Menjadi anak rantau memang sungguh berat buatku. Dulu
Tahun 2011 aku sempat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto jawa
tengah. Jarak yang jauh dari rumahku memang. Aku harus berpisah dengan orang-
orang terdekat dalam hidupku. Adik, kakak, Ayah dan Ibu juga teman- temanku
dirasa sangat tidak mudah.
Ketika itu aku ditemani beberapa hari oleh ayah dan
adikku. dan ketika ayah dan adikku hendak pulang kembali ke kampung, hatiku
berat untuk melepasnya, berpisah dengan mereka. Sebenarnya aku ingin
menangis waktu itu, tapi malu juga sebenarnya. Tapi memang itu tidak bisa
dielakkan lagi, berpisah untuk kebaikanku juga.
Disana tak ada orang yang ku kenal. Beberapa hari aku
senantiasa bengong, bingung, galau, perasaan tak jelas, tidak bersemangat,
penuh kekhawatiran dan perasaan- perasaan lain yang menghantui. Ketika itu,
tidak ada gairah untuk keluar dari kamar kos. Aku hanya diam seribu bahasa di
sana. Kadang tertidur tanpa tujuan, merasa malas beraktifitas, merenung
memikirkan hal- hal negatif terkait kejadian yang diprediksi akan terjadi selama
saya disana. Pikiranku selalu menerawang memikirkan tentang OSPEK, pikiranku
selalu tertuju pada kejadian ospek yang sering ditayangkan di televisi. Oh,
saya semakin tidak bergairah. Tidak ada teman yang bisa diajak berbagi beban,
tidak ada orang tua yang bisa mendengarkan curahan kesedihanku, tidak ada adik
yang bisa aku ajak bercanda. Pokoknya aku sendiri, tidak ada tempat berbagi
kala itu. Hari- hari menjadi hampa, karena aku sendiri yang menutup diri dari
dunia luar.
Aku mencari- cari orang yang bisa kuhubungi untuk
berbagi beban itu. “Siapa ?” pikirku. Beberapa teman aku sms perihal ketiadaan
gairah untuk kuliah, aku pokoknya ingin pulang kembali ke kampung, aku tidak
betah. Dan mereka memang memberikan motivasi kepadaku. Tapi, aku tetap stagnan
pada keadaan semula, masih tetap tidak bersemangat. Lalu kukabari kakakku, dan
ayahku bahwa aku tidak bersemangat, dan untuk makanpun tidak berselera. Mereka
juga memberikan nasihat, dan motivasi agar aku bisa bangkit dan tegar, mereka
mengatakan bahwa ini kan pilihanku, memilih kuliah disana, sayang uang yang
telah dikeluarkan untuk masuk ke sana. Mereka pun mengingatkan untuk memaksakan
makan, karena apabila aku sakit, maka akan merepotkan, karena jauh dari rumah. Oh,
maafkan kak, yah, saya tetap tak bergairah. pokoknya aku ingin pulang, mendingan
aku gak kuliah aja daripada harus jauh dari kalian.
Keadaan seperti itu terjadi hingga beberapa hari. Aku berada
dalam keterpurukan tanpa motivasi melakukan aktifitas apapun. Pokoknya ketika
itu aku sangat kesepian.
***
Seiring waktu berlalu, aku berkenalan dengan teman-
teman kost ku. Namanya Adi, Radit, dan Syamsul. Mereka masing- masing dari
Bogor, Majalengka dan Purworejo. Adi adalah mahasiswa jurusan D3 Perencanaan
sumber daya lahan ( satu jurusan denganku, Alhamdulillah jadi ada yang bisa
diajak diskusi ), Radit jurusan budidaya perairan fakultas sains dan teknik sedangkan
Syamsul di jurusan Peternakan . Setelah
berkenalan dan ngobrol apa saja ternyata mereka baik juga, dan perlahan
kesepianku mulai terobati dengan adanya teman yang bisa diajak ngobrol. Mereka
memberikan pencerahan terkait OSPEK, dan memberitahukan padaku bahwa bayangan
OSPEK dibenakku gak bakalan seserem kenyataannya, mereka memberikan semangat-
semangat padaku agar jangan terlalu tegang memikirkannya.
“Alhamdulillah ya Allah Engkau telah memberikan teman-
teman yang baik untukku “
Sejak saat itu aktifitas ku mulai bisa dengan mudah
kukerjakan, makan mulai kembali berselera lagi, kadang jalan- jalan keluar
untuk melihat kampus atau keadaan sekitar. Aku mulai menyadari bahwa bisa
kuliah disini adalah sebuah anugrah dari Allah yang harus disyukuri. dan salah
satu cara mensyukurinya dalah dengan bersemangat dalam melakukan segala
aktifitas yang bisa mngembagkan potensi diri. Menyiksa badan dengan tidak makan
merupakan salah satu sikap tidak
bersyukur, dan aku mulai sadar bahwa itu tidak boleh dilakukan.
Ketika ada kegiatan semacam talkshow atau seminar
gratis, ataupun bayar dengan harga murah hampir selalu kuikuti. Aku berharap semoga
saja dengan ikutan yang seperti itu dapat mendapatkan motivasi dan inspirasi
terkait sukses di kampus dan di perantauan. dan memang benar ternyata, beberapa
talkshow menghadirkan orang- orang yang sudah sukses di kampus. Mereka ada yang
tiap semester dapat beasiswa, ada yang mendapatkan IPK 3,5 keatas, ada yang
sukses membiayai kuliah sendiri dengan jalan berwirausaha, bahkan ada yang
sudah bisa berangkat ke jepang dan inggris gara- gara aktif di Organisasi. Aku
semakin bersemangat kala itu untuk terus memperbaiki diri dan mengaktualisasikan
diri. Hal yang berkesan dari beberapa talkshow yang kuikuti adalah ketika
diputar video tentang kesuksesan seorang mahasiswa yang bisa berhasil menjadi seorang MAPRES,
bisa ke jepang, bisa mewujudkan keinginan nya, dan itu semua tak lain dan tak
bukan, yaitu berawal dari mimpi- mimpi yang ia catat rapi pada sebuah kertas. Kertas
itu lalu di tempelnya di dinding kamar kosnya. Meskipun banyak ocehan dan
celaan dari teman- temannya ia tetap tidak terpengaruh. Dan setelah beberapa
waktu ternyata satu demi satu impiannya mulai terwujud dan satu persatu pula
impiannya di kertas ia coret menandakan mimpinya sudah menjadi nyata. Subhanallah
sangat menginspirasi dan membuat semangat ku menjadi berkobar kembali.
Mulai dari saat itu, akupun langsung mengikuti langkah
sang aktor yang ada dalam video tersebut. Aku mulai menuliskan beberapa impian
yang ingin kucapai selama kuliah di sana. Satu demi satu impian mulai kutulis
dikertas, mulai dari rajin belajar, rajin membaca, rajin shalat berjama’ah,
rajin baca qur’an, dapat IPK 4, dapat beasiswa PPA, berbisnis pulsa, ikut UKM
catur, ikut UKM keislaman, deket sama dosen, banyak teman, dll. kalau tidak
salah mencapai sekitar 40 lebih impian. Lalu kutempel kertas tersebut di
dinding kamar kosku. Kupandangi kertas impian tersebut, lalu kuresapi dalam-
dalam agar aku semakin termotivasi, dan tidak hanya menjadikan impian itu hanya
sebatas tulisan saja. Aku membayangkan pencapaian- pencapaian impianku suatu
saat. Memang kala itu terbersit keraguan apakah saya mampu mewujudkan semuanya
itu. Tapi cepat- cepat ku tepis semua pikiran negatif yang merasuk ke otakku.
Selain itu untuk memotivasiku, kutulis dengan huruf yang besar “ TARGET IP
SEMESTER ini 4 “. Dengan pedenya kupajang tulisan tersebut di dekat kertas
impianku, harapanku dengan seringnya intensitas melihatnya, aku semakin
semangat untuk melakukan aksi- aksi untuk mencapainya, juga kutambahkan kata- kata mutiara yang ku
print sendiri untuk mengingatkanku di kala malas mulai menyerang. Setelah
dirasakan beberapa lama, memang cara- cara tersebut membuat efek positif
terhadap semangatku, baik itu kuliah atau menjalani hidup di rantauan sana.
Tidak berhenti sampai disana usaha ku untuk
bersungguh- sungguh mencapai impian- impian yang kutulis. Ketika ada seminar-
seminar tentang public speaking, training akademis, training kehumasan aku pun
mengikutinya, ditambah sosialiasi PKM wah aku sangat senang sekali
mengikutinya, karena salah satu mimpiku itu adalah bisa tembus PKM dan lolos
PIMNAS, pokoknya mantap banget deh
kalau bisa seperti itu.
Selain itu tidak lupa saya berkenalan dengan mahasiswa
senior yang sudah berprestasi di Kampus. Kebetulan saya bisa berkenalan dengan
seorang senior yang ternyata berasal dari daerah yang sama, hal itu semakin
membuat motivasiku menyala- nyala kala itu. Bagaimana tidak, beliau adalah
seorang mahasiswa yang yatim piatu, membiayai dirinya sendiri, karena ia tidak
lolos beasiswa. Namun setelah beberapa semester beliaupun membuktikan
bahwasannya keterbatasan finansial tidak menjadikannya lemah dalam prestasi,
bahkan sebaliknya ia bisa mengalahkan mahasiswa lain untuk meraih gelar sebagai
mahasiswa yang lulus dengan IPK tertinggi kala itu. Sebenarnya saya tidak habis
pikir, dia itu makan apa sehingga bisa seperti itu. Dia pintar beretorika, baik
hati, tidak sombong, dan ketika mendengar ceritanya waktu itu, sungguh sangat
menampar ku yang notabene masih punya orang tua yang lengkap sedangkan beliau
orang tuanya sudah tiada. Subhanallah,,, ketika kesungguhan dari seseorang
untuk meraih sesuatu maka suatu saat ia akan berhasil, dan buktinya kakak
senior saya ini.
***
Masa- masa ospek pun kujalani. Ketika itu ospek
fakultas berlangsung selama 3 hari. Ada benarnya juga pikiranku selama ini
tentang ospek itu yang identik dengan tugas- tugas yang aneh, barang- barang
yang namanya pun baru aku dengar, di tambah dengan bentakan- bentakan khas
kakak- kakak yang mengatas namakan “ TATIB “ entah apa singkatannya. oh Ospek……
Tapi Alhamdulillah ternyata apa yang ada dikepalaku tentang persepsi OSPEK
tidak seserem yang ada dibayangan. Disana kami diberikan materi- materi tentang
mahasiswa, kampus, orang- orang yang berprestasi di kampus, dosen- dosen,
fasilitas kampus, dan yang paling berkesan adalah Expo UKM- UKM dan Hima- hima
masing- masing jurusan. Dan ditambah dengan bumbu- bumbu khas ospek yaitu
atribut khas. Ketika itu fakultas kami memakai caping warna hijau, tas dari
karung yang diikat dengan tali rapia kepang, membawa alas duduk dengan asturo
warna hijau pula, pokonya mirip banget kaya seorang petani, secara fakultas
saya adalah Fakultas Pertanian.
Apabila kita bersungguh- sungguh dalam mengerjakan
sesuatu ataupun mengikuti sebuah kegiatan maka kita akan berhasil mencapai
tujuan tersebut. Syaratnya sederhana, SUNGGUH-SUNGGUH, dan pantang menyerah..
Saya teringat dengan sebuah mahfudzat yang diajarkan dulu ketika masih sekolah
agama. Man Jadda Wa jada
Siapa yang bersungguh- sungguh ia akan berhasil, mantra itu sangat mujarab sekali.
Siapa yang bersungguh- sungguh ia akan berhasil, mantra itu sangat mujarab sekali.
***
Rangkaian acara ospek pun telah selesai, dan sesuatu
yang dulu kutakutkan dan selalu menghantui pikiranku akhirnya berakhir….terima kasih atas segala saran dari ayah dan kakak
yang mengingatkanku, terima kasih juga untuk teman- teman yang memberikan
semangat terkait dengan ketakukanku kala itu, tak lupa kepada teman SMA ku
dulu,dan sekarang berjuliah di UGM, dia memberikan kata- kata kepadaku “ Fan
ikuti saja prosesnya “,, sebenarnya kata- kata itu singkat, namun memiliki
makna yang dalam. terima kasih semuanya.
***
Kuliah ternyata
jauh berbeda dengan ketika dulu di SMA. Logis juga sih ketika
sudah menjadi warga kampus maka sebutan kita bukan hanya siswa lagi, namun
MAHASISWA, artinya siswa yang benar- benar siswa. Sebuah status yang hanya bisa
disandang oleh orang- orang yang terbaik dari banyak yang baik, dan merupakan
orang- orang yang terpilih dari sekian pesaingnya. Mahasiswa memiliki tanggung
jawab lebih kepada masyarakat, yaitu merujuk kepada Tri Dharma perguruan tinggi
yaitu, pengabdian kepada masyarakat. Jadi menjadi seorang mahasiswa tugas nya
bukan hanya berlajar di kampus saja tapi harus punya kontribusi terhadapat
masyarakat.
Memang benar apa yang dikatakan oleh guru fisika di
SMA dan Ustadz di pesantrenku dulu tentang kehidupan mahasiswa. Katanya
berhati- hati lah ketika kamu sudah menjadi mahasiswa, apabila kita tidak kuat iman maka kita akan tersedot
ke dalam pusaran lingkungan mahasiswa yang jelek. Ternyata tidak semua
mahasiswa itu baik, bahkan yang tidak baik lebih banyak. Tidak sholat merupakan
hal yang lumrah bagi sebagian mahasiswa, membawa pacar ke kamar kost dianggap
biasa, bahkan melalukan hal- hal yang kurang bermanfaat merupakan kebiasaan
buruk yang dianggap baik oleh mereka . Dan waktu itu ucapan dari kedua guru ku
terbukti.
Aku harus bersungguh- sungguh menjauhi lingkungan
mereka, dan tidak boleh sampai terwarnai oleh kebiasaan buruknya. Justru aku
harus mewarnai mereka, ( pesan dari ustadzku )
kembali lagi, Man jadda wa jada.
***
“Akan kubuktikan bahwa aku bisa meraih IP 4 di
semester 1” pikirku. Lalu aku tidak boleh terus mengagung- agungkan impianku
itu tanpa melakukan sebuah aksi, aku harus bergerak dan bersemangat menjalani
setiap kegiatan perkuliahan. Tanpa kerja keras, impainku hanya akan menjadi
khayalan saja.
Hari- hari kuliah pun kulalui. Datang pagi, kadang
siang ataupun pagi hingga sore. Mulai dari duduk manis mendengarkan ocehan
dosen yang kadang- kadang membuatku mengantuk, atau praktikum yang membuatku
sibuk dengan persiapan kuis sebelumnya, atau begadang hingga malam untuk
menyelesaikan laporan praktikum, hingga membuat makalah plus presentasinya, itu
semua menjadi hal yang tidak aneh lagi ketika itu. itu semua menjadi santapan
gurih yang siap kami lahap sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian. Kami
menganggap bahwa kami lah jurusan yang paling sibuk, tapi ternyata ada jurusan
lain yang lebih sibuk dari kami yaitu diantaranya biologi dan farmasi, ternyata
mereka praktikumnya lebih ketat daripada jurusanku,,, jadi masih dikatakan
untung juga. Tak terasa sudah beberapa bulan lamanya aku tinggal disana. Dan
ternyata setelah dirasakan hidup disana itu enak juga. Apa yang membuat saya
mengatakan seperti itu ? Karena biaya hidup disana memang sangat murah. Untuk
kamar kost pertahun aja per tahun kisaran 1-2 jta untuk laki- laki dan untuk
perempuan bisa nyampe 3 juta-an, tapi enaknya kita hanya tinggal membawa
pakaian dan beberapa barang saja, sedangkan untuk tempat tidur, lemari, meja
biasanya sudah disediakan. Bandingkan saja dengan kota besar seperti Bandung
misalnya, kata temanku disana rata- rata 3 jutaan, dan itu pun kamar kosong,
wah jauh beda. Selain itu harga makanan pun relative murah, untuk sekali makan
dengan uang 3 ribu rupiah pun masih bisa. pokoknya apapun disana sangat murah,
dan itu yang perlahan menggodaku untuk semakin betah tinggal disana.
***
Salah satu impianku adalah bisa mendapatkan beasiswa
PPA ( peningkatan prestasi akademik ). Ya sebelumnya saya belum pernah mendapatkan beasiswa di
sekola dulu. Dan sekarang aku ingin membuktikan bahwa aku pun bisa seperti
orang yang lain. Dan akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Suatu saat ada
pemberitahuan tentang adanya kesempatan untuk mengikuti seleksi beasiswa
tersebut. Memang Allah SWT selalu tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh
hambanya. Target saya harus dapat pokoknya. Lalu kulihat deretan persyaratan-
persyaratan untuk mengikutinya. Syarat itu lumayan banyak, diantarnya foto kopi
KTM, KTP, foto kopi raport SMA, foto kopi rekening bank BNI cabang UNSOED, slip
gaji orang tua dan lainnya. Sebenarnya sekilas persyaratan itu relatif mudah.
Namun ada satu yang lumayan sulit, yaitu slip gaji orang tua. Saya berfikir
bagaimana caranya agar bisa ada slip gaji tersebut. Lalu ku sms ayahku bahwa
aku butuh slip gaji mamah atau ayah. Lalu apa yang terjadi ? Allah SWT selalu
orang- orang yang bersungguh- sungguh dalam melakukan sesuatu. Ternyata
beberapa hari ke depan akan ada tetangga yang datang ke Purwokerto untuk
menghadiri acara wisuda anaknya. Kebetulan sekali, akhirnya mamah saya bisa
datang kesini lewat nebeng bersama mereka. Inilah bukti bahwa Allah
selalu tahu apa yang kita mau. Ada saja jalan untuk mempermudah urusan
hambanya.
Setelah semua persyaratan terkumpul akhirnya tinggal
mengumpulkan semua berkas ke PD 3. Wah ternyata banyak sekali mahasiswa baru
yang mendaftar kala itu, hampir mencapai seratus lebih. Tapi aku senantiasa
berharap kepada Allah SWT mudah- mudahan saya termasuk deretan orang yang bisa
lolos seleksi.
Usaha pertama untuk mengeksekusi mimpi mendapat
beasiswa telah kulakukan. Untuk masalah hasil itu urusan Allah SWT, aku hanya
berikhiar semaksimal mungkin seraya berdoa’a kepada-Nya. Dan kuusahakan untuk
tidak mengingat- ingat itu semua, mudah- mudahan saja suatu saat ketika
pengumuman tiba, ada kejutan bahwa aku lulus seleksi. Aku hanya berharap
pada-Nya.
***
UTS telah kulalui, UAS pun didepan mata. Akhirnya UAS
Pertama pada semester ganjil telah berlalu. selama hampir 2 minggu kami berkutat
untuk menyelesaikan soal- soal ujian yang diberikan oleh dosen. Sulit memang,
kadang ada beberapa soal yang bisa saya jawab dan itu membuatku sangat khawatir
kalau- kalau nilaiku jadi jelek. Tapi apa boleh buat, mungkin itu kemampuanku.
Sebelumnya aku berusaha belajar hingga larut bahkan kadang hingga ketiduran dan
tau- tau adzan subuh pun berkumandang. Itulah hal- hal yang kulakukan untuk
meraih impianku mendapatkan IP 4. Selain itu UTS ku maksimalkan, agar itu
menjadi sumbangan nilai yang bisa mengatrol nilai ku di UAS jika nantinya
jelek. Terkadang aku berusaha untuk dekat dengan dosen, mudah- mudahan dengan
jalan kenal lebih dekat sang dosen bisa memberikan nilai baik padaku ( Jangan
ditiru ya ! ). Pokoknya aku sudah berjuang mengerahkan potensi ku, menghafal,
bertanya pada teman dan yang lainnya. Tapi satu hal yang belum bisa dirubah
adalah cara belajar ku yang menggunakan metode SKS ( Sistem Kebut Semalam ),
hal ini sedikit banyak bisa mempengaruhi prestasi belajar.
Perjuangan di semester ganjil itu akhirnya bisa
dibilang sudah beres. Tapi aku tidak boleh lantas menjadi malas, karena jika malas
sudah merasuk, itu bisa menjadi virus yang nantinya dapat menggerogoti semangatku.
Tidak lupa yang terpenting dari yang penting- penting
lainnya, yaitu berdo’a kepada Allah SWT, sang maha pemberi keputusan, Dialah yang
memberikan ilmu, Dialah yang bisa memudahkan semua urusan dan Dialah yang
menentukan kesuksesanku, terlebih dalam meraih IP tinggi. Pun saya meminta do’a
kepada orang tua semoga hasilnya nanti menjadi hasil yang terbaik bagi saya. Karena
do’a orang tua itu sangat ampuh.
***
Man jadda menjadi kata- kata ajaib yang bisa
diaplikasikan dalam segala urusan. ketika kita sungguh- sungguh maka akan berhasil.
Akhirnya penantian beberapa minggu lamanya membuahkan
hasil. Pengajuan beasiswaku diterima. Aku termasuk deretan orang- orang yang
lolos seleksi beasiswa PPA bersama beberapa orang di kelasku. Ya Allah terima
kasih atas karunia ini. Satu mimpi untuk mendapat beasiswa akhirnya terwujud,
dan akan segera kucoret untuk selanjutnya kuganti dengan mimpi lain yang lebih
tinggi. Total beasiswa yang didapat adalah sekitar 1,4 jt. Jumlah yang sangat
besar menurutku. Subhanallah, Allah tahu apa yang kita mau dan apa yang kita
butuhkan.
Tidak hanya itu, IP saya pun keluar dengan hasil yang
memuaskan. Meskipun tidak pas mendapatkan IP 4 tapi lumayan hampir
mendekatinya, yaitu 3,75. Terimakasih ya Robb, ternyata janjimu tidak pernah
Engkau ingkari, doa- doa ku terkabul.
Satu per satu mimpi- mimpiku tercapai. Tak akan ada
hasil tanpa ikhitiar yang sempurna dan do’a yang maksimal, itulah kunci sukses.
“Mari kita bersungguh- sungguh dalam segala hal.
Karena dengan bersungguh- sungguh maka impian kita akan semakin dekat untuk
diraih. Jangan pernah menyerah, karena ketika kita sering kali gagal,
sebenarnya kalau kita sabar tujuan kita telah dekat. Yang kurang disana adalah
kurang sabar, jadi kuncinya adalah Ikhtiar maksimal, do’a terbaik, dan sabar
serta tawakkal”. Dikutip dari kata- kata senior saya.
0 komentar for "KESUNGGUHAN MEMBUAHKAN HASIL TERBAIK"
Post a Comment