Pejuang Pemberantas
Kebodohan
Aku dulu tidak bisa membaca, menulis, dan
berhitung. Dulu aku tak ubahnya buta huruf, buta angka, buta ilmu. Namun ada
banyak pahlawan yang membebaskanku dari penjajahan ketidak bisaan itu. Seiring
waktu beranjak, perlahan aku tahu A,B,C, D sampai Z, bisa mengeja huruf demi
huruf menjadi sebuah kata yang dapat dimengerti. Terima kasih atas perjuangan
yang kalian lakukan untuk kami. Siapa sosok itu ? “ Ya dialah para guru- guru
SD, Guru SLTP, Guru SMA, Guru di Pesantren dan guru-guru kehidupan lain yang
mentransfer ilmunya tanpa pamrih”
Sungguh mulia pekerjaan yang kalian
lakukan. Teruslah mencetak generasi yang unggul melalui pengajaranmu.
Ngomong- ngomong tentang sosok seorang guru
pastinya adalah seseorang yang jiwanya sangat mulia. Guru dengan sabar
mengajari kita tentang hal yang tidak kita ketahui sebelumnya bahkan tidak
jarang mereka menyayangi kita layaknya kasih orang tua kepada anaknya dikala
kita sedang belajar di sekolah. Sudah sewajarnya kita menghormati dan mendengarkan
serta melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada kita. Jangan sampai kita malah
membangkang dan berbuat dzalim kepada mereka. Tidak ada istilah mantan guru
dalam hidup ini. Mereka sampai kapanpun akan tetap menjadi guru kita
bagaimanapun sosoknya. Yang perlu kita ambil adalah apa yang disampaikan bukan
dari mana sebuah perkataan itu keluar. Undzur Maa Qola wala tandzur man Qola
“ lihatlah apa yang dikatakan jangan lihat siapa yang mengatakan “. Ini
menunjukan betapa ilmu merupakan hal yang sangat berharga, apalagi guru
merupakan sebuah sosok yang memang memokuskan dirinya dalam mengajarkan ilmu
kepada yang membutuhkannya.
Kalian adalah pahlawan yang patut untuk
diberikan penghargaan dan apresiasi dari siapapun. Kiranya jasamu tidak akan pernah
terbalas dan mungkin sebenarnya kalianpun tidak pernah mengharapkan balasan
kecuali kesuksesan kami sebagai anak didik kalian.
Pembicaraan
dan motivasi dari kalian senantiasa membekas dalam benak ini dan menjadi cambuk
penyemangat bagi kami dalam mengarungi kehidupan dan menuntut ilmu. Terimakasih
atas segala budi baik dan pengorbanan kalian kepada kami selama ini. Pastinya
akan banyak salah dan khilaf yang kami sebagai murid kalian, akan tetapi
seorang guru pasti akan terlebih dahulu memaafkannya sebelum kami meminta maaf,
Sungguh perbuatan yang mulia. Mungkin seringkali terkadang ada benturan dalam
proses pengajaran yang tidak bisa dielakan, baik itu bentakan, nasihat,
kritikan kepada kami, namun itu semata- mata demi kemajuan kami sendiri. Maafkan
jika seringkali perbuatan seperti itu membuat kami salah paham kepada kalian. Kami
kerap kali menyangka atau menuduh yang tidak-tidak, seperti ah guru ini galak,
killer, susah untuk diajak bercanda dan perkataan-perkataan yang sebenarnya
tidak pantas untuk kami perbincangkan.
Nah, itu semua mungkin beberapa kalimat
yang ingin diutarakan terkait kebaikan dan jasa-jasa para guru baik yang
terdahulu atau yang sedang mengajari saya saat ini. Betapa budi baiknya ibarat
air yang mengalir, tak pernah berhenti.
Selanjutnya ada hal yang mengganjal dibenak
saya yang membuat saya merasa miris dengan kualitas guru saat ini. Terkadang
beberapa dari mereka sebenarnya tidak memiliki kompetensi dan keahlian untuk
menjadi seorang guru. Namun, tetap memaksakan dirinya. Ini terkait dengan
masalah iming-iming materi yang akan diterimanya dikemudian hari. Apalagi
sekarang ini profesi guru sedang naik daun, dan tentunya banyak sekali
peminatnya. Banyak diantara mereka masuk ke jurusan keguruan bukan karena
panggilan kemanusiaan untuk mendidik tapi karena terpincut materi yang akan
mereka dapat. Hal ini sungguh sangat miris. Akan banyak anak didik yang menjadi
korban dari keinginan membabi buta ini. Namun, memang kita juga tidak boleh
memukul rata semua calon guru seperti itu. Masih banyak juga orang yang
bercita-cita menjadi seorang guru karena ingin mencerdaskan generasi muda
negeri ini. Memilih profesi guru karena panggilan hati nuraninya. Nah, untuk
orang- orang yang seperti ini kita patut acungkan dua jempol untuknya.
Terlepas dari kualitas guru yang belum
sepenuhnya ideal, kita tidak boleh lantas berputus asa dengan keadaan ini. Kita
harus berpikir optimistis bahwa suatu saat nanti perlahan namun pasti kualitas
pendidikan dan kualitas pendidik di negeri ini akan berangsur membaik. Kita
sebagai cadangan pemimpin dimasa depan harus melakukan aksi nyata terkait
cita-cita besar ini. Jangan hanya berpangku tangan dan menunggu kesuksesan dan
kemajuan turun seketika dari langit. Namun, kita harus berupaya dengan usaha
yang keras untuk menggapainya. Untuk buang hajat saja kita harus pergi ke
toilet, bukan malah toilet yang berjalan menghampiri kita. Nah, kurang lebih
begitu analoginya.
Terakhir, mari kita bersama-sama mewujudkan
kualitas pendidikan di negeri ini menuju ke arah yang lebih baik.
<a href="http://www.indonesiaberkibar.org"><img src="http://indonesiaberkibar.org/sites/all/themes/images/GIB-2.jpg" style="width: 200px; height: 200px;" /></a>
0 komentar for "Pejuang Pemberantas Kebodohan"
Post a Comment