikan pelajaran berharga,bahwa mimpi jangan hanya diucapkan saja, namun harus direalisasikan.”
Tidak terasa, mimpi-mimpi yang dulu dia tuliskan menjadi hal yang nyata di hidupnya.Mimpi terbesarnya adalah menjadi MAPRES, dan akhirnya ia pun berhasil meraihnya dengan pengorbanan yang tidak mudah. Keinginan-keinginan lain yang dulu dianggapnya hanya sekedar mimpi pun akhirnya bisa ia capai.
Dia menargetkan untuk lulus kuliah tepat 3,5 tahun. Dan sekarang tinggal menghitung hari untuk pelaksanaan wisuda.“Tidak terasa ternyata, waktu itu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku daftar ulang di Pusat Administrasi, dan beberapa hari ke dapan aku akan resmi menjadi seorang sarjana pendidikan.” Pikirnya.
***
Seiring berjalannya waktu, kesehatannya pun mulai menurun. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba pertanda penyakitnya akan kambuh mulai ia rasakan. Mukanya bengkak- bengkak begitupun dengan kaki dan tangannya. Pinggangnya mulai ia rasakan sakit yang teramat sangat. Terkadang ia merintih dengan pelan seolah tidak ingin orang lain terganggu. Tapi apa daya, sehari sebelum pelaksanaan wisuda, ia terbaring lemah diatas tempat tidurnya. Ia tidak kuat melakukan apa pun. Yang dia lakukan hanya berkomat-kamit berdzikir kepada-Nya dengan suara yang pelan. Ia tidak mau dibawa ke rumah sakit, karena ia  tidak mau merepotkan orang lain.
Akhirnya, tepat jam 03.00 WIB dia telah pergi meninggalkan alam fana ini. Ia telah berpulang menuju tempat yang semestinya. Telah tutup usianya tepat di umur yang ke 24 tahun. Hari itu adalah hari yang harusnya menjadi bahagianya, karena ia akan diwisuda juga bertepatan dengan ulang tahunnya. Namun yang terjadi ia telah tiada, meninggalkan orang-orang yang terkasih, meninggalkan kawan-kawan dekatnya, meninggalkan kampus impiannya, meninggalkan gelar yang akan ia dapatkan di hari itu .
Kini, ia pulang dengan gelar tertinggi. Ya,, Almarhum, itulah gelar yang disandangnya.
Ia adalah lulusan terbaik kala itu . Namun, ketika namanya disebut, sontak seluruh hadirin terdiam dan ada pula yang meneteskan air mata haru, air mata kehilangan, ya mereka adalah orang- orang yang pernah merasakan kebaikannya, mereka adalah orang- orang yang ketika kesulitan selalu dibantunya. Mereka kehilangan sosok itu.
Itulah mimpi yang tidak pernah ia mimpikan sebelumnya, berpulang dengan damai di hari bahagianya, berpulang dengan berbagai torehan prestasi di kampusnya, berpulang dengan penuh cinta dari orang-orang yang ada disekelilingnya, berpulang dengan tetesan air mata kehilangan, berpulang dengan lapang, berpulang dengan berjuta kenangan, berpulang dengan damai.
Ia pergi selamanya, pergi dengan asa yang digenggamnya, pergi dengan mimpi yang dibuatnya nyata.
Selamat jalan Salman, semoga kau dapat tempat yang terbaik disisi-Nya.



# Cerpen ini diikutkan pada lomba tutorial awards 2012 di Universitas Pendidikan Indonesia
Filed Under :

0 komentar for "Sebuah Gelar Terakhir"

Post a Comment

background