Thursday, 18 October 2012

KESUNGGUHAN MEMBUAHKAN HASIL TERBAIK


KESUNGGUHAN MEMBUAHKAN HASIL TERBAIK

Menjadi anak rantau memang sungguh berat buatku. Dulu Tahun 2011 aku sempat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto jawa tengah. Jarak yang jauh dari rumahku memang. Aku harus berpisah dengan orang- orang terdekat dalam hidupku. Adik, kakak, Ayah dan Ibu juga teman- temanku dirasa sangat tidak mudah.
Ketika itu aku ditemani beberapa hari oleh ayah dan adikku. dan ketika ayah dan adikku hendak pulang kembali ke kampung, hatiku berat untuk melepasnya, berpisah dengan mereka. Sebenarnya aku ingin menangis waktu itu, tapi malu juga sebenarnya. Tapi memang itu tidak bisa dielakkan lagi, berpisah untuk kebaikanku juga.
Disana tak ada orang yang ku kenal. Beberapa hari aku senantiasa bengong, bingung, galau, perasaan tak jelas, tidak bersemangat, penuh kekhawatiran dan perasaan- perasaan lain yang menghantui. Ketika itu, tidak ada gairah untuk keluar dari kamar kos. Aku hanya diam seribu bahasa di sana. Kadang tertidur tanpa tujuan, merasa malas beraktifitas, merenung memikirkan hal- hal negatif terkait kejadian yang diprediksi akan terjadi selama saya disana. Pikiranku selalu menerawang memikirkan tentang OSPEK, pikiranku selalu tertuju pada kejadian ospek yang sering ditayangkan di televisi. Oh, saya semakin tidak bergairah. Tidak ada teman yang bisa diajak berbagi beban, tidak ada orang tua yang bisa mendengarkan curahan kesedihanku, tidak ada adik yang bisa aku ajak bercanda. Pokoknya aku sendiri, tidak ada tempat berbagi kala itu. Hari- hari menjadi hampa, karena aku sendiri yang menutup diri dari dunia luar.
Aku mencari- cari orang yang bisa kuhubungi untuk berbagi beban itu. “Siapa ?” pikirku. Beberapa teman aku sms perihal ketiadaan gairah untuk kuliah, aku pokoknya ingin pulang kembali ke kampung, aku tidak betah. Dan mereka memang memberikan motivasi kepadaku. Tapi, aku tetap stagnan pada keadaan semula, masih tetap tidak bersemangat. Lalu kukabari kakakku, dan ayahku bahwa aku tidak bersemangat, dan untuk makanpun tidak berselera. Mereka juga memberikan nasihat, dan motivasi agar aku bisa bangkit dan tegar, mereka mengatakan bahwa ini kan pilihanku, memilih kuliah disana, sayang uang yang telah dikeluarkan untuk masuk ke sana. Mereka pun mengingatkan untuk memaksakan makan, karena apabila aku sakit, maka akan merepotkan, karena jauh dari rumah. Oh, maafkan kak, yah, saya tetap tak bergairah. pokoknya aku ingin pulang, mendingan aku gak kuliah aja daripada harus jauh dari kalian.
Keadaan seperti itu terjadi hingga beberapa hari. Aku berada dalam keterpurukan tanpa motivasi melakukan aktifitas apapun. Pokoknya ketika itu aku sangat kesepian.
***
Seiring waktu berlalu, aku berkenalan dengan teman- teman kost ku. Namanya Adi, Radit, dan Syamsul. Mereka masing- masing dari Bogor, Majalengka dan Purworejo. Adi adalah mahasiswa jurusan D3 Perencanaan sumber daya lahan ( satu jurusan denganku, Alhamdulillah jadi ada yang bisa diajak diskusi ), Radit jurusan budidaya perairan fakultas sains dan teknik sedangkan Syamsul di jurusan Peternakan  . Setelah berkenalan dan ngobrol apa saja ternyata mereka baik juga, dan perlahan kesepianku mulai terobati dengan adanya teman yang bisa diajak ngobrol. Mereka memberikan pencerahan terkait OSPEK, dan memberitahukan padaku bahwa bayangan OSPEK dibenakku gak bakalan seserem kenyataannya, mereka memberikan semangat- semangat padaku agar jangan terlalu tegang memikirkannya.
“Alhamdulillah ya Allah Engkau telah memberikan teman- teman yang baik untukku “

Sejak saat itu aktifitas ku mulai bisa dengan mudah kukerjakan, makan mulai kembali berselera lagi, kadang jalan- jalan keluar untuk melihat kampus atau keadaan sekitar. Aku mulai menyadari bahwa bisa kuliah disini adalah sebuah anugrah dari Allah yang harus disyukuri. dan salah satu cara mensyukurinya dalah dengan bersemangat dalam melakukan segala aktifitas yang bisa mngembagkan potensi diri. Menyiksa badan dengan tidak makan merupakan salah satu sikap  tidak bersyukur, dan aku mulai sadar bahwa itu tidak boleh dilakukan.
Ketika ada kegiatan semacam talkshow atau seminar gratis, ataupun bayar dengan harga murah hampir selalu kuikuti. Aku berharap semoga saja dengan ikutan yang seperti itu dapat mendapatkan motivasi dan inspirasi terkait sukses di kampus dan di perantauan. dan memang benar ternyata, beberapa talkshow menghadirkan orang- orang yang sudah sukses di kampus. Mereka ada yang tiap semester dapat beasiswa, ada yang mendapatkan IPK 3,5 keatas, ada yang sukses membiayai kuliah sendiri dengan jalan berwirausaha, bahkan ada yang sudah bisa berangkat ke jepang dan inggris gara- gara aktif di Organisasi. Aku semakin bersemangat kala itu untuk terus memperbaiki diri dan mengaktualisasikan diri. Hal yang berkesan dari beberapa talkshow yang kuikuti adalah ketika diputar video tentang kesuksesan seorang mahasiswa  yang bisa berhasil menjadi seorang MAPRES, bisa ke jepang, bisa mewujudkan keinginan nya, dan itu semua tak lain dan tak bukan, yaitu berawal dari mimpi- mimpi yang ia catat rapi pada sebuah kertas. Kertas itu lalu di tempelnya di dinding kamar kosnya. Meskipun banyak ocehan dan celaan dari teman- temannya ia tetap tidak terpengaruh. Dan setelah beberapa waktu ternyata satu demi satu impiannya mulai terwujud dan satu persatu pula impiannya di kertas ia coret menandakan mimpinya sudah menjadi nyata. Subhanallah sangat menginspirasi dan membuat semangat ku menjadi berkobar kembali.
Mulai dari saat itu, akupun langsung mengikuti langkah sang aktor yang ada dalam video tersebut. Aku mulai menuliskan beberapa impian yang ingin kucapai selama kuliah di sana. Satu demi satu impian mulai kutulis dikertas, mulai dari rajin belajar, rajin membaca, rajin shalat berjama’ah, rajin baca qur’an, dapat IPK 4, dapat beasiswa PPA, berbisnis pulsa, ikut UKM catur, ikut UKM keislaman, deket sama dosen, banyak teman, dll. kalau tidak salah mencapai sekitar 40 lebih impian. Lalu kutempel kertas tersebut di dinding kamar kosku. Kupandangi kertas impian tersebut, lalu kuresapi dalam- dalam agar aku semakin termotivasi, dan tidak hanya menjadikan impian itu hanya sebatas tulisan saja. Aku membayangkan pencapaian- pencapaian impianku suatu saat. Memang kala itu terbersit keraguan apakah saya mampu mewujudkan semuanya itu. Tapi cepat- cepat ku tepis semua pikiran negatif yang merasuk ke otakku. Selain itu untuk memotivasiku, kutulis dengan huruf yang besar “ TARGET IP SEMESTER ini  4 “. Dengan pedenya  kupajang tulisan tersebut di dekat kertas impianku, harapanku dengan seringnya intensitas melihatnya, aku semakin semangat untuk melakukan aksi- aksi untuk mencapainya,  juga kutambahkan kata- kata mutiara yang ku print sendiri untuk mengingatkanku di kala malas mulai menyerang. Setelah dirasakan beberapa lama, memang cara- cara tersebut membuat efek positif terhadap semangatku, baik itu kuliah atau menjalani hidup di rantauan sana.
Tidak berhenti sampai disana usaha ku untuk bersungguh- sungguh mencapai impian- impian yang kutulis. Ketika ada seminar- seminar tentang public speaking, training akademis, training kehumasan aku pun mengikutinya, ditambah sosialiasi PKM wah aku sangat senang sekali mengikutinya, karena salah satu mimpiku itu adalah bisa tembus PKM dan lolos PIMNAS,  pokoknya mantap banget deh kalau bisa seperti itu.
Selain itu tidak lupa saya berkenalan dengan mahasiswa senior yang sudah berprestasi di Kampus. Kebetulan saya bisa berkenalan dengan seorang senior yang ternyata berasal dari daerah yang sama, hal itu semakin membuat motivasiku menyala- nyala kala itu. Bagaimana tidak, beliau adalah seorang mahasiswa yang yatim piatu, membiayai dirinya sendiri, karena ia tidak lolos beasiswa. Namun setelah beberapa semester beliaupun membuktikan bahwasannya keterbatasan finansial tidak menjadikannya lemah dalam prestasi, bahkan sebaliknya ia bisa mengalahkan mahasiswa lain untuk meraih gelar sebagai mahasiswa yang lulus dengan IPK tertinggi kala itu. Sebenarnya saya tidak habis pikir, dia itu makan apa sehingga bisa seperti itu. Dia pintar beretorika, baik hati, tidak sombong, dan ketika mendengar ceritanya waktu itu, sungguh sangat menampar ku yang notabene masih punya orang tua yang lengkap sedangkan beliau orang tuanya sudah tiada. Subhanallah,,, ketika kesungguhan dari seseorang untuk meraih sesuatu maka suatu saat ia akan berhasil, dan buktinya kakak senior saya ini.  

***
Masa- masa ospek pun kujalani. Ketika itu ospek fakultas berlangsung selama 3 hari. Ada benarnya juga pikiranku selama ini tentang ospek itu yang identik dengan tugas- tugas yang aneh, barang- barang yang namanya pun baru aku dengar, di tambah dengan bentakan- bentakan khas kakak- kakak yang mengatas namakan “ TATIB “ entah apa singkatannya. oh Ospek…… Tapi Alhamdulillah ternyata apa yang ada dikepalaku tentang persepsi OSPEK tidak seserem yang ada dibayangan. Disana kami diberikan materi- materi tentang mahasiswa, kampus, orang- orang yang berprestasi di kampus, dosen- dosen, fasilitas kampus, dan yang paling berkesan adalah Expo UKM- UKM dan Hima- hima masing- masing jurusan. Dan ditambah dengan bumbu- bumbu khas ospek yaitu atribut khas. Ketika itu fakultas kami memakai caping warna hijau, tas dari karung yang diikat dengan tali rapia kepang, membawa alas duduk dengan asturo warna hijau pula, pokonya mirip banget kaya seorang petani, secara fakultas saya adalah Fakultas Pertanian.
Apabila kita bersungguh- sungguh dalam mengerjakan sesuatu ataupun mengikuti sebuah kegiatan maka kita akan berhasil mencapai tujuan tersebut. Syaratnya sederhana, SUNGGUH-SUNGGUH, dan pantang menyerah.. Saya teringat dengan sebuah mahfudzat yang diajarkan dulu ketika masih sekolah agama. Man Jadda Wa jada
 Siapa yang bersungguh- sungguh ia akan berhasil, mantra itu sangat mujarab sekali.

***
Rangkaian acara ospek pun telah selesai, dan sesuatu yang dulu kutakutkan dan selalu menghantui pikiranku akhirnya berakhir….terima kasih atas segala saran dari ayah dan kakak yang mengingatkanku, terima kasih juga untuk teman- teman yang memberikan semangat terkait dengan ketakukanku kala itu, tak lupa kepada teman SMA ku dulu,dan sekarang berjuliah di UGM, dia memberikan kata- kata kepadaku “ Fan ikuti saja prosesnya “,, sebenarnya kata- kata itu singkat, namun memiliki makna yang dalam. terima kasih semuanya.  
***
 Kuliah ternyata jauh berbeda dengan ketika dulu di SMA. Logis juga sih ketika sudah menjadi warga kampus maka sebutan kita bukan hanya siswa lagi, namun MAHASISWA, artinya siswa yang benar- benar siswa. Sebuah status yang hanya bisa disandang oleh orang- orang yang terbaik dari banyak yang baik, dan merupakan orang- orang yang terpilih dari sekian pesaingnya. Mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih kepada masyarakat, yaitu merujuk kepada Tri Dharma perguruan tinggi yaitu, pengabdian kepada masyarakat. Jadi menjadi seorang mahasiswa tugas nya bukan hanya berlajar di kampus saja tapi harus punya kontribusi terhadapat masyarakat.
Memang benar apa yang dikatakan oleh guru fisika di SMA dan Ustadz di pesantrenku dulu tentang kehidupan mahasiswa. Katanya berhati- hati lah ketika kamu sudah menjadi  mahasiswa, apabila  kita tidak kuat iman maka kita akan tersedot ke dalam pusaran lingkungan mahasiswa yang jelek. Ternyata tidak semua mahasiswa itu baik, bahkan yang tidak baik lebih banyak. Tidak sholat merupakan hal yang lumrah bagi sebagian mahasiswa, membawa pacar ke kamar kost dianggap biasa, bahkan melalukan hal- hal yang kurang bermanfaat merupakan kebiasaan buruk yang dianggap baik oleh mereka . Dan waktu itu ucapan dari kedua guru ku terbukti.
Aku harus bersungguh- sungguh menjauhi lingkungan mereka, dan tidak boleh sampai terwarnai oleh kebiasaan buruknya. Justru aku harus mewarnai mereka, ( pesan dari ustadzku )
kembali lagi, Man jadda wa jada.

***
“Akan kubuktikan bahwa aku bisa meraih IP 4 di semester 1” pikirku. Lalu aku tidak boleh terus mengagung- agungkan impianku itu tanpa melakukan sebuah aksi, aku harus bergerak dan bersemangat menjalani setiap kegiatan perkuliahan. Tanpa kerja keras, impainku hanya akan menjadi khayalan saja.
Hari- hari kuliah pun kulalui. Datang pagi, kadang siang ataupun pagi hingga sore. Mulai dari duduk manis mendengarkan ocehan dosen yang kadang- kadang membuatku mengantuk, atau praktikum yang membuatku sibuk dengan persiapan kuis sebelumnya, atau begadang hingga malam untuk menyelesaikan laporan praktikum, hingga membuat makalah plus presentasinya, itu semua menjadi hal yang tidak aneh lagi ketika itu. itu semua menjadi santapan gurih yang siap kami lahap sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian. Kami menganggap bahwa kami lah jurusan yang paling sibuk, tapi ternyata ada jurusan lain yang lebih sibuk dari kami yaitu diantaranya biologi dan farmasi, ternyata mereka praktikumnya lebih ketat daripada jurusanku,,, jadi masih dikatakan untung juga. Tak terasa sudah beberapa bulan lamanya aku tinggal disana. Dan ternyata setelah dirasakan hidup disana itu enak juga. Apa yang membuat saya mengatakan seperti itu ? Karena biaya hidup disana memang sangat murah. Untuk kamar kost pertahun aja per tahun kisaran 1-2 jta untuk laki- laki dan untuk perempuan bisa nyampe 3 juta-an, tapi enaknya kita hanya tinggal membawa pakaian dan beberapa barang saja, sedangkan untuk tempat tidur, lemari, meja biasanya sudah disediakan. Bandingkan saja dengan kota besar seperti Bandung misalnya, kata temanku disana rata- rata 3 jutaan, dan itu pun kamar kosong, wah jauh beda. Selain itu harga makanan pun relative murah, untuk sekali makan dengan uang 3 ribu rupiah pun masih bisa. pokoknya apapun disana sangat murah, dan itu yang perlahan menggodaku untuk semakin betah tinggal disana.
***
Salah satu impianku adalah bisa mendapatkan beasiswa PPA ( peningkatan prestasi akademik ). Ya sebelumnya  saya belum pernah mendapatkan beasiswa di sekola dulu. Dan sekarang aku ingin membuktikan bahwa aku pun bisa seperti orang yang lain. Dan akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Suatu saat ada pemberitahuan tentang adanya kesempatan untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut. Memang Allah SWT selalu tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh hambanya. Target saya harus dapat pokoknya. Lalu kulihat deretan persyaratan- persyaratan untuk mengikutinya. Syarat itu lumayan banyak, diantarnya foto kopi KTM, KTP, foto kopi raport SMA, foto kopi rekening bank BNI cabang UNSOED, slip gaji orang tua dan lainnya. Sebenarnya sekilas persyaratan itu relatif mudah. Namun ada satu yang lumayan sulit, yaitu slip gaji orang tua. Saya berfikir bagaimana caranya agar bisa ada slip gaji tersebut. Lalu ku sms ayahku bahwa aku butuh slip gaji mamah atau ayah. Lalu apa yang terjadi ? Allah SWT selalu orang- orang yang bersungguh- sungguh dalam melakukan sesuatu. Ternyata beberapa hari ke depan akan ada tetangga yang datang ke Purwokerto untuk menghadiri acara wisuda anaknya. Kebetulan sekali, akhirnya mamah saya bisa datang kesini lewat nebeng bersama mereka. Inilah bukti bahwa Allah selalu tahu apa yang kita mau. Ada saja jalan untuk mempermudah urusan hambanya. 
Setelah semua persyaratan terkumpul akhirnya tinggal mengumpulkan semua berkas ke PD 3. Wah ternyata banyak sekali mahasiswa baru yang mendaftar kala itu, hampir mencapai seratus lebih. Tapi aku senantiasa berharap kepada Allah SWT mudah- mudahan saya termasuk deretan orang yang bisa lolos seleksi.   
Usaha pertama untuk mengeksekusi mimpi mendapat beasiswa telah kulakukan. Untuk masalah hasil itu urusan Allah SWT, aku hanya berikhiar semaksimal mungkin seraya berdoa’a kepada-Nya. Dan kuusahakan untuk tidak mengingat- ingat itu semua, mudah- mudahan saja suatu saat ketika pengumuman tiba, ada kejutan bahwa aku lulus seleksi. Aku hanya berharap pada-Nya.
***

UTS telah kulalui, UAS pun didepan mata. Akhirnya UAS Pertama pada semester ganjil telah berlalu. selama hampir 2 minggu kami berkutat untuk menyelesaikan soal- soal ujian yang diberikan oleh dosen. Sulit memang, kadang ada beberapa soal yang bisa saya jawab dan itu membuatku sangat khawatir kalau- kalau nilaiku jadi jelek. Tapi apa boleh buat, mungkin itu kemampuanku. Sebelumnya aku berusaha belajar hingga larut bahkan kadang hingga ketiduran dan tau- tau adzan subuh pun berkumandang. Itulah hal- hal yang kulakukan untuk meraih impianku mendapatkan IP 4. Selain itu UTS ku maksimalkan, agar itu menjadi sumbangan nilai yang bisa mengatrol nilai ku di UAS jika nantinya jelek. Terkadang aku berusaha untuk dekat dengan dosen, mudah- mudahan dengan jalan kenal lebih dekat sang dosen bisa memberikan nilai baik padaku ( Jangan ditiru ya ! ). Pokoknya aku sudah berjuang mengerahkan potensi ku, menghafal, bertanya pada teman dan yang lainnya. Tapi satu hal yang belum bisa dirubah adalah cara belajar ku yang menggunakan metode SKS ( Sistem Kebut Semalam ), hal ini sedikit banyak bisa mempengaruhi prestasi belajar.
Perjuangan di semester ganjil itu akhirnya bisa dibilang sudah beres. Tapi aku tidak boleh lantas menjadi malas, karena jika malas sudah merasuk, itu bisa menjadi virus yang nantinya dapat menggerogoti semangatku.
Tidak lupa yang terpenting dari yang penting- penting lainnya, yaitu berdo’a kepada Allah SWT, sang maha pemberi keputusan, Dialah yang memberikan ilmu, Dialah yang bisa memudahkan semua urusan dan Dialah yang menentukan kesuksesanku, terlebih dalam meraih IP tinggi. Pun saya meminta do’a kepada orang tua semoga hasilnya nanti menjadi hasil yang terbaik bagi saya. Karena do’a orang tua itu sangat ampuh.

***

Man jadda menjadi kata- kata ajaib yang bisa diaplikasikan dalam segala urusan. ketika kita sungguh- sungguh maka akan berhasil.
Akhirnya penantian beberapa minggu lamanya membuahkan hasil. Pengajuan beasiswaku diterima. Aku termasuk deretan orang- orang yang lolos seleksi beasiswa PPA bersama beberapa orang di kelasku. Ya Allah terima kasih atas karunia ini. Satu mimpi untuk mendapat beasiswa akhirnya terwujud, dan akan segera kucoret untuk selanjutnya kuganti dengan mimpi lain yang lebih tinggi. Total beasiswa yang didapat adalah sekitar 1,4 jt. Jumlah yang sangat besar menurutku. Subhanallah, Allah tahu apa yang kita mau dan apa yang kita butuhkan.
Tidak hanya itu, IP saya pun keluar dengan hasil yang memuaskan. Meskipun tidak pas mendapatkan IP 4 tapi lumayan hampir mendekatinya, yaitu 3,75. Terimakasih ya Robb, ternyata janjimu tidak pernah Engkau ingkari, doa- doa ku terkabul.
Satu per satu mimpi- mimpiku tercapai. Tak akan ada hasil tanpa ikhitiar yang sempurna dan do’a yang maksimal, itulah kunci sukses.
“Mari kita bersungguh- sungguh dalam segala hal. Karena dengan bersungguh- sungguh maka impian kita akan semakin dekat untuk diraih. Jangan pernah menyerah, karena ketika kita sering kali gagal, sebenarnya kalau kita sabar tujuan kita telah dekat. Yang kurang disana adalah kurang sabar, jadi kuncinya adalah Ikhtiar maksimal, do’a terbaik, dan sabar serta tawakkal”. Dikutip dari kata- kata senior saya.  
     





      
Filed Under :

0 komentar for "KESUNGGUHAN MEMBUAHKAN HASIL TERBAIK "

Post a Comment

background