Nama :
Muhammad Irfan Ilmy
NIM :
1206179
Jurusan :
IPAI
“Tulisanku,
Pesan cintaku untuk Islam”
*Dunia Islam
Aku datang untukmu*
Tejo adalah seorang anak desa yang jauh dari Kota. Ia
terlahir 20 Tahun yang lalu disebuah perkampungan yang masih tertinggal dalam
hal pendidikan.. Ia adalah Anak kedua Dari 3 bersaudara. Namun, sebagai seorang
anak laki satu- satunya, ia harus menjadi tulang punggung keluarganya. Karena
sudah 10 Tahun ia ditinggal meninggal ayahnya. Ayahnya meninggal karena
kecelakaan lalu lintas ketika beliau akan mengunjungi Tejo yang ketika itu
sedang mesantren di salah di daerah
yang letaknya sangat jauh dari rumahnya. Tejo adalah seorang lelaki yang
bertanggung jawab. Ia dikenal berkepribadian baik dan memiliki potensi saya
pimpin yang sangat tinggi. Selain itu ia juga berwatak lembut dan rendah hati.
Meskipun ia berasal dari keluarga yang kurang mampu
dalam segi ekonomi, namun ibunya selalu menanamkan sikap untuk mencintai ilmu
kepada Tejo. Dari kecil ia diajari sendiri oleh ibunya berbagai hal, mulai dari
membaca, menulis, berhitung, sampai keterampilan berdagang. Kebetulan sang ibu
adalah seorang guru agama di SD yang ada hanya satu-satunya di kampung
tersebut. Beliau adalah salah satu pejuang pendidikan yang berusaha mati- matian
untuk mempertahankan sekolah tersebut di kampungnya.
Tejo tumbuh menjadi sosok murid cerdas dan selalu
ingin tahu hal yang menurutnya janggal ketika gurunya menjelaskan materi. Ia
aktif mengambil peran sebagai ketua dalam segala hal. Ketua Murid yang selalu
menjadi jabatan yang tidak diinginkan ( karena sering disuruh- suruh) menjadi
jabatan yang selalu ia bidik. Ia selalu membayangkan bahwa mustahil suatu saat
ia jadi pemimpin Negara kalau tidak dibiasakan sejak kecil untuk melatih jiwa
kepemimpinannya. Tidak seperti kebanyakan orang yang enggan dan risih bila
dipercaya menjadi seorang ketua, ia malah enjoy
dan menikmati perannya sebagai pemimpin di kelasnya sendiri.
Karena terkenal dengan sebagai murid cerdas, aktif,
dan berprestasi Tejo berkesempatan mendapatkan sebuah beasiswa melanjutkan SMP
ke Kota. Ia sangat senang mendengar kabar tersebut. Dan yang lebih menyenangkan
adalah yang memberitahukannya adalah ibunya sendiri, karena selain sebagai guru
agama beliau juga merangkap sebagai guru BK. Maklum saja di SD satu- satunya
itu hanya ada 5 guru yang bergantian mengajar di 6 kelas.
***
Tiba saatnya kini Tejo hijrah ke kota. Meninggalkan kampung
halamannya untuk beberapa waktu lamanya.berpisah Ibu beserta adik dan kakak
perempuannya, dan berhenti untuk senantiasa mengurus kambing- kambing
kesayangannya. Keputusan berat yang tetap harus ia ambil karena ini adalah
sebuah rangkaian proses untuk mewujudkan cita- cita terbesarnya bisa kuliah di
Al- Azhar Qairo Mesir.
Tejo berpamitan pada Ibu dan saudaranya. “Mak, Tejo
sebentar lagi berangkat, Doakan Tejo dalam setiap habis Shalat emak, semoga Tejo
bisa menjadi orang sukses kelak” pinta Tejo pada ibunya. “ Iya ndo, ibu yakin
suatu saat kamu akan jadi orang sukses. Dan Ibu pesan sama kamu ndo, jangan
lupa rajin sedekah meskipun kamu sedang sulit dan jangan tinggalkan shalat duha
dan tahajudmu! dan satu lagi ingat tujuan kamu disana untuk mencari ilmu,
janganlah tergoda dengan keindahan
kehidupan kota yang sesaat itu.” Ibu nya mengingatkan. Dan ketika ibunya
berpesan kepada Tejo, ia hanya tertunduk seraya mengaminkan setiap do’a yang
diucapkan ibunya di dalam hati, dan tidak terasa air embun kecil menetes dari
mata sayu nya.
Lalu setelah itu ia mohon pamit kepada Adik dan kakanya, “ Rin, Mba saya minta maaf bila selama ini banyak salah ke kalian, dan do’a kan tejo ya semoga selamat sampai tujuan dan bisa betah disana.” “ Kami selalu mendoakanmu” ucap keduanya hampir bersamaan.
Lalu setelah itu ia mohon pamit kepada Adik dan kakanya, “ Rin, Mba saya minta maaf bila selama ini banyak salah ke kalian, dan do’a kan tejo ya semoga selamat sampai tujuan dan bisa betah disana.” “ Kami selalu mendoakanmu” ucap keduanya hampir bersamaan.
***
Kota
itu ternyata seperti ini, banyak toko- toko, mobil berdesak- desakan di tengah
keramaian macet, asap kendaraan umum tidak henti- hentinya mengepul dan banyak
hal- hal baru yang menurutnya aneh dan baru kali ini dijumpainya. Dalam hatinya
Tejo berjanji “ Aku tidak akan tergoda oleh keindahan duniawi ini, aku akan
pulang ke kampung menjadi orang yang faham agama dan sukses, tergoda oleh
kesenangan sesaat berarti mengorbankan seluruh cita- citaku nanti “
Ketika
ia sedang merenung dengan konsentrasi penuh tiba- tiba petugas yang menjemput
Tejo pun bercakap kepadanya. “ Eh, nak siapa namamu?” “Tejo pak,,” jawab Tejo
dengan logat jawa yang kental. Beliau pun menanyakan perihal motivasinya untuk
mengambil kesempatan belajar di kota kepada Tejo. “Jo, apa sih motoivasi
terbesarmu untuk capek- capek belajar dan merelakan jauh dari orang tuamu?”.
Dengan sigap Tejo langsung menjawab pertanyaan tersebut. “ Saya berjuang
sekarang itu adalah demi cita- cita besar saya pak, ketika saya sudah pulang
nanti, dan bekal Ilmu agama saya sudah mumpuni, saya akan pulang dan mengabdi
untuk kampung saya pak, saya ingin menjadikan kampung saya yang masih
terbelakang suatu saat nanti menjadi kampung teladan dan sekaligus jadi kampung
hafidz qur’an pak, sekaligus saya ingin membuktikan bahwa orang kampung bisa
bersaing dengan orang- orang yang berasal dari kota dalam hal mencari ilmu”.”
waw, cita- cita yang sungguh mulia Jo, Bapak salut sama kamu, suatu saat nanti
ketika kamu sudah sukses jangan lupa beritahu Bapak ya Jo !”. “Siap pak” Tejo
menjawab dengan mantap.
***
Tidak
mudah perjuangan Tejo untuk meraih cita- cita dan impiannya. Di perantauannya
ketika itu, tidak jarang ia dicemoohkan oleh teman- temannya karena ngomongnya
dengan medok, dan berasal dari kampung. Tejo tidak menggubris semua perlakuan
dari sebagian temannya itu, ia hanya selalu berdo’a ketika itu karena iya yaqin
berdo’a di saat didzalimi itu doanya akan melesat cepat dan pasti diijabah. Hal
yang paling berat untuknya adalah ketika ia difitnah mencuri uang temannya. Ia
difitnah oleh temannya yang tidak suka melihat Tejo selalu menjadi Juara kelas
dan selalu mewakili sekolahnya dalam perlombaan- perlombaan.
Namun,
seiring berjalannya waktu dan keilmuannya bertambah ia semakin bijak
menghadapai perlakuan- perlakuan tidak baik seperti itu, ia menganggap itu
sebagai penggugur dosa dan jalan untuk mendewasakan diri.
***
Setelah
menunggu bertahun- tahun belajar dengan keras akhirnya Tejo pun menuai sendiri
hasilnya. Ia dinobatkan menjadi lulusan terbaik di sekolahnya sekaligus
mendapat beasiswa belajar ke Qairo hal yang merupakan impian terbesarnya
akhirnya bisa diraih. Tejo berkesempatan menyampaikan sedikit kata- kata
perpisahan kepada hadirin yang hadir saat itu. Tidak banyak yang ia sampaikan,
ia hanya berkata “ Terimakasih kepada sosok yang telah melahirkan saya dan
senantiasa do’anya tiada henti mengalun untuk keseuksesan saya, bukanlah saya
yang telah sukses tapi Ibu sayalah, beliau yang telah mendidik dan membesarkan
saya dengan motivasi- motivasi menggugah yang senantiasa ia berikan kepada
saya, Aku sayang engkau Ibu” . Hadirin sontak terharu dan banyak yang
meneteskan air mata harunya.
***
“Perjuangan
harus dilanjutkan aku tidak boleh lembek terhadap diriku, perjuangan harus
diteruskan dan tidak berhenti sampai disini, Qairo telah mengundangku untuk
belajar disana, dan masyarkat di kampungku telah menanti kehadiranku untuk
mengubahnya, hidup itu pengabdian, dan aku harus sungguh- sungguh mengabdi.
Kampungku, tunggu aku sekitar 5 tahun lagi dan akan kuubah kau dengan perantara
ilmu yang telah kumiliki” Ini adalah tulisan terakhir Tejo di buku diari
lusuhnya di akhir keberadaannya di sekolahnya. 3 Hari lagi ia akan terbang ke
Qairo untuk mewujudkan mimpinya. “ Qairo aku datang, persiapkan jamuan terbaimu
untukku “..
Tamat
0 komentar for "Aku datang untukmu"
Post a Comment