Monday, 15 October 2012

Aku datang untukmu


Nama                 :         Muhammad Irfan Ilmy
NIM                  :         1206179
Jurusan              :         IPAI

“Tulisanku, Pesan cintaku untuk Islam
*Dunia Islam
Aku datang untukmu*

Tejo adalah seorang anak desa yang jauh dari Kota. Ia terlahir 20 Tahun yang lalu disebuah perkampungan yang masih tertinggal dalam hal pendidikan.. Ia adalah Anak kedua Dari 3 bersaudara. Namun, sebagai seorang anak laki satu- satunya, ia harus menjadi tulang punggung keluarganya. Karena sudah 10 Tahun ia ditinggal meninggal ayahnya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas ketika beliau akan mengunjungi Tejo yang ketika itu sedang mesantren di salah di daerah yang letaknya sangat jauh dari rumahnya. Tejo adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab. Ia dikenal berkepribadian baik dan memiliki potensi saya pimpin yang sangat tinggi. Selain itu ia juga berwatak lembut dan rendah hati.
Meskipun ia berasal dari keluarga yang kurang mampu dalam segi ekonomi, namun ibunya selalu menanamkan sikap untuk mencintai ilmu kepada Tejo. Dari kecil ia diajari sendiri oleh ibunya berbagai hal, mulai dari membaca, menulis, berhitung, sampai keterampilan berdagang. Kebetulan sang ibu adalah seorang guru agama di SD yang ada hanya satu-satunya di kampung tersebut. Beliau adalah salah satu pejuang pendidikan yang berusaha mati- matian untuk mempertahankan sekolah tersebut di kampungnya.
Tejo tumbuh menjadi sosok murid cerdas dan selalu ingin tahu hal yang menurutnya janggal ketika gurunya menjelaskan materi. Ia aktif mengambil peran sebagai ketua dalam segala hal. Ketua Murid yang selalu menjadi jabatan yang tidak diinginkan ( karena sering disuruh- suruh) menjadi jabatan yang selalu ia bidik. Ia selalu membayangkan bahwa mustahil suatu saat ia jadi pemimpin Negara kalau tidak dibiasakan sejak kecil untuk melatih jiwa kepemimpinannya. Tidak seperti kebanyakan orang yang enggan dan risih bila dipercaya menjadi seorang ketua, ia malah enjoy dan menikmati perannya sebagai pemimpin di kelasnya sendiri.
Karena terkenal dengan sebagai murid cerdas, aktif, dan berprestasi Tejo berkesempatan mendapatkan sebuah beasiswa melanjutkan SMP ke Kota. Ia sangat senang mendengar kabar tersebut. Dan yang lebih menyenangkan adalah yang memberitahukannya adalah ibunya sendiri, karena selain sebagai guru agama beliau juga merangkap sebagai guru BK. Maklum saja di SD satu- satunya itu hanya ada 5 guru yang bergantian mengajar di 6 kelas.

***
Tiba saatnya kini Tejo hijrah ke kota. Meninggalkan kampung halamannya untuk beberapa waktu lamanya.berpisah Ibu beserta adik dan kakak perempuannya, dan berhenti untuk senantiasa mengurus kambing- kambing kesayangannya. Keputusan berat yang tetap harus ia ambil karena ini adalah sebuah rangkaian proses untuk mewujudkan cita- cita terbesarnya bisa kuliah di Al- Azhar Qairo Mesir.
Tejo berpamitan pada Ibu dan saudaranya. “Mak, Tejo sebentar lagi berangkat, Doakan Tejo dalam setiap habis Shalat emak, semoga Tejo bisa menjadi orang sukses kelak” pinta Tejo pada ibunya. “ Iya ndo, ibu yakin suatu saat kamu akan jadi orang sukses. Dan Ibu pesan sama kamu ndo, jangan lupa rajin sedekah meskipun kamu sedang sulit dan jangan tinggalkan shalat duha dan tahajudmu! dan satu lagi ingat tujuan kamu disana untuk mencari ilmu, janganlah  tergoda dengan keindahan kehidupan kota yang sesaat itu.” Ibu nya mengingatkan. Dan ketika ibunya berpesan kepada Tejo, ia hanya tertunduk seraya mengaminkan setiap do’a yang diucapkan ibunya di dalam hati, dan tidak terasa air embun kecil menetes dari mata sayu nya.
Lalu setelah itu ia mohon  pamit kepada Adik dan kakanya, “ Rin, Mba saya minta maaf bila selama ini banyak salah ke kalian, dan do’a kan tejo ya semoga selamat sampai tujuan dan bisa betah disana.” “ Kami selalu mendoakanmu” ucap keduanya hampir bersamaan.


***
Kota itu ternyata seperti ini, banyak toko- toko, mobil berdesak- desakan di tengah keramaian macet, asap kendaraan umum tidak henti- hentinya mengepul dan banyak hal- hal baru yang menurutnya aneh dan baru kali ini dijumpainya. Dalam hatinya Tejo berjanji “ Aku tidak akan tergoda oleh keindahan duniawi ini, aku akan pulang ke kampung menjadi orang yang faham agama dan sukses, tergoda oleh kesenangan sesaat berarti mengorbankan seluruh cita- citaku nanti “
Ketika ia sedang merenung dengan konsentrasi penuh tiba- tiba petugas yang menjemput Tejo pun bercakap kepadanya. “ Eh, nak siapa namamu?” “Tejo pak,,” jawab Tejo dengan logat jawa yang kental. Beliau pun menanyakan perihal motivasinya untuk mengambil kesempatan belajar di kota kepada Tejo. “Jo, apa sih motoivasi terbesarmu untuk capek- capek belajar dan merelakan jauh dari orang tuamu?”. Dengan sigap Tejo langsung menjawab pertanyaan tersebut. “ Saya berjuang sekarang itu adalah demi cita- cita besar saya pak, ketika saya sudah pulang nanti, dan bekal Ilmu agama saya sudah mumpuni, saya akan pulang dan mengabdi untuk kampung saya pak, saya ingin menjadikan kampung saya yang masih terbelakang suatu saat nanti menjadi kampung teladan dan sekaligus jadi kampung hafidz qur’an pak, sekaligus saya ingin membuktikan bahwa orang kampung bisa bersaing dengan orang- orang yang berasal dari kota dalam hal mencari ilmu”.” waw, cita- cita yang sungguh mulia Jo, Bapak salut sama kamu, suatu saat nanti ketika kamu sudah sukses jangan lupa beritahu Bapak ya Jo !”. “Siap pak” Tejo menjawab dengan mantap.

***
Tidak mudah perjuangan Tejo untuk meraih cita- cita dan impiannya. Di perantauannya ketika itu, tidak jarang ia dicemoohkan oleh teman- temannya karena ngomongnya dengan medok, dan berasal dari kampung. Tejo tidak menggubris semua perlakuan dari sebagian temannya itu, ia hanya selalu berdo’a ketika itu karena iya yaqin berdo’a di saat didzalimi itu doanya akan melesat cepat dan pasti diijabah. Hal yang paling berat untuknya adalah ketika ia difitnah mencuri uang temannya. Ia difitnah oleh temannya yang tidak suka melihat Tejo selalu menjadi Juara kelas dan selalu mewakili sekolahnya dalam perlombaan- perlombaan.
Namun, seiring berjalannya waktu dan keilmuannya bertambah ia semakin bijak menghadapai perlakuan- perlakuan tidak baik seperti itu, ia menganggap itu sebagai penggugur dosa dan jalan untuk mendewasakan diri.

***
Setelah menunggu bertahun- tahun belajar dengan keras akhirnya Tejo pun menuai sendiri hasilnya. Ia dinobatkan menjadi lulusan terbaik di sekolahnya sekaligus mendapat beasiswa belajar ke Qairo hal yang merupakan impian terbesarnya akhirnya bisa diraih. Tejo berkesempatan menyampaikan sedikit kata- kata perpisahan kepada hadirin yang hadir saat itu. Tidak banyak yang ia sampaikan, ia hanya berkata “ Terimakasih kepada sosok yang telah melahirkan saya dan senantiasa do’anya tiada henti mengalun untuk keseuksesan saya, bukanlah saya yang telah sukses tapi Ibu sayalah, beliau yang telah mendidik dan membesarkan saya dengan motivasi- motivasi menggugah yang senantiasa ia berikan kepada saya, Aku sayang engkau Ibu” . Hadirin sontak terharu dan banyak yang meneteskan air mata harunya. 

***
“Perjuangan harus dilanjutkan aku tidak boleh lembek terhadap diriku, perjuangan harus diteruskan dan tidak berhenti sampai disini, Qairo telah mengundangku untuk belajar disana, dan masyarkat di kampungku telah menanti kehadiranku untuk mengubahnya, hidup itu pengabdian, dan aku harus sungguh- sungguh mengabdi. Kampungku, tunggu aku sekitar 5 tahun lagi dan akan kuubah kau dengan perantara ilmu yang telah kumiliki” Ini adalah tulisan terakhir Tejo di buku diari lusuhnya di akhir keberadaannya di sekolahnya. 3 Hari lagi ia akan terbang ke Qairo untuk mewujudkan mimpinya. “ Qairo aku datang, persiapkan jamuan terbaimu untukku “..

Tamat








Filed Under :

0 komentar for "Aku datang untukmu"

Post a Comment

background